Belajar Perang Pada Lebanon
Hampir dua dasawarsa terakhir, negeri Lebanon menjadi ajang peperangan. Peperangan yang tidak saja melibatkan anak-anak negeri --ketika Lebanon terbagi dua antara kaum Kristen Falangis dan kaum Muslim-- namun negeri yang dikenal dengan sebutan kota Paris-nya Timur Tengah itu juga menjadi medan pertempuran negara-negara tetangga, seperti Israel, Palestina, serta Suriah.Peperangan selalu ada dalam jiwa mereka. Anak-anak maupun kaum perempuan yang memanggul senjata, menjadi pemandangan sehari-hari di sudut-sudut kota Beirut yang porak poranda. Bom bunuh diri pun bukan lagi menjadi berita istimewa untuk disajikan, mengingat terlalu seringnya peristiwa itu terjadi. Berita dari Lebanon selalu identik dengan peperangan, mayat, dan darah.Di tengah ingar bingar perang yang selalu mewarnai negeri itu, Lebanon menghentak komunitas persepakbolaan dunia ketika mereka menggelar Piala Asia tahun 2000 lalu. Puing-puing kota yang berserakan sisa perang, tak menghalangi pesta olahraga berlabel Piala Asia itu digelar.
Meskipun kenyataannya, Lebanon sendiri gagal mengukir prestasi manis di ajang tersebut.Kata 'perang' tampaknya lebih bisa dipahami masyarakat Lebanon dibanding sepak bola. Tak mengherankan, meskipun pelatih timnas Lebanon saat itu yang asal Kroasia, Joseb Scoblar, berhasil mendatangkan beberapa legiun asing untuk direkrut menjadi penopang timnas Lebanon, namun prestasi sepak bola mereka tetap jeblok. Kultur sepak bola di negeri Lebanon memang sangat tertinggal jika dibanding negeri-negeri tetangganya, seperi Arab Saudi, Kuwait, Iran atau bahkan jika dibandingkan dengan Indonesia sekalipun.Benarkah? Tentu saja benar. Ketika kita telah memiliki skuad yang disegani di tingkat Asia dengan bintang-bintang seperti Rony Patinasarani, Rony Paslah, Iswadi Idris ataupun almarhum Abdul Kadir, Lebanon belum ada di peta kekuatan sepak bola Asia. Setidaknya hal itu pernah terjadi sekitar tahun 70-an.Bagaimana tidak, ketika negara-negara lain mulai bangkit dengan persepakbolaannya, Lebanon masih berkutat dengan peperangan. Permainan anak-anak pun tidak jauh dari mesin-mesin perang, baik yang asli maupun yang terbuat dari plastik sekalipun. Dan, mereka terlihat asyik main perang-perangan di tengah perang sungguhan. Hanya perang, perang, dan perang yang ada dalam kehidupan mereka.Namun, peperangan dalam jiwa rakyat Lebanon, telah menghasilkan sesuatu yang produktif. Semangat 'bertempur' yang masih menggelegak berhasil disalurkan menjadi pertempuran di medan yang berbeda, salah satunya adalah sepak bola. Lebanon memang belum menjadi 'macan Asia' sepak bola seperti Arab Saudi, Iran, Jepang, atau Korea Selatan. Namun, kiprah pasukan negeri sisa perang itu setidaknya telah mejadi sandungan bagi timnas Indonesia untuk berdiri tegak di Asia.Tentu saja babak kualifikasi Pra Olimpiade pekan lalu, bisa menjadi kasus up to date untuk sekadar diperbandingkan. Lebanon yang dianggap tim 'anak bawang', berhasil menyingkirkan Yordania yang lebih memiliki kemampuan untuk bersaing dengan tim lainnya.Bahkan pasukan Lebanon yang saat ini ditukangi pelatih asal Prancis, Richard Tardi itu menjadi 'mimpi buruk' bagi timnas Indonesia ketika mereka berpesta gol 5-1 di Beirut, meskipun dalam pertandingan sebelumnya di Jakarta, mereka dikalahkan Zaenal Arif dan kawan-kawan, 1-0. Semangat 'berperang' tim Lebanon bisa jadi merupakan modal utama mereka. Harapan Lebanon untuk bisa sejajar dengan tim-tim papan atas benar-benar berusaha diwujudkan.Semangat untuk 'berperang'itulah yang mungkin telah hilang dari kubu tim Indonesia. Padahal, ketika usia kemerdekaan Indonesia sudah demikian uzur, sudah 58 tahun, setelah dijajah Belanda selama tiga setengah abad dan Jepang selama 3,5 tahun, peperangan senantiasa menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Pemberontakan PRRI/Permesta, pemberontakan DI/TII, konfrontasi dengan Malaysia, hingga penumpasan kaum-kaum separatis seperti di Papua, Timor Timur dan yang teranyar di Aceh.Bahkan kata peperangan tidak hanya klaim milik militer. Setidaknya kerusuhan Sambas, Sanggau Ledo, Ambon dan beberapa kerusuhan sipil lainnya bisa membuktikan hal itu. Namun kenyataannya, semangat bertempur yang kita miliki tidak bisa disalurkan pada hal yang lebih positif.Bukannya kita harus menghadirkan peperangan untuk membentuk satu tim yang sarat dengan semangat tempur yang meluap-luap. Cukuplah kita belajar pada 'semangat perang' pasukan sepak bola Lebanon yang nyata-nyata telah menyingkirkan kita.Setidaknya jika kita memiliki harapan, kita harus siap untuk 'berperang'. Seperti ungkapan Livius yang dikutip Niccolo Machiavelli dalam 'Il Principe': ''Bagi orang yang memang harus berperang, perang adalah adil; dan bila harapan hanya dapat diraih dengan perang, perang itupun suci.''








