<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-30584984</id><updated>2011-10-07T23:05:52.789-07:00</updated><title type='text'>deer bagja</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>dr bagja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02929520382035450628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>23</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30584984.post-9191704844250311310</id><published>2007-11-30T01:23:00.000-08:00</published><updated>2007-11-30T01:28:09.658-08:00</updated><title type='text'>Belajar Perang Pada Lebanon</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/R0_XcjtSHaI/AAAAAAAAAEA/kiwqFurVHoE/s1600-R/LELAH020806-f.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5138562585474506146" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/R0_XcjtSHaI/AAAAAAAAAEA/rszxHxLgrRg/s200/LELAH020806-f.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Hampir dua dasawarsa terakhir, negeri Lebanon menjadi ajang peperangan. Peperangan yang tidak saja melibatkan anak-anak negeri --ketika Lebanon terbagi dua antara kaum Kristen Falangis dan kaum Muslim-- namun negeri yang dikenal dengan sebutan kota Paris-nya Timur Tengah itu juga menjadi medan pertempuran negara-negara tetangga, seperti Israel, Palestina, serta Suriah.Peperangan selalu ada dalam jiwa mereka. Anak-anak maupun kaum perempuan yang memanggul senjata, menjadi pemandangan sehari-hari di sudut-sudut kota Beirut yang porak poranda. Bom bunuh diri pun bukan lagi menjadi berita istimewa untuk disajikan, mengingat terlalu seringnya peristiwa itu terjadi. Berita dari Lebanon selalu identik dengan peperangan, mayat, dan darah.&lt;br /&gt;Di tengah ingar bingar perang yang selalu mewarnai negeri itu, Lebanon menghentak komunitas persepakbolaan dunia ketika mereka menggelar Piala Asia tahun 2000 lalu. Puing-puing kota yang berserakan sisa perang, tak menghalangi pesta olahraga berlabel Piala Asia itu digelar.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Meskipun kenyataannya, Lebanon sendiri gagal mengukir prestasi manis di ajang tersebut.Kata 'perang' tampaknya lebih bisa dipahami masyarakat Lebanon dibanding sepak bola. Tak mengherankan, meskipun pelatih timnas Lebanon saat itu yang asal Kroasia, Joseb Scoblar, berhasil mendatangkan beberapa legiun asing untuk direkrut menjadi penopang timnas Lebanon, namun prestasi sepak bola mereka tetap jeblok. Kultur sepak bola di negeri Lebanon memang sangat tertinggal jika dibanding negeri-negeri tetangganya, seperi Arab Saudi, Kuwait, Iran atau bahkan jika dibandingkan dengan Indonesia sekalipun.Benarkah? Tentu saja benar. Ketika kita telah memiliki skuad yang disegani di tingkat Asia dengan bintang-bintang seperti Rony Patinasarani, Rony Paslah, Iswadi Idris ataupun almarhum Abdul Kadir, Lebanon belum ada di peta kekuatan sepak bola Asia. Setidaknya hal itu pernah terjadi sekitar tahun 70-an.Bagaimana tidak, ketika negara-negara lain mulai bangkit dengan persepakbolaannya, Lebanon masih berkutat dengan peperangan. Permainan anak-anak pun tidak jauh dari mesin-mesin perang, baik yang asli maupun yang terbuat dari plastik sekalipun. Dan, mereka terlihat asyik main perang-perangan di tengah perang sungguhan. Hanya perang, perang, dan perang yang ada dalam kehidupan mereka.Namun, peperangan dalam jiwa rakyat Lebanon, telah menghasilkan sesuatu yang produktif. Semangat 'bertempur' yang masih menggelegak berhasil disalurkan menjadi pertempuran di medan yang berbeda, salah satunya adalah sepak bola. Lebanon memang belum menjadi 'macan Asia' sepak bola seperti Arab Saudi, Iran, Jepang, atau Korea Selatan. Namun, kiprah pasukan negeri sisa perang itu setidaknya telah mejadi sandungan bagi timnas Indonesia untuk berdiri tegak di Asia.Tentu saja babak kualifikasi Pra Olimpiade pekan lalu, bisa menjadi kasus up to date untuk sekadar diperbandingkan. Lebanon yang dianggap tim 'anak bawang', berhasil menyingkirkan Yordania yang lebih memiliki kemampuan untuk bersaing dengan tim lainnya.Bahkan pasukan Lebanon yang saat ini ditukangi pelatih asal Prancis, Richard Tardi itu menjadi 'mimpi buruk' bagi timnas Indonesia ketika mereka berpesta gol 5-1 di Beirut, meskipun dalam pertandingan sebelumnya di Jakarta, mereka dikalahkan Zaenal Arif dan kawan-kawan, 1-0. Semangat 'berperang' tim Lebanon bisa jadi merupakan modal utama mereka. Harapan Lebanon untuk bisa sejajar dengan tim-tim papan atas benar-benar berusaha diwujudkan.Semangat untuk 'berperang'itulah yang mungkin telah hilang dari kubu tim Indonesia. Padahal, ketika usia kemerdekaan Indonesia sudah demikian uzur, sudah 58 tahun, setelah dijajah Belanda selama tiga setengah abad dan Jepang selama 3,5 tahun, peperangan senantiasa menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Pemberontakan PRRI/Permesta, pemberontakan DI/TII, konfrontasi dengan Malaysia, hingga penumpasan kaum-kaum separatis seperti di Papua, Timor Timur dan yang teranyar di Aceh.Bahkan kata peperangan tidak hanya klaim milik militer. Setidaknya kerusuhan Sambas, Sanggau Ledo, Ambon dan beberapa kerusuhan sipil lainnya bisa membuktikan hal itu. Namun kenyataannya, semangat bertempur yang kita miliki tidak bisa disalurkan pada hal yang lebih positif.Bukannya kita harus menghadirkan peperangan untuk membentuk satu tim yang sarat dengan semangat tempur yang meluap-luap. Cukuplah kita belajar pada 'semangat perang' pasukan sepak bola Lebanon yang nyata-nyata telah menyingkirkan kita.Setidaknya jika kita memiliki harapan, kita harus siap untuk 'berperang'. Seperti ungkapan Livius yang dikutip Niccolo Machiavelli dalam 'Il Principe': ''Bagi orang yang memang harus berperang, perang adalah adil; dan bila harapan hanya dapat diraih dengan perang, perang itupun suci.''&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30584984-9191704844250311310?l=kadupakhalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/feeds/9191704844250311310/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30584984&amp;postID=9191704844250311310' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/9191704844250311310'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/9191704844250311310'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/2007/11/belajar-perang-pada-lebanon.html' title='Belajar Perang Pada Lebanon'/><author><name>dr bagja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02929520382035450628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/R0_XcjtSHaI/AAAAAAAAAEA/rszxHxLgrRg/s72-c/LELAH020806-f.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30584984.post-8157051581682344284</id><published>2007-11-13T22:27:00.000-08:00</published><updated>2007-11-13T22:30:00.545-08:00</updated><title type='text'>Sarkawi dan korupsi</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/RzqVl0U-YOI/AAAAAAAAADE/cokVaBTUiX0/s1600-h/kkn.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5132579202276417762" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/RzqVl0U-YOI/AAAAAAAAADE/cokVaBTUiX0/s200/kkn.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Sambil mengernyitkan kening, Sarkawi tak henti-hentinya membolak-balik halaman sebuah surat kabar. Meski bukan kebiasaannya membaca surat kabar seperti layaknya yang dilakukan orang-orang pangkat ataupun penggede di desanya, namun pagi itu dia melakukan ritual yang tak pernah dilakukan sebelumnya; Membaca Koran!&lt;br /&gt;Rasa penasarannya tiba-tiba timbul ketika orang-orang di desanya ramai membicarakan korupsi. Sebagai orang dusun yang hanya tamatan kelas tiga sekolah rakjat, kata itu masih terdengar asing baginya, meski secara sederhana dia mengerti maksudnya.&lt;br /&gt;Ketika dia berusaha mencari keterangan tentang apa dan siapa yang melakukan korupsi, maka orang-orang sekampungnya pun hampir dengan seragam menjawab, ”baca dong koran.”&lt;br /&gt;Dengan menyisihkan uang rokok yang dikumpulkannya selama tiga hari, pagi-pagi betul Sarkawi pun bergegas membeli selembar koran. Meski harus mendatangi pasar dekat kantor kecamatan yang jaraknya lumayan jauh dari rumahnya, hal itu tidak menjadi halangan baginya. Asal rasa penasarannya terjawab, itu sudah cukup membayar segala pengorbanannya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dipilihnya surat kabar dengan gambar-gambar yang menarik dan warna yang menyolok. Dan, Sarkawi pun menikmati lembaran demi lembaran koran yang dibelinya ditemani secangkir kopi tubruk dan sepiring singkong rebus. Hari itu, sengaja dia meliburkan diri dari kegiatannya menyiangi kebun singkongnya hanya untuk mencari tahu soal apa dan siapa yang korupsi.&lt;br /&gt;Ditelitinya halaman pertama, dengan cara membaca yang masih terbata-bata, dia menemukan judul yang ditulis dengan huruf kapital besar-besar: 'Direktur Bank Anu Ditahan Karena Terlibat Korupsi'.&lt;br /&gt;Lalu dia pun membuka lembar berikutnya, dan menemukan judul 'Bupati Anu diduga Terkait Korupsi Dana Anu', di lembar selanjutnya dia pun menemukan, 'Anggota Komisi Anu Terbukti Korupsi,' di tengah kebingungannya yang membuat keningnya semakin berkerut, bertubi-tubi mata Sarkawi tertumbuk pada judul-judul, 'Calon Walikota Anu Dilaporkan ke KPUD Karena Korupsi,' Direktur Koperasi Anu dituntut 20 tahun Terkait Masalah Korupsi, 'Komandan Satuan Anu Dicurigai Melakukan Korupsi Dana Bantuan Anu,' 'Pengasuh Pondok Pesantren Anu Dilaporkan Santrinya Soal Korupsi,' dan judul-judul lainnya yang tak pernah tidak menyertakan kata korupsi.&lt;br /&gt;Tiba-tiba dada Sarkawi terasa sesak. Dia pun ingin terbebas dari kata yang membuatnya pusing tujuh keliling. Dengan perlahan, dia mencoba membuka halaman olahraga yang menurutnya, bisa jadi ini halaman yang terbebas dari kata korupsi. Dibaliknya koran di genggamannya dan meneliti halaman terakhir surak kabar tersebut. Matanya pun langsung tertuju pada judul berita: “Pengurus PB Anu Diduga Melakukan Korupsi Dana Bantuan Atlet.”&lt;br /&gt;Sarkawi pun menarik napas dalam-dalam. Diseruputnya kopi yang nyaris dingin karena sejak tadi tak tersentuh. Rasanyapun terasa hambar, tidak senikmat seperti hari-hari sebelumnya, seperti ketika dia sama sekali tidak tahu menahu soal korupsi.&lt;br /&gt;Ada penyesalan di dada Sarkawi. Hanya gara-gara rasa penasaran yang membuncah, dia akhirnya membeli koran untuk mencari tahu apa dan siapa yang melakukan korupsi. Akibat yang timbul pun tak dia duga. Ternyata banyak tahu tentang segala hal tidak selalu lebih baik dari tidak tahu sama sekali.&lt;br /&gt;Bagi Sarkawi, hal itu telah merusak hari-harinya dari detik ini hingga mendatang. Kata korupsi yang menyesaki benaknya, benar-benar membuatnya hidup dalam ketidaknyamanan.&lt;br /&gt;Dia pun mulai dihinggapi rasa curiga. Pikirannya yang tadinya tak pernah berburuk sangka terhadap orang lain, kini mulai berubah. Bagaimanapun, paparan koran yang dibelinya yang menggambarkan semua lapisan telah melakukan praktek-praktek korupsi, membuat dia mulai menduga-duga.&lt;br /&gt;Ketika Wak Haji Badrun meminta dana shodaqoh mushola yang biasa diedarkan melalui kenclengan saat sholat Isya berjamaah, pikiran pertama yang hinggap dalam kepala Sarkawi adalah, jangan-jangan Wak Haji juga menggelapkan dana kencleng tersebut.&lt;br /&gt;Ketika Mak Rodiah menagih utang bekas dia ngopi-ngopi di warungnya, Sarkawi pun curiga, jangan-jangan dana yang ditagihkan digelembungkan.&lt;br /&gt;Pun demikian halnya ketika pak RT membicarakan soal dana patungan untuk memperbaiki saluran air yang rusak, Sarkawi berpikir, jangan-jangan dananya nanti akan diselewengkan.&lt;br /&gt;Bahkan ketika seorang pembeli singkong goreng dangangannya merelakan uang kembaliannya kepada Sarkawi, Sarkawi menggangap, jangan-jangan orang itu tengah melakukan penyuapan.&lt;br /&gt;Segala macam kecurigaan terus membayangi pikiran Sarkawi. Efek surat kabar yang dibacanya benar-benar luar biasa. Dia kini tidak mempercayai siapapun, terutama jika berurusan dengan uang.&lt;br /&gt;Hal yang lebih parah lagi, Sarkawi kini tidak lagi mempercayai istrinya sendiri. Ketika istrinya Sutini meminta jatah untuk belanja, bak seorang petugas KPK yang tengah melakukan interogasi, Sarkawi dengan teliti meminta perincian apa saja yang akan dibeli Sutini. Jika Sutini menyertakan jengkol dalam daftar pembeliannya, Sarkawi pun dengan sigap menanyakan apakah itu untuk keperluan semua orang di rumahnya atau hanya keperluan pribadi. Segala macam tetek bengek dilakukan Sarkawi hanya untuk menghindarkan praktek-praktek korupsi terjadi di rumahnya. Dia pun akan selalu melakukan audit setiap Sutini pulang berbelanja dari pasar. Tentu saja semua itu membuat Sutini mutung. Buntutnya, Sarkawi dipersilahkan tidur di ruang tamu untuk beberapa malam kedepan dan berbelanja serta memasak sendiri. Semua itu terjadi gara-gara kata 'korupsi'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30584984-8157051581682344284?l=kadupakhalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/feeds/8157051581682344284/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30584984&amp;postID=8157051581682344284' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/8157051581682344284'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/8157051581682344284'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/2007/11/sarkawi-dan-korupsi.html' title='Sarkawi dan korupsi'/><author><name>dr bagja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02929520382035450628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/RzqVl0U-YOI/AAAAAAAAADE/cokVaBTUiX0/s72-c/kkn.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30584984.post-4675574778781624879</id><published>2007-11-13T22:20:00.000-08:00</published><updated>2007-11-13T22:26:39.911-08:00</updated><title type='text'>Profesionalisme amatiran</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/RzqUq0U-YNI/AAAAAAAAAC8/PeTxmravo5w/s1600-h/amatir.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5132578188664135890" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/RzqUq0U-YNI/AAAAAAAAAC8/PeTxmravo5w/s200/amatir.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Di dunia olahraga kita mengenal dua jalur, amatir dan profesional. Ketika jalur amatir lebih menitikberatkan pada pembinaan si atlet dan cabang olahraga itu sendiri, dunia profesional lebih mengarah pada bisnis yang bisa menjadi pegangan hidup si atlet. Tidak mengherankan jika jalur profesional selalu menjadi tujuan akhir para atlet di manapun di planet bumi ini.&lt;br /&gt;Jalur profesional memang begitu menjanjikan. Sederet contoh untuk itu terpampang cukup nyata. Para pemain profesional baik itu di bidang tenis, basket, sepak bola, tinju maupun cabang olahraga lainnya bisa hidup layak dari uang yang dihasilkannya. Bahkan, tak sedikit para olahragawan yang hidup bak jutawan. Dengan kepopuleran dan kekayaan yang dimiliki, mereka bisa berdiri sejajar dengan para pesohor dari dunia lainnya.&lt;br /&gt;Sentuhan profesionalisme di dunia olahraga memang telah menjadikan ajang ini sebagai bisnis hiburan yang melibatkan uang yang sukar dibayangkan. Bagaimana seorang Andre Agassi bisa mondar-mandir dengan pesawat jet pribadinya, David Beckham bisa membanggakan istana bernilai jutaan poundsterling dan sederet bintang olahraga lainnya yang bisa hidup di tengah kemewahan bagaikan keluarga Onasis.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya di negeri lainnya, sentuhan profesionalisme juga merambah dunia olahraga di Indonesia. Meski belum membuat para atletnya menjadi jutawan tingkat dunia, namun setidaknya mereka bisa hidup layak dengan segala kemewahan yang dimilikinya.&lt;br /&gt;Mungkin pada tahun 70 hingga akhir 80-an, sukar membayangkan ada atlet yang bisa hidup dengan gelimang kemewahan. Jangankan untuk membeli barang-barang mewah, untuk mencukupi kebutuhan hidup saja mereka masih harus berpikir keras.&lt;br /&gt;Tapi saat ini, bisa dilihat bagaimana Taufik Hidayat bisa bergonta-ganti mobil sport mewahnya kapan dia suka. Juga pemain sepak bola Kurniawan Dwi Julianto yang bisa menghasilkan uang ratusan juta dalam setahun hanya dari kepiawaiannya mengolah si kulit bundar. Saat ini, atlet-atlet yang bisa menikmati hidup seperti Taufik dan Kurniawan di Indonesia sudah tidak bisa lagi dihitung dengan jari. Semua itu karena di ajang profesional, olahraga semata-mata merupakan bisnis murni.&lt;br /&gt;Seperti dunia bisnis lainnya, selalu ada aturan main untuk menjaga hubungan agar tetap saling menguntungkan. Segalanya diatur dengan perjanjian kontrak tertulis yang berkekuatan hukum dan benar-benar ditata secara profesional.&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana di ajang olahraga profesional kasus seperti yang menimpa juara dunia kelas bulu versi WBA Chrisjohn dan manajer sekaligus pelatihnya, Mukhlis Sutan Rambing sampai bisa terjadi?&lt;br /&gt;Kasus perselisihan antara Chrisjohn dan Sutan Rambing belakangan memang banyak menyita perhatian publik dan menghiasai pemberitaan media-media nasional. Bahkan perseteruan antara 'guru dan murid' menyangkut soal perjanjian kontrak tersebut nyaris mengancam kelangsungan karir Chrisjohn sendiri.&lt;br /&gt;Perselisihan di antara keduanya dipicu ketika Chrisjohn dianggap melakukan wanprestasi terhadap perjanjian kontrak dengan memutus secara sepihak. Padahal, juara dunia dari sasana Bank Buana Semarang itu memiliki keterikatan kontrak dengan manajernya hingga tahun 2007 mendatang.&lt;br /&gt;Alasan Chrisjohn melakukan pengingkaran karena menurutnya kontrak yang disepakatinya dulu terlalu memberatkan dirinya. Salah satu poin yang paling memberatkan petinju yang juga atlet wushu nasional itu adalah pembagian 50-50 dari semua penghasilan Chrisjohn baik itu dari hasil pertandingan maupun kontrak iklan.&lt;br /&gt;Dengan alasan itu, Chrisjohn hengkang dari sasana Bank Buana dan pindah ke sasana Herry's Gym di Perth Australia, milik Craig Christian yang saat ini menjadi pelatihnya.&lt;br /&gt;Namun satu hal yang perlu digarisbawahi adalah, persoalan itu tiba-tiba muncul setelah Chrisjohn merebut gelar juara dunia usai mengalahkan petinju Jepang Osamo Sato pada 4 Juni 2004 lalu sebelum akhirnya mempertahankan gelar dari penantangnya petinju Kolumbia Jose Rojas pada 4 Desember tahun lalu.&lt;br /&gt;Seiring dengan prestasinya, kepopuleran Chrisjohn pun merangkak. Kontrak menjadi bintang iklan yang mungkin selama ini tidak pernah dia impikan, berhasil dia dapatkan. Tentu saja hal itu berpengaruh besar pada pundi-pundi uangnya.&lt;br /&gt;Dari sinilah benih-benih perselisihan dimulai. Artinya, persoalan mulai muncul ketika petinju tersebut mulai 'melek' terhadap uang yang dihasilkan yang kenyataannya tidak sedikit.&lt;br /&gt;Mungkin alasan Chrisjohn sendiri bisa dipahami, mengingat dia menjadi subyek utama dari pengumpulan rupiah yang dihasilkannya. Terlebih lagi, setidaknya menurut pemikiran Chrisjohn, uang hasil kontrak iklan itu benar-benar murni hasil kerja dirinya dan tidak melibatkan orang lain.&lt;br /&gt;Hanya saja apapun alasan Chrisjohn, faktanya dia telah memiliki kontrak yang dengan sadar dia tandatangani hingga tahun 2007 mendatang. Artinya, dia telah menyetujui klausul-kalusul yang ada dalam perjanjian kontrak tersebut yang disahkan secara hukum.&lt;br /&gt;Bisa jadi, saat itu Chrisjohn tidak berpikir akan menghasilkan uang yang banyak, sehingga dengan entengnya dia membubuhkan tanda tangan dalam perjanjian yang belakangan dia klaim terlalu memberatkan dirinya.&lt;br /&gt;Persoalan terus berlanjut. Sutan Rambing pun mengancam akan membawa masalah itu ke pengadilan sebelum petarungan mantan anak didiknya dengan petinju AS Derrick Gainner digelar. Ancaman Sutan Rambing tentu bisa berakibat fatal bagi karir Chrisjohn, mengingat jika hal itu sampai ke meja pengadilan, gelar juara Chrisjohn terancam dicopot.&lt;br /&gt;Untuk menyelamatkan pertandingan serta Chrisjohn sebagai asset bangsa, perundingan di antara kedua pihak yang bertikai pun digelar. Kesepakatannya, Sutan berhak menerima dana kompensasi sebesar 400 juta rupiah dari pihak Chrisjohn, meski pembayarannya sempat terhambat dengan kekeraskepalaan sang juara dunia.&lt;br /&gt;Kasus tersebut sebenarnya tidak perlu terjadi jika semua pihak benar-benar bersikap secara profesional. Di satu pihak, Chrisjohn sebagai pihak kedua yang telah setuju dengan perjanjian kontrak yang dia tandatangani, tidak seharusnya melakukan pengingkaran justru ketika kebintangannya mulai bersinar.&lt;br /&gt;Di pihak lain, Sutan Rambing sebagai pihak pertama juga selaykanya membeberkan segala kemungkinan yang akan terjadi pada Chrisjohn termasuk jika dia mampu merebut gelar juara dunia dengan penghasilan yang cukup besar, sebelum penandatangan kontrak terjadi. Sehingga, tidak ada yang merasa dibohongi ataupun dikhianati di kemudian hari.&lt;br /&gt;Kasus-kasus ketidakprofesionalan di ajang olahraga profesional Indonesia bukan hanya masalah Chrisjohn. Di ajang sepak bola Liga Indonesia yang mulai ditata dengan profesional sejak tahun 1994, banyak sekali terjadi hal-hal yang kurang profesional.&lt;br /&gt;Masalah teranyar terjadi ketika PSSI sebagai penyelenggara Liga yang disponsori produsen rokok ternama harus kelimpungan ketika tiga klub di antaranya telah mengikat kontrak dengan sponsor lain dengan produk serupa.&lt;br /&gt;Tentu saja PSSI sudah seharusnya bisa mengantisipasi hal-hal seperti ini sebelumnya. Andai saja induk organisasi sepak bola itu bisa bekerja lebih profesional dengan mampu menggaet sponsor jauh sebelum musim kompetisi Liga digelar, tentu klub-klub tidak akan berani melakukan negosiasi dengan sponsor yang memiliki produk serupa.&lt;br /&gt;Yang terjadi adalah, ketika klub-klub sudah mampu mendapat sponsornya sendiri jauh-jauh hari, PSSI baru belakangan menggaet sponsor hanya satu minggu sebelum kompetisi digelar.Belajar dari dua kasus di atas, bisa jadi inilah yang dinamakan profesionalisme amatiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30584984-4675574778781624879?l=kadupakhalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/feeds/4675574778781624879/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30584984&amp;postID=4675574778781624879' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/4675574778781624879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/4675574778781624879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/2007/11/profesionalisme-amatiran.html' title='Profesionalisme amatiran'/><author><name>dr bagja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02929520382035450628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/RzqUq0U-YNI/AAAAAAAAAC8/PeTxmravo5w/s72-c/amatir.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30584984.post-5744689004743586802</id><published>2007-11-13T22:16:00.000-08:00</published><updated>2007-11-13T22:20:44.719-08:00</updated><title type='text'>The sickman of ..........ASEAN</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/RzqTbkU-YMI/AAAAAAAAAC0/84y90bcZUY8/s1600-h/soekarno+lg.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5132576827159503042" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/RzqTbkU-YMI/AAAAAAAAAC0/84y90bcZUY8/s200/soekarno+lg.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Jika kita merunut jauh ke belakang, sejarah pernah mencatat, negara Republik Indonesia menjadi salah satu negeri yang diperhitungkan di masa kepemimpinan Presiden Soekarno. Gaya kepemimpinan dan retorika yang dimiliki Bung Karno -begitu pahlawan proklamator itu akrab disapa-, telah menghipnotis dunia.&lt;br /&gt;Meski Indonesia masih carut marut sebagai negeri yang baru lepas dari kungkungan kolonialisasi, namun republik ini benar-benar mampu berdiri sama tinggi dengan negeri-negeri lainnya. Di tengah centang perenangnya himpitan ekonomi dan sosial yang mendera, secara politis Indonesia begitu kokoh di mata dunia.&lt;br /&gt;Bahkan dalam satu kunjungannya ke Amerika Serikat, Bung Karno berani menunjuk hidung Presiden John F Kennedy yang saat itu menjadi icon negara super power planet bumi ini.&lt;br /&gt;Gaya kepemimpinan Soekarno yang progresif dan meledak-ledak, membuat negeri ini begitu menonjol. Ketika negara-negara baru lainnya tunduk pada dua kekuatan besar dunia, Uni Sovyet di blok Timur dan Amerika serikat di blok Barat, Indonesia mampu menjadi pemrakarsa gerakan baru dengan digelarnya konferensi Asia-Afrika pada tahun 1955 silam.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Konferensi yang menghasilkan Dasa Sila Bandung itu menjadi cikal bakal gerakan non blok yang benar-benar menempatkan Indonesia dalam posisi strategis peta politik dunia.&lt;br /&gt;Surutnya kepemimpinan Soekarno diganti dengan era Presiden Soeharto. Meski tidak seprogresif Soekarno, Soeharto yang dikalangan luar negeri dikenal dengan sebutan The Smiling General, masih mampu menempatkan Indonesia di tempat terhormat.&lt;br /&gt;Sebagai negara besar di kawasan Asia, Indonesia begitu dipandang. Politik luar negeri bebas aktif yang dianut negeri ini, membuat Indonesia bisa begitu lincah menjalin hubungan. Selain itu, sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia juga mendapat tempat di negeri-negeri dengan komunitas serupa.&lt;br /&gt;Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia menjadi salah satu the founding father organisasi negara-negara Asia Tenggara (ASEAN). Senioritas kepemimpinan Soeharto -terlepas dari segalam macam persoalan yang mendera di dalam negeri-, telah membuat Indonesia menjadi rujukan bagi negeri-negeri tetangga lainnya, baik di bidang politik, ekonomi maupun keamanan.Bisa dikatakan, dalam kepemimpinan dua presiden pertama tersebut, harga diri bangsa ini terjaga dengan utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30584984-5744689004743586802?l=kadupakhalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/feeds/5744689004743586802/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30584984&amp;postID=5744689004743586802' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/5744689004743586802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/5744689004743586802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/2007/11/sickman-of-asean.html' title='The sickman of ..........ASEAN'/><author><name>dr bagja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02929520382035450628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/RzqTbkU-YMI/AAAAAAAAAC0/84y90bcZUY8/s72-c/soekarno+lg.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30584984.post-4196436896040500539</id><published>2007-11-13T22:11:00.000-08:00</published><updated>2007-11-13T22:16:15.641-08:00</updated><title type='text'>Singkong Sarkawi</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/RzqSIEU-YLI/AAAAAAAAACs/23bgPj0EqNM/s1600-h/singkong.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5132575392640426162" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/RzqSIEU-YLI/AAAAAAAAACs/23bgPj0EqNM/s200/singkong.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Gara-gara singkong, hampir tiga mingguan lebih Sarkawi tidak bertegur sapa dengan tetangga dekatnya Marzuki. Sarkawi merasa dikhianati, merasa dilecehkan dan merasa diinjak-injak harga dirinya oleh tetangga yang telah dianggapnya lebih dari sahabat kental itu.&lt;br /&gt;Baru kali ini Sarkawi merasa memiliki energi untuk memompa kebencian yang berlebih terhadap orang lain. Dan yang membuat dia sedih, mengapa hal itu harus ditujukan pada Marzuki yang nota bene adalah teman bermainnya sejak kecil hingga sama-sama tua dan beranak pinak.&lt;br /&gt;Bisa jadi, kebencian itu semakin menjadi karena Marzuki selama ini sudah dianggapnya seperti saudara sendiri. Atau bisa jadi juga, amarah yang menderanya merupakan akumulasi dari berbagai persoalan kecil yang sempat terjadi di antara mereka. Kemungkinan lainya, kondisi Sarkawi yang tengah morat-marit akibat usaha singkong gorengnya agak seret, membuat dirinya begitu sensitif dan bersumbu pendek.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kebencian Sarkawi dimulai ketika Marzuki dengan semena-semena mencabut pohon singkong -yang merupakan mata pencaharian utamanya- di wilayah perbatasan antara rumah keduanya. Tanpa ba-bi-bu, Marzuki melibas pohon-pohon singkong Sarkawi untuk mendirikan pagar tembok rumahnya yang mulai dibangun dengan permanen.&lt;br /&gt;Sejak anak Marzuki merantau ke Jakarta, sedikit demi sedikit Marzuki bisa membangun rumahnya dengan tembok yang tampak terlihat kokoh. Ini sangat berbeda dengan rumah Sarkawi yang masih berdidinding bambu anyam dengan atap rumbia dan...tentu saja bocor di mana-mana jika hujan deras mendera.&lt;br /&gt;Akibat dari tindakan Marzuki tersebut, Sarkawi pun naik pitam. Baginya, tindakan Marzuki tidak bisa lagi ditolerir. Belum lagi omongan dari tetangga lainnya, teman ngopi di warung Mak Rodiah, yang semakin membuat hatinya panas.&lt;br /&gt;Dari hari ke hari, Sarkawi semakin tidak bisa menguasai diri. Hampir setiap pagi Sarkawi dengan demonstratif mengasah golok -yang biasa dipakai untuk memotong singkongnya-, tepat di wilayah sengketa. Bagi Sarkawi, sudah jelas, singkong itu miliknya dan ditanam di tanah warisan bapaknya, tentu saja hal itu harus dipertahankan meski harus beradu golok sekalipun.&lt;br /&gt;Tak jarang pula Sarkawi berteriak-teriak menantang Marzuki untuk menyelesaikan masalah itu dengan adu otot. Tentu saja dengan badan jauh lebih besar dan berotot, bukan hal sulit bagi Sarkawi untuk memukul jatuh Marzuki yang berbadan kurus dan bertubuh kecil itu.&lt;br /&gt;Tapi Marzuki sendiri tampaknya tak acuh dengan segala macam tantangan dan unjuk kekuatan yang dilakukan Sarkawi. Ketika Sarkawi mulai berkoar-koar menantang dirinya, dia lebih banyak memilih diam di dalam rumah dan melanjutkan minum kopi jahenya. Seperti tak ada apapun yang terjadi.&lt;br /&gt;Namun di kepala kecilnya yang berotak besar, Marzuki sibuk memikirkan langkah-langkah yang harus diambilnya untuk memenangkan sengketa tersebut.&lt;br /&gt;Bahkan setiap para tetangga menanyakan masalah sengketa batas pekarangan rumah antara dirinya dengan Sarkawi, Marzuki dengan lugas mengatakan; “Biarlah masalah ini diselesaikan oleh pak RT. Kami kan dua orang tua yang bisa duduk berhadapan untuk saling bicara.”&lt;br /&gt;Berkali-kali Marzuki menjelaskan hal itu pada para tetangga lainnya, bahwa dia lebih memilih musyawarah untuk menyelesaikan masalah tersebut, tinimbang harus beradu badan yang menurutnya tidak pantas lagi dilakukan dua orang tua seperti mereka.&lt;br /&gt;“Saya bisa maklum dengan apa yang dilakukan saudara saya Sarkawi. Terlalu banyak masalah yang dia alami akhir-akhir ini, termasuk soal usahanya yang semakin seret. Tapi saya yakin dia masih bisa diajak bicara untuk menyelesaikan masalah ini.” Selalu kalimat-kalimat seperti itu yang diucapkan Marzuki kepada para tetangga, dengan sikap yang rendah hati pula.&lt;br /&gt;Tentu saja simpati para tetangga mengalir deras pada Marzuki. Terlepas dari persoalan awal yang memicu sengketa tersebut, namun sikap Marzuki yang jauh lebih luwes dan tampak terpelajar, membuat dirinya mendapat dukungan dari tetangga lainnya.&lt;br /&gt;Di luar semua itu, Marzuki yang otaknya tak pernah berhenti berpikir untuk mencari cara memenangkan sengketa tersebut, tiap malam masih terus mencabuti pohong singkong Sarkawi yang baru ditanam pagi harinya. Tentu saja tanpa harus diketahui para tetangga lainnya.&lt;br /&gt;Kondisi seperti itu semakin membuat Sarkawi kehilangan akal. Sarkawi yang tidak memiliki tata bahasa lugas, hanya mampu mengencangkan urat-urat lehernya dengan berteriak-teriak. Sarkawi yang tidak memiliki cara lain selain adu otot, hanya mampu mengacung-acungkan goloknya yang semakin tipis karena terlalu sering diasah.&lt;br /&gt;Bagi Marzuki sendiri, sikap Sarkawi yang mulai meledak-ledak merupakan hal yang paling ditunggunya. Marzuki seakan ingin memperlihatkan kepada khalayak kampungnya bahwa Sarkawi-lah yang tidak bisa menahan diri, Sarkawi-lah yang overacting, Sarkawi-lah yang tidak mau berunding. Bahkan dalam hati kecilnya, Marzuki berharap Sarkawi benar-benar lepas kendali dan memukulnya. Setidaknya, hal itu akan semakin mengalirkan simpati warga kampung terhadap dirinya. Skenario itulah yang sudah jauh-jauh hari dipersiapkan oleh Marzuki.&lt;br /&gt;Di hari yang tepat dan saat yang tepat, pagi-pagi benar Sarkawi sudah berteriak-teriak sambil mengacungkan golok setelah melihat pohon singkong yang baru ditanamnya kemarin pagi, kembali berserakan dicabuti seseorang yang tak lain adalah Marzuki.&lt;br /&gt;Marzuki yang saat itu tengah menikmati kopi jahe tubruk kesukaannya dengan beberapa potong singkong goreng hasil jarahan dari kebun Sarkawi, langsung keluar rumah dengan wajah yang dibuat tak berdosa.&lt;br /&gt;Sambil (tak) sengaja menginjak pohon singkong Sarkawi yang masih tersisa, Marzuki menghampiri seterunya dan bertanya dengan lemah lembut, “apa yang membuatmu marah-marah sepagi ini sahabatku?”&lt;br /&gt;Tanpa basa-basi Sarkawi yang tak mampu lagi menahan diri memukul jatuh Marzuki dengan sekali pukulan. Itulah yang diharapkan Marzuki selama ini. Skenario semakin sempurna ketika kejadian itu dilihat pak RT yang kebetulan tengah melewati rumah keduanya. Persoalan sengketa itupun akhirnya berubah menjadi masalah pemukulan dan dibawa ke rapat warga yang sebagian besar kadung bersimpati kepada Marzuki. Hasilnya, Sarkawi bersalah dan Marzuki berhak melanjutkan pembangunan pagar temboknya demi keamanan dirinya dan keluarganya. Pembangunan pagar tembok itu pun dijaga aparat keamanan kampung segala, untuk berjaga-jaga kalau-kalau Sarkawi melakukan tindakan kekerasan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dhany R Bagja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30584984-4196436896040500539?l=kadupakhalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/feeds/4196436896040500539/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30584984&amp;postID=4196436896040500539' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/4196436896040500539'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/4196436896040500539'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/2007/11/singkong-sarkawi.html' title='Singkong Sarkawi'/><author><name>dr bagja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02929520382035450628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/RzqSIEU-YLI/AAAAAAAAACs/23bgPj0EqNM/s72-c/singkong.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30584984.post-4923245664636680655</id><published>2007-11-13T22:07:00.000-08:00</published><updated>2007-11-13T22:59:41.095-08:00</updated><title type='text'>Derby</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/Rzqb3UU-YPI/AAAAAAAAADM/lKYStBr_a9A/s1600-h/bendera.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5132586099993895154" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/Rzqb3UU-YPI/AAAAAAAAADM/lKYStBr_a9A/s200/bendera.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/RzqclkU-YRI/AAAAAAAAADc/jr29RdFtvgw/s1600-h/bendera2.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5132586894562844946" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/RzqclkU-YRI/AAAAAAAAADc/jr29RdFtvgw/s200/bendera2.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;Masalah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ilegal di Malaysia yang mencuat belakangan ini, suka atau tidak suka telah membuka babak baru dalam cerita panjang perseteruan antara dua negeri serumpun. Hubungan Indonesia-Malaysia yang penuh gejolak sejak tahun 60-an, tampaknya kembali diuji dengan permasalahan yang sempat menegangkan urat syaraf di kalangan elit kedua negeri.&lt;br /&gt;Sejarah mencatat, hubungan kedua negara selalu diwarnai dengan pertikaian. Dari mulai perselisihan Presiden Soekarno dengan PM Tun Abdul Razak yang berbuntut konfrontasi senjata di antara dua negeri bertetangga, persoalan perebutan pulau Sipadan dan Ligitan hingga masalah TKI yang terus bergulir sampai saat ini.&lt;br /&gt;Di era kepemimpinan Soeharto, hubungan antar kedua negara sedikit terlihat mesra. Peperangan yang bertitel “Dwikora” ini berangsur-angsur dilupakan. Bahkan persoalan perebutan pulau Sipadan dan Ligitan, sengaja dihindari untuk membina hubungan yang lebih baik dan saling menguntungkan di antara keduanya.&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namun tak dapat dipungkiri, hubungan kedua negeri bagaikan api dalam sekam. Sedikit permasalahan yang terjadi, bisa tiba-tiba membesar dan penuh emosional.&lt;br /&gt;Sebagai negeri tetangga dan serumpun, pola hubungan Indonesia-Malaysia memang rentan. Jika diumpamakan, hubungan Indonesia-Malaysia bagaikan pertandingan derby (dua tim sekota) yang rawan konflik.&lt;br /&gt;Dalam istilah sepak bola, pertarungan derby selalu melibatkan emosi yang meledak-ledak. Pertarungan derby kerap menjadi partai penuh gengsi, penuh amarah, penuh insiden di antara dua tim yang secara tradisional selalu bermusuhan.&lt;br /&gt;Bahkan tak jarang, pertarungan derby pun akan berbuntut kericuhan yang bisa dikatakan melewati batas-batas fairplay.&lt;br /&gt;Banyak contoh dari hal tersebut. Di Liga Seri A Italia, bagaimana panasnya pertandingan antara tim sekota AS Roma dengan Lazio yang selalu menyulut perseteruan di antara pendukungnya. Maupun AC Milan dan Inter Milan yang juga selalu sarat gengsi.&lt;br /&gt;Di liga Inggris, kita mengenal London derby antara Arsenal dan Chelsea, Manchester United dengan Manchester City ataupun Liverpool lawan Everton.&lt;br /&gt;Singkatnya, entah untuk berebut pengaruh di kalangan pendukungnya atau ada motif lain, yang jelas aroma persaingan selalu merebak kental dalam pertemuan dua tim sekota.&lt;br /&gt;Hal yang sama terjadi ketika masalah TKI ilegal kembali mencuat. Tindakan penuh emosional dan kadang tak masuk akal, bermunculan hingga membuat suasana bertambah gerah di dua negeri serumpun.&lt;br /&gt;Dimulai dengan rencana Malaysia memulangkan ratusan ribu TKI Ilegal asal Indonesia yang diwarnai hukuman cambuk serta perlakukan kasar lainnya. Belum lagi masalah upah yang tidak dibayarkan hingga membuat para TKI Ilegal itu emoh untuk meninggalkan negeri jiran tersebut.&lt;br /&gt;Seperti sudah diduga, reaksi keras pun bermunculan. Kondisi tersebut membuat rasa nasionalisme bangsa ini tergugah. Bahkan tidak kurang dari Wakil Presiden Jusuf Kalla pun berkomentar keras dengan hal itu. Wapres mengancam pemerintah Indonesia akan menerapkan hukum serupa (cambuk) terhadap tenaga kerja Malaysia di Indonesia yang melakukan pelanggaran hukum.&lt;br /&gt;Dengan lantang Wapres juga berpendapat pemerintah tidak perlu lagi meminta Malaysia untuk memperpanjang masa amnesti bagi TKI ilegal di negara itu. Pemerintah akan lebih berfokus pada penegakan hukum secara berkeadilan.&lt;br /&gt;Bola panas pun terus bergulir. Seakan mendapat dukungan dari Wapres, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans), Fahmi Idris, berencana menuntut perusahaan dan majikan nakal yang secara ilegal mempekerjakan TKI dan tidak membayar gajinya. Menurut Fahmi, banyak TKI di Malaysia tidak bisa mengambil penawaran amnesti karena belum mendapat gaji dari majikannya. Kasus yang mencuat melibatkan sekitar 90 TKI yang belum dibayar gajinya sekitar 152 ribu Ringgit Malaysia atau sekitar Rp 371,2 juta oleh sebuah perusahaan konstruksi. Tentu saja pihak Malaysia pun tidak mau membiarkan bola panas membakar janggutnya sendiri. Dengan serta merta pucuk pimpinan di negeri Melayu itu menanggapi ancaman yang dilancarkan pemerintahan Indonesia.&lt;br /&gt;Perdana Menteri Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi dengan nada sedikit sinis mengingatakan pemerintah Indonesia untuk berpikir dua kali jika ingin mengambil langkah hukum soal TKI ilegal. Menurut Badawi, pemerintah Indonesia harus berhati-hati terhadap masalah lain yang akan timbul jika ingin menuntut perusahaan-perusahaan Malaysia yang diduga berbuat curang tidak membayar gaji TKI.&lt;br /&gt;“Biarkan mereka mengambil langkah apa saja seperti yang mereka inginkan. Tapi akan ada akibatnya, akan ada masalah lain yang muncul, sebab masalah ini melibatkan status para pekerja itu yang datang ke sini secara ilegal. Itu juga pelanggaran,” papar Badawi seperti dilansir The Star.&lt;br /&gt;Pernyataan orang nomor satu Malaysia itu pun seakan umpan matang untuk membuat situasi bertambah panas. Bahkan sampai ada yang mengusulkan pemutusan hubungan diplomatik Malaysia dan mensweeping pengusaha Malaysia di Indonesia seperti dikatakan ketua umum Forum Studi Aksi Demokrasi (FORSAD), Faisal Riza Rahmat.&lt;br /&gt;Reaksi yang timbul dari beberapa elemen di negeri ini, mungkin bisa dipahami. Begitu pula halnya dengan yang dilakukan pihak Malaysia. Sesuatu yang bersentuhan dengan martabat negara, terlebih lagi antara Indonesia-Malaysia memang mudah membuat hormon adrenaline bergejolak. Namun terkadang, perseteruan dua negeri ini hanya melahirkan sikap Chauvinism yang tidak pada tempatnya.&lt;br /&gt;Beruntung, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bisa bersikap sedikit arif dengan tidak ikut meramaikan wacana perang derby ini. Pertemuan antara SBY dan Badawi, setidaknya telah mengurangi sedikit ketegangan di antara kedua negeri tanpa kehilangan martabatnya masing-masing.&lt;br /&gt;Tanpa ingin mengenyampingkan persoalan martabat bangsa, masalah TKI ilegal harus dilihat secara komprehensif dan pada tempatnya. Kita tidak menutup mata bahwa ada pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh pihak Malaysia dalam menangani kasus TKI ilegal ini. Namun sejujurnya, ada hal yang lebih penting kita pikirkan, yaitu tentang bagaimana masalah ini bisa terjadi.&lt;br /&gt;Persoalannya, masalah TKI ilegal di Malaysia sendiri bukan kali ini saja terjadi. Kasus serupa selalu berulang dari tahun ke tahun, dan seperti biasa, pemerintah Indonesia pun seakan tak pernah memiliki solusi tepat untuk menangani para pahlawan devisa tersebut.&lt;br /&gt;Layak disimak apa yang dikatakan Wapres Jusuf Kalla mengenai sikap pemerintah Indonesia yang tidak perlu lagi mengemis-ngemis perpanjangan masa amnesti untuk para TKI ilegal tersebut.&lt;br /&gt;Artinya, setidaknya pemerintah telah siap untuk menerima kembali anak-anak bangsa di tanah kelahirannya sendiri. Tentu saja hal itu berarti para penguasa negeri ini juga telah mempersiapkan lapangan kerja bagi ratusan ribu rakyatnya yang terpaksa harus mencari nafkah di negeri jiran.&lt;br /&gt;Namun jika itu hanya letupan emosional dari sang wapres, apa yang diungkapkannya hanya membuang-buang energi yang malah merugikan posisi republik ini di mata para negeri sahabat. Satu sikap yang sangat tipikal dengan perang derby dalam sepak bola!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dhany R Bagja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30584984-4923245664636680655?l=kadupakhalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/feeds/4923245664636680655/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30584984&amp;postID=4923245664636680655' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/4923245664636680655'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/4923245664636680655'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/2007/11/derby.html' title='Derby'/><author><name>dr bagja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02929520382035450628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/Rzqb3UU-YPI/AAAAAAAAADM/lKYStBr_a9A/s72-c/bendera.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30584984.post-3053542461473724917</id><published>2007-11-13T22:01:00.000-08:00</published><updated>2007-11-13T22:07:08.082-08:00</updated><title type='text'>Save by the bell</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/RzqPlkU-YJI/AAAAAAAAACc/YwRoCXno0P4/s1600-h/bel.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5132572600911683730" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/RzqPlkU-YJI/AAAAAAAAACc/YwRoCXno0P4/s200/bel.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Posisi pemerintahan saat ini bagaikan seorang petinju yang terus-terusan dihujani pukulan, dan ketika tinggal menunggu waktu untuk jatuh knock out tiba-tiba diselamatkan oleh bunyi bel. Sejak pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Jusuf Kalla (JK) melancarkan program kerja 100 hari, hitungan mundur terus dilakukan. Di tengah sorotan berbagai pihak dengan agenda yang bermacam ragam pula, segala usaha dilakukan pasangan presiden dan wakil presiden terpilih itu untuk membuktikan diri bahwa program 100 hari bukanlah 'pepesan kosong' semata.&lt;br /&gt;Di alam demokrasi yang dipicu dengan munculnya semangat reformasi pada tahun 1998 lalu, posisi pemerintah memang tidak lagi menjadi untouchable. Kritikan terhadap penguasa bukan lagi barang haram yang biasanya kerap berakhir di penjara. Pasal-pasal karet 'hatzaai artikelen' yang biasanya menjadi senjata andalan pembungkam, sudah menjadi aturan usang yang tidak lagi mumpuni.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Maka, tak berlebihan jika saat ini banyak pihak merasa memiliki wewenang untuk mengoreksi kinerja pemerintahan baru, terutama program 100 hari kerja yang digembar-gemborkan ke delapan penjuru angin nusantara di saat kampanye pemilihan presiden (pilpres) lalu.&lt;br /&gt;Kebebasan berpendapat yang baru dihirup bangsa ini dalam enam tahun terakhir, memang sempat menjadikan kita sebagai masyarakat pencaci. Jalannya pemerintahan yang lurus pun tak akan luput dari kritikan, apalagi jika pemerintahan itu melakukan hal yang tidak sesuai dengan harapan rakyat.&lt;br /&gt;Namun satu hal yang pasti, propaganda 100 hari yang selalu menjadi andalan SBY-JK merupakan bentuk overconfidence yang malah menjerumuskan diri mereka sendiri.&lt;br /&gt;Tak bisa dipungkiri, sejak krisis moneter yang melanda berbagai negeri di kawasan Asia pertengahan 1998 lalu, tidak seperti negeri-negeri tetangga lainnya, Indonesia tampaknya sangat kesulitan untuk kembali bangkit. Pemerintahan berganti, namun krisis perekonomian Indonesia tidak juga beranjak dari titik nadir.&lt;br /&gt;Hal itupun menjadi permasalahan yang diwariskan kepada pemerintahan SBY-JK. Krisis yang telah mendera berkepanjangan itupun rasanya tidak cukup diselesaikan hanya dalam hitungan 100 hari, kecuali duet penguasa saat ini memiliki mantra ampuh yang hanya dengan mengatakan 'alakazam' lalu semuanya bisa berubah menjadi lebih baik.&lt;br /&gt;Sebenarnya, tanpa propaganda tersebut, pemerintahan baru pasti akan selalu menjadi sorotan. Ditambah dengan janji-janji memabukkan itu, pemerintahan SBY-JK semakin menempatkan dirinya menjadi sasaran yang sangat sempurna bagi para musuh politiknya.&lt;br /&gt;Angka 100 pun tiba-tiba mendapat tempat yang sangat istimewa di benak ratusan juta rakyat Indonesia. Seakan tak ingin luput satu haripun, perkembangan dari hari ke hari kinerja pemerintahan terus dicermati.&lt;br /&gt;Hasilnya, bisa diduga. Baik itu dilakukan secara subyektif maupun obyektif, tanpa pamrih ataupun ada pamrih, tulus maupun tidak tulus, yang jelas berbagai kritikan terus mencecar kinerja pemerintahan yang dianggap terlalu banyak omong besar dengan janji kampanyenya dulu. Bahkan hal itu dilakukan sejak hari pertama pasangan SBY-JK naik ke tampuk pemerintahan Republik ini.&lt;br /&gt;Seakan ingin melengkapi berbagai argumen yang menyudutkan pemerintahan, lembaga jajak pendapat pun mengadakan riset tentang kepopuleran sang presiden terpilih yang menukik tajam seiring berbagai hal yang dianggap melenceng dari janji semula.&lt;br /&gt;Dari mulai kasus tabrakan beruntun di jalan tol -yang hingga kini tidak jelas juntrungannya, sampai kebijakan untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), semuanya nyaris mengarah pada penilaian kegagalan kinerja pemerintahan.&lt;br /&gt;Reaksi pun bermunculan, dari mulai aksi demonstrasi besar-besaran hingga pembakaran foto presiden dan wakil presiden yang merupakan simbol-simbol negara pundigelar. Pemerintahan pun menampakkan wajah sesungguhnya ketika beberapa aktivis mahasiswa ditangkapi.&lt;br /&gt;Belum lagi kontroversi tentang hubungan tak harmonis antara presiden dan wakil presiden yang menjadi bulan-bulanan pihak oposisi di gedung parlemen. Dan seperti biasa, gedung parlemen pun masih tetap menjadi ajang gontok-gontokkan dengan tingkah para wakil rakyatnya yang -maaf- agak kampungan.&lt;br /&gt;Suka atau tidak suka, dua hari menjelang genapnya 100 hari pertama kinerja pemerintahan baru, rapor merah tampaknya sudah mulai dipersiapkan. Jujur saja, posisi pemerintah pun saat ini bagaikan tokoh Sangkuriang yang berpacu dengan waktu dalam menyelesaikan janjinya terhadap kekasih sekaligus ibunya, Dayang Sumbi.&lt;br /&gt;Meski terkesan baik-baik saja, namun berbagai kritikan dari beberapa elemen masyarakat negeri ini bisa dipastikan menjadi beban yang semakin memberatkan pemerintahan baru saat ini.&lt;br /&gt;Di tengah himpitan berbagai beban serta tekanan yang begitu besar, pemerintah pun harus dihadapkan pada murka alam yang luar biasa. Dimulai dari gempa di Nabire, Papua lalu disusul gempa dan gelombang Tsunami yang menyapu sebagian besar wilayah Serambi Makkah. Tentu saja, selain menelan korban yang mencapai ratusan ribu jiwa, bencana alam yang merupakan salah satu yang terbesar dalam sejarah planet bumi ini juga menelan kerugian dana yang nyaris tak terhitung banyaknya. Keperian pun seakan tak pernah berakhir ketika siklus tahunan banjir kembali menenggelamkan berbagai wilayah di nusantara.&lt;br /&gt;Artinya, ditinjau dari segi perekonomian negara yang tengah morat-marit, bencana itu juga semakin membuat posisi Indonesia terpuruk dalam krisis multi dimensi yang tak terhingga.&lt;br /&gt;Potret keharuan yang mengetuk hati dunia, telah mengantarkan Indonesia pada sorotan manca negara. Dunia pun menjadi tanpa sekat, berbagai bangsa berbagai agama serta berbagai faham politik seakan bersatu untuk mengembalikan Aceh yang luluh lantak ke dalam peradaban.&lt;br /&gt;Tidak hanya itu, berbagai pertemuan tingkat tinggi pun digelar. Dari mulai penundaan pembayaran, pengurangan hingga penghapusan utang Indonesia ke negeri-negeri kreditor segera dibahas. Istilah moratorium yang sangat asing di telinga awam, tiba-tiba seakan menggejala yang menghiasi halaman berbagai surat kabar di negeri ini.&lt;br /&gt;Tentu saja apa yang dijanjikan negeri-negeri pemberi pinjaman itu sedikit melegakan bagi pemerintahan Indonesia yang jelas-jelas nyaris tak mampu menahan berat beban yang ada.&lt;br /&gt;Tiba-tiba ada pertanyaan nakal yang menyeruak, di tengah bencana yang sangat memilukan, apakah ini juga menjadi berkah tak terduga bagi pemerintahan SBY-JK? Bagaimanapun penundaan pembayaran ataupun pengurangan utang adalah hal yang nyaris mustahil didapatkan dalam keadaan normal. Moratorium -jika itu akhirnya disepakati- jelas merupakan suatu keringanan yang cukup berarti untuk mengurangi beban yang selama ini dipikul.&lt;br /&gt;Tanpa ingin mengurangi simpati dan empati terhadap ratusan ribu jiwa yang menjadi korban, mungkinkah bencana gelombang Tsunami di Aceh menjadikan pemerintahan SBY-JK yang tengah disorot kinerjanya dalam 100 hari ini, sedikit terselamatkan?&lt;br /&gt;Posisi pemerintahan saat ini bagaikan seorang petinju yang terus-terusan dihujani pukulan, dan ketika tinggal menunggu waktu untuk jatuh knock out tiba-tiba diselamatkan oleh bunyi bel.&lt;br /&gt;Rasanya memang tak patut di tengah situasi keprihatinan tiba-tiba kita berpikir mengambil keuntungan dari sebuah bencana yang maha dahsyat. Tapi faktanya, kinerja 100 hari SBY-JK yang centang perenang mungkin bisa diselamatkan oleh penanganan Aceh yang benar-benar serius.Pertanyaannya, mampukah pemerintah memanfaatkan situasi tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30584984-3053542461473724917?l=kadupakhalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/feeds/3053542461473724917/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30584984&amp;postID=3053542461473724917' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/3053542461473724917'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/3053542461473724917'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/2007/11/save-by-bell.html' title='Save by the bell'/><author><name>dr bagja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02929520382035450628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/RzqPlkU-YJI/AAAAAAAAACc/YwRoCXno0P4/s72-c/bel.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30584984.post-6484803077537649742</id><published>2007-11-12T03:39:00.000-08:00</published><updated>2007-11-12T03:41:37.472-08:00</updated><title type='text'>Deja-Vu!</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/Rzg7h6DmXoI/AAAAAAAAACM/DP-lKFcPEm4/s1600-h/BBM.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5131917229094755970" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/Rzg7h6DmXoI/AAAAAAAAACM/DP-lKFcPEm4/s200/BBM.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Gonjang-ganjing rencana kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) telah menuai aksi protes dari berbagai lapisan masyarakat. Golongan mahasiswa yang selama ini menjadi motor dari jalannya mesin reformasi, kembali mengambil bagian pertama yang paling reaktif untuk menyikapi rencana pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Jusuf Kalla (JK) yang masih seumur jagung.&lt;br /&gt;Berbagai aksi demonstrasi pun kembali digelar di beberapa kota besar. Bahkan tidak hanya elemen mahasiswa yang senantiasa kencang menyuarakan penderitaan rakyat, namun kalangan artis yang kerap menjadi simbol kemapanan dari tingkat tataran masyarakat negeri ini pun meneriakkan keprihatinannya.&lt;br /&gt;Aksi demo mahasiswa yang terjadi belakangan ini pun sangat tipikal. Dari mulai membakar ban-ban bekas sambil memacetkan jalanan hingga membakar foto-foto sang presiden dan wakil presiden terpilih yang merupakan simbol kenegaraan. Ujung-ujungnya tuntutan mundur terhadap duet SBY-JK pun mengemuka.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Semua kejadian yang tergambarkan di layar televisi, halaman-halaman surat kabar maupun kesaksian melalui mata telanjang bagaikan deja-vu yang masih sangat melekat dalam pikiran kita.&lt;br /&gt;Enam tahun lalu, ketika negeri ini akhirnya porak poranda dan gedung-gedung luluh lantak akibat kerusuhan massal, semuanya bermula dari kebijakan pemerintah era Presiden Soeharto yang tidak mampu menahan laju gerak inflasi yang semakin menukik. Kenaikan harga BBM yang berimbas pada semua sektor, telah membuat sebagian besar masyarakat kehilangan akal sehat.&lt;br /&gt;Situasai politik yang mencapai titik didih, korban-korban sipil yang terus berjatuhan serta entah berapa kerugian materil maupun non materil yang diderita, menjadikan sangat mahal harga yang harus dibayar bangsa ini. Bahkan, jauh lebih mahal dari dana yang harus dikeluarkan pemerintah untuk mensubsidi harga minyak itu sendiri.&lt;br /&gt;Sukar dibayangkan jika saat itu kita berada di negeri yang bernama Indonesia. Negeri yang selalu digembar-gemborkan penuh dengan tata-krama, sopan santun dan gemah ripah loh jinawi, tiba-tiba menjadi negeri yang penuh dengan keangkaramurkaan. Sesama anak bangsa saling bunuh, penjarahan di berbagai sudut kota, kebakaran, perkosaan dan penyiksaan, mewarnai lembaran hitam sejarah yang patut dicatat dengan tinta merah darah.&lt;br /&gt;Dan akhirnya, pemerintahan yang selama 32 tahun berdiri kokoh tanpa tanding, pemerintahan yang selalu mempropagandakan bangsa kita nyaris tinggal landas, pemerintahan yang selalu menjadi kekuatan hukum terbesar di republik ini, harus menerima kenyataan pahit diruntuhkan oleh kekuatan massa yang tidak lagi memiliki sedikitpun kepercayaan terhadap para pemimpinnya.&lt;br /&gt;Terlepas dari tujuan di balik aksi-aksi protes dan keprihatinan itu -yang tentunya juga beragam, faktanya kenaikan BBM memang menjadi hantu yang senantiasa menambah penderitaan. Kenaikan BBM di saat kehidupan masyarakat masih centang perenang dan belum pulih sepenuhnya dari berbagai krisis multi dimensi, akan menohok sendi-sendi kehidupan terutama bagi kaum marginal yang menjadi bagian terbesar dari republik ini.&lt;br /&gt;Di sisi lain, pemerintah seakan tidak bergeming dengan rencana yang terus digulirkannya. Bahkan dibanding tahun 1998 lalu, rencana kenaikan BBM yang mencapai 40% merupakan sesuatu yang sangat fantastis. Bisa dibayangkan berapa kali lipat beban yang akan ditanggung masyarakat kalangan menengah ke bawah untuk menghadapi badai krisis baru yang memang sudah sejak lama akrab dengan mereka.&lt;br /&gt;Pemerintah pun tampaknya memiliki alasan tepat untuk mengambil kebijakan yang beberapa kalangan menganggapnya sangat tidak populer tersebut. Dengan membeberkan sederet angka-angka dan argumentasi yang meyakinkan, pemerintah pun dengan percaya diri -meski dengan diawali kata maaf seperti yang dilontarkan wakil presiden Jusuf Kalla- tetap pada keputusannya untuk menaikkan harga BBM hingga 40%.&lt;br /&gt;Siapapun yang memerintah dalam kondisi tersebut, sulit rasanya mengenyampingkan untuk tidak mengambil kebijakan itu. Dengan kondisi keuangan pemerintah yang juga 'kembang-kempis' para penyelenggara negara itu mengaku sudah tidak mampu lagi menahan beban untuk memberikan subsidi bagi produk BBM. Kenaikan harga minyak dan gas dunia yang melambung tinggi, membuat pemerintah tidak kuasa lagi menolong rakyatnya sendiri.&lt;br /&gt;Selain itu, dana subsidi pemerintah yang merupakan kompensasi BBM sebesar 10 sampai 15 triliun selama ini akan disalurkan pada pembangunan infrastruktur sekitar tiga hingga lima triliun. Sisanya akan disebarkan untuk menunjang kesehatan, pendidikan dan raskin (beras untuk rakyat miskin).&lt;br /&gt;Rasional? Tentu, dengan segala hitungan dan kenyataan yang ada, pertimbangan pemerintah untuk tetap keukeuh menaikkan harga minyak adalah sesuatu yang masuk akal.&lt;br /&gt;Pengalokasian untuk infratruktur, sektor kesehatan, pendidikan dan raskin pun sesautu yang bisa diterima, dengan catatan, benar-benar disalurkan pada hal yang semestinya dan tidak ada lagi praktik-prakrik korupsi seperti yang selama ini kerap terjadi.&lt;br /&gt;Hanya saja keputusan sulit itu diambil di saat masyarakat tengah menikmati harapan yang selama ini digembar-gemborkan pemerintahan baru. Harapan yang diterbitkan melalui janji 100 hari bagaikan dongeng yang telah menina-bobokan sebagian rakyat negeri ini untuk kembali berani bermimpi. Mimpi yang selama ini mereka pendam karena tidak mungkin akan menjadi nyata, mimpi yang selama ini mereka ingkari karena hanya akan menyakiti diri sendiri dan mimpi yang selama ini mereka haramkan karena hanya akan menambah beban dalam sesaknya kehidupan.&lt;br /&gt;Bisa saja pemerintah meminta masyarakat untuk berpikir realistis dan jangan terlalu utopis menyikapi kepemimpinan pemerintahan baru saat ini. Bagaimanapun juga, mereka bukanlah superman yang mampu memutar dunia berbalik 360 derajat untuk menghadirkan semua apa yang selama ini mereka impikan.&lt;br /&gt;Namun semua itu memang bermula dari janji kampanye yang ditebar ke delapan penjuru angin di negeri ini. Dalam penalaran rakyat jelata, tak ada istilah subsidi yang dikonversi maupun segala macam ekspektasi. Bagi mereka, perubahan adalah bagaimana perut yang tadinya lapar bisa menjadi kenyang.&lt;br /&gt;Mungkin janji 100 hari dari SBY-JK merupakan langkah blunder mereka, karena hal itu telah membuat rakyat benar-benar terlena dan berharap sangat-sangat-sangat banyak akan terjadinya perubahan menuju hal yang lebih baik dari sebelumnya. Dan, keputusan kenaikan harga BBM itu seakan menjadi pengkhianatan dari harapan yang selama ini merebak.&lt;br /&gt;Rasanya sangat wajar jika kita kembali berharap agar pemerintah meninjau ulang soal apa yang akan dilakukannya berkaitan dengan BBM tersebut. Dengan tim ekonomi pilihan yang mereka miliki, setidaknya rakyat berharap ada solusi yang bisa sama-sama tidak merugikan, semacam menciptakan simbiosis mutualisme. Bukankah para menteri itu diangkat untuk mengemban tugas mensejahterakan rakyat dari republik tercinta ini?&lt;br /&gt;Kalaupun kenaikan BBM merupakan satu-satunya pilihan yang tidak bisa dihindari, yang paling penting untuk diperhatikan adalah bagaimana membuat rakyat bisa kembali nyaman menjalani kehidupannya.&lt;br /&gt;Dan yang paling penting lagi adalah bagaimana pemerintah mampu menyampaikan sesuatu yang pahit bisa diterima dengan manis oleh rakyat. Membuang semua arogansi kekuasaan yang kerap menjadi biang dari segala macam persoalan. Bagaimana cara menyentuh hati rakyat tanpa menggoreskan sedikitpun luka.&lt;br /&gt;Karena, rasanya tak perlu lagi bangsa ini jatuh ke dalam lubang sama yang hanya akan menambah daftar panjang penderitaan dan semakin mengukuhkan bangsa ini sebagai bangsa bar-bar. Naudzubillah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30584984-6484803077537649742?l=kadupakhalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/feeds/6484803077537649742/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30584984&amp;postID=6484803077537649742' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/6484803077537649742'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/6484803077537649742'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/2007/11/deja-vu.html' title='Deja-Vu!'/><author><name>dr bagja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02929520382035450628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/Rzg7h6DmXoI/AAAAAAAAACM/DP-lKFcPEm4/s72-c/BBM.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30584984.post-6231467233301797777</id><published>2007-11-12T03:32:00.000-08:00</published><updated>2007-11-12T03:37:20.024-08:00</updated><title type='text'>Green Card, American Dreams dan Pengkhianatan</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/Rzg6T6DmXnI/AAAAAAAAACE/e96tjT1E2UY/s1600-h/greencard.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5131915889064959602" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/Rzg6T6DmXnI/AAAAAAAAACE/e96tjT1E2UY/s200/greencard.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Green Card yang menjadi dokumen resmi pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk pemberian izin tinggal permanen bagi warga asing, tampaknya masih menjadi kartu impian bagi setiap orang yang memang mengusung harapan untuk menetap di negeri 'Paman Sam' tersebut. Green Card bagaikan gerbang pembuka bagi para pengusung mimpi untuk mengejar apa yang disebut American Dreams, seperti yang kerap dijajakan di film-film produksi Hollywood selama ini.&lt;br /&gt;Terlepas dari sikap politik serta arogansi pemerintahan yang kerap merugikan negara-negara dunia ketiga, tak dipungkiri, AS merupakan negeri dengan big appeal paling tinggi dibanding negeri-negeri maju lainnya. Dengan segala pesona serta kekuatan ekonomi yang dimiliki negeri bekas koloni Inggris ini, ribuan bahkan jutaan orang dari berbagai belahan planet ini rela menyandang status imigran, baik itu yang gelap maupun yang terang (baca: resmi).&lt;br /&gt;Bagaikan suatu simbiosis mutualism, pemerintah AS pun melalui USCIS (United States Citizenship and Immigration Services) setiap tahunnya terus membuka gerbang imigrasi bagi para pendatang. Bahkan pihak imigrasi Amerika senantiasa melakukan pengundian bagi pemohon untuk mendapatkan Green Card seperti yang ditawarkan dalam situs resmi mereka.&lt;br /&gt;Berbagai informasi tentang cara permohonan untuk mendapatkan Green Card pun dipaparkan dengan gamblang dan sangat detail. Bahkan pihak USCIS sendiri menyediakan layanan informasi melalui telepon bebas pulsa, agar memudahkan setiap orang asing yang memiliki keinginan untuk menjada warga negara United States of America.&lt;br /&gt;Namun tentu saja dalam prosesnya diterapkan berbagai persyaratan ketat yang tidak semua orang bisa melewatinya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang American Dreams, mungkin aktor berotot Arnold Schwarzenegger menjadi contoh yang sempurna untuk itu. Tanpa kemampuan bahasa Inggris yang sempurna, peraih gelar Mr Universe lima kali itu meninggalkan kampung halamannya di dusun kecil Thal bei Graz, 10 km dari kota Graz, Austria untuk mendulang mimpi di Amerika pada tahun 1968.&lt;br /&gt;Dalam perjalanannya, tubuh kekar, sedikit kemampuan berakting serta nasib baik menjadikan dirinya seorang super star Hollywood dengan sequel-nya yang menjadi box office di berbagai negara, The Terminator, setelah dia mendapatkan kewarganegaraannya pada tahun 1984. Seakan tak puas untuk mengeksploitasi mimpi yang ditawarkan Amerika, Arnold pun merambah dunia politik dan berhasil terpilih menjadi Gubernur California pada tahun 2003.&lt;br /&gt;Apa yang terjadi pada Arnold hanyalah satu dari sekian mimpi yang ditawarkan Amerika. Sederet pesohor terkenal lainnya pun tercatat sukses menjajal tantangan yang ditawarkan negeri yang ditemukan Christopher Columbus tersebut.&lt;br /&gt;Ekses Negatif&lt;br /&gt;Kondisi tersebut menjadikan Amerika tujuan dari segala tujuan untuk menjadi homeland yang sempurna, terutama bagi para pencari kewarganegaraan dengan motif ekonomi.&lt;br /&gt;Seperti halnya para pengusung mimpi dari belahan negeri lainnya, sekelompok orang Indonesia pun terseret dalam pesona yang ditawarkan Amerika. Tidak sedikit warga negara Indonesia yang menetap hingga akhirnya berpindah kewarganegaraan menjadi warga negara Amerika.&lt;br /&gt;Hanya saja begitu ketat serta rumitnya proses permohonan kewarganegaraan yang dilakukan pemerintah AS, menimbulkan ekses yang beragam. Memang tak berlebihan jika pihak pemerintah AS belakangan ini menerapkan kebijakan ketat bagi setiap orang asing yang ingin menetap di Amerika, hal ini berkaitan dengan tingginya frekuensi ancaman terorisme bagi negeri super power tersebut. AS sendiri menjadi negeri sasaran teroris nomor satu di dunia dan puncaknya adalah tragedi 11 September 2001 lalu, berkaitan dengan sikap politiknya yang menerapkan standar ganda dalam masalah Palestina dan negeri-negeri Timur Tengah lainnya.&lt;br /&gt;Ekses negatif dari sulitnya menetap menjadi warga negara Amerika adalah timbulnya imigran gelap serta pemalsuan paspor seperti yang dilakukan sekelompok Warga Negara Indonesia (WNI) yang akhirnya dibongkar Biro Penyelidik Federal (FBI), 23 November lalu.&lt;br /&gt;Dalam operasi yang bersandi Operation Jakarta, FBI menciduk 26 orang WNI yang menjadi bagian dari mafia pemalsu paspor di negara bagian Virginia. Bahkan menurut FBI, kelompok tersebut setidaknya telah menyelundupkan seribu orang imigran gelap asal Indonesia ke Amerika.&lt;br /&gt;Kasus terungkapnya mafia pemalsu paspor di Virginia yang dilakukan WNI ternyata bukanlah yang pertamakalinya. Sebulan sebelumnya, jaringan serupa yang beranggotakan 16 WNI juga diciduk di Denver.&lt;br /&gt;Tentu saja apa yang dilakukan para kriminal yang kebetulan WNI itu juga dilakukan kelompok kejahatan dari berbagai negara lainnya. Kejahatan pemalsuan paspor dan kasus imigran gelap kerap terjadi di negeri manapun yang dianggap maju dan dilakukan oleh orang-orang yang berasal dari negara dengan kemampuan ekonomi lemah. Jika sampai di sini, tidak ada yang istimewa dari kasus tersebut.&lt;br /&gt;Dan sebagai warga negara yang memiliki kesamaan hak di mata hukum, pemerintah Indonesia wajib membela warganya meski apa yang telah mereka lakukan sedikit banyak telah mencoreng nama negara.&lt;br /&gt;Pengkhianatan&lt;br /&gt;Namun ada hal yang membuat miris kita sebagai bangsa Indonesia jika menelisik lebih jauh tentang apa yang dilakukan para pencari kewarganegaraan Amerika yang berasal dari negeri ini. Salah satunya adalah dengan meminta suaka secara politis kepada pemerintah Amerika dengan mengatasnamakan korban dari pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia) yang terjadi saat mereka berada di republik ini.&lt;br /&gt;Tidak dipungkiri, tragedi kemanusiaan yang menjadikan target kelompok etnis tertentu memang sempat mewarnai perjalanan bangsa Indonesia dari sekian tragedi kemanusiaan lainnya yang terjadi di negeri ini. Sebut saja kerusuhan Mei 1998 yang membuat sekelompok etnis turunan Tionghoa menjadi korban dari kebiadaban sekelompok warga negara yang tidak bertanggung jawab.&lt;br /&gt;Sebagai kelompok minoritas, keberadaan etnis Tionghoa di Indonesia memang sangat rentan. Sedikit percikan yang melibatkan etnis ini, kerap menimbulkan kerusuhan yang berdarah-darah dan merembet dengan cepat menjadi sesuatu yang besar. Kecemburuan ekonomi disebut-sebut sebagai pemicu dari mudahnya etnis Tionghoa menjadi korban kekerasan.&lt;br /&gt;Di lain pihak, pemerintah Amerika yang selalu mengklaim sebagai pendekar HAM, sangat mudah bersimpati dengan korban-korban kekerasan seperti ini. Hal inilah yang menjadi celah bagi sebagian oknum untuk mengarang cerita bohong tentang penyiksaan yang dialaminya hanya untuk mendapatkan status kewarganegaraan di negerinya George Walker Bush tersebut.&lt;br /&gt;Saya jadi teringat cerita seorang sahabat yang kebetulan bermukim di Amerika. Empat tahun lalu, dia mengirim surat elektronik yang berisi tentang keluh kesah dirinya ketika berada dalam komunitas WNI di sana.&lt;br /&gt;Menurut sahabat yang memiliki wajah oriental itu, ada sekelompok orang asal Indonesia yang sebagian berasal dari etnis tertentu selalu menjelek-jelekkan Indonesia dalam setiap forum resmi maupun tak resmi.&lt;br /&gt;Bahkan tak jarang mereka melancarkan serangan secara verbal bagi WNI lainnya yang masih memiliki kebanggan sebagai orang Indonesia. “Terus terang ini menjadi harassment bagiku. Aku sempat berpikir untuk mengadukan hal ini kepada pihak berwenang di negeri ini maupun KBRI. Tapi hal itu hanya akan menambah masalah. Mereka berani mengancam. Sebagian dari mereka tidak memiliki dokumen resmi (paspor). Mereka pendatang gelap yang selalu menyudutkan bangsa kita,” tulis sahabat saya.&lt;br /&gt;Justru karena hal itu pulalah yang membuat sindikat pemalsuan paspor itu terbongkar. Karena cerita karangan yang seragam, kedok para pembohong yang bermaksud mencari suaka itu pun terkuak.&lt;br /&gt;Bagi saya, apa yang dilakukan sekelompok oknum WNI di Amerika dengan menjelek-jelekan negerinya sendiri, adalah kejahatan pada negara. Dan setiap kejahatan pada negara adalah pengkhianatan.&lt;br /&gt;Tentu saja pihak pemerintah Indonesia dalam hal ini Kepolisian Republik Indonesia harus segera bertindak dan tidak hanya berpangku tangan menanti hasil penyelidikan FBI. Jika memang terdapat unsur pengkhianatan dalam kasus pemalsuan paspor tersebut, pemerintah Indonesia pun memiliki wewenang untuk menindak warganya dengan sangat tegas. Bukankah ada pemeo yang meski usang tapi masih tepat untuk dipertahankan: 'Right or Wrong is my Country!'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30584984-6231467233301797777?l=kadupakhalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/feeds/6231467233301797777/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30584984&amp;postID=6231467233301797777' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/6231467233301797777'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/6231467233301797777'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/2007/11/green-card-american-dreams-dan.html' title='Green Card, American Dreams dan Pengkhianatan'/><author><name>dr bagja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02929520382035450628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/Rzg6T6DmXnI/AAAAAAAAACE/e96tjT1E2UY/s72-c/greencard.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30584984.post-1870131664692248743</id><published>2007-11-12T03:28:00.000-08:00</published><updated>2007-11-13T21:55:10.760-08:00</updated><title type='text'>Sex, Lies and Diplomat</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/Rzg5QaDmXmI/AAAAAAAAAB8/J1O1YWJd4dE/s1600-h/bill.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5131914729423789666" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/Rzg5QaDmXmI/AAAAAAAAAB8/J1O1YWJd4dE/s200/bill.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Di awal tahun 90-an industri perfilman Hollywood merilis sebuah film berjudul Sex, Lies and Videotape. Film besutan sutradara Steven Soderbergh itu mengisahkan tentang seorang pebisnis bernama John Melaney (Peter Gallagher) yang memiliki istri frigid, Ann (Andie MacDowell). Sebagai seorang pebisnis muda yang tampan, tentu saja Melaney masih membutuhkan belaian kehangatan yang tidak didapatkannya dari sang istri. Ujung-ujungnya, Melaney terlibat affair 'panas' dengan adik iparnya Cynthia, yang diperankan dengan apik oleh Laura San Giacomo. Permasalahan pun kian berkembang ketika teman sepermainan masa kecil Melaney, Graham (James Spader) datang ke kota. Graham sendiri merupakan laki-laki impotent yang lebih senang merekam kehidupan seks seseorang dalam videotape. Dari sinilah cerita tentang seks dan kebohongan yang didokentasaikan dalam rekaman video, mulai dibangun.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Soderbergh mencoba memaparkan rangkaian cerita demi cerita dengan begitu apik hingga mencapai titik puncaknya. Sutradara kelahiran Atlanta, AS, itu seakan ingin memaparkan dalam filmnya, seks dan kebohongan memang bagaikan dua sisi mata uang yang selalu berdampingan. Ketika ada seks, di sana pula nyaris selalu tercium bau busuk kebohongan&lt;br /&gt;Hal itu pulalah tampaknya yang tengah terjadi di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di New York. Ketika skandal seks mulai terbongkar, kebohongan seakan menjadi benteng utama dari kenyataan pahit yang bisa mencoreng muka.&lt;br /&gt;Berawal dari surat terbukan Faridah Abdullah, TKW asal Nusa Tenggara Barat di Amerika Serikat (AS) yang mengaku mengalami pelecehan seksual massal dari bapak-bapak pejabat dan pemuka agama yang sepantasnya melindungi dia.&lt;br /&gt;Dalam pengakuannya, Faridah membeberkan setidaknya 41 nama, termasuk di antaranya pejabat Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI), telah menidurinya.&lt;br /&gt;Bagaikan efek bola salju, skandal perselingkuhan itu pun semakin mencuat ke permukaan seiring dengan penyangkalan yang dilakukan pihak KJRI yang malah menuduh Farida sebagai orang yang tidak normal.&lt;br /&gt;Mungkin saja seperti halnya Melaney di film Sex, Lies and Videotape, ke 41 laki-laki yang ada dalam daftar Faridah memiliki istri yang frigid. Jadi perselingkuhan itu pun menjadi suatu proses yang manusiawi. Seakan ingin menyamakan diri dengan film itu juga, skandal seks itu juga harus diiringi dengan kebohongan. Semuanya gejala yang wajar, ada perselingkuhan dan ada kebohongan.&lt;br /&gt;Skandal seks yang melibatkan para pejabat memang bukanlah barang baru, setidaknya di negeri lain. Di tahun 80-an, parlemen Inggris sempat diguncang skandal seks yang melibatkan beberapa anggota parlemen dengan seorang gadis 'bangir' mantan ratu kecantikan India bernama Pamela Bordes.&lt;br /&gt;Skandal seks juga pernah menerjang Presiden AS Bill Clinton hingga membuat kursi kekuasaannya bergoyang keras, ketika sekretaris pribadinya, Monica Lewinsky bernyanyi tentang aksi di 'belakang meja'-nya bersama sang presiden.&lt;br /&gt;Clinton pun sempat menyangkal aib tersebut meski akhirnya tak mampu mengelak. Namun setidaknya mantan gubernur Arkansas itu bisa menyelamatkan kursi kekuasaan dari kejatuhannya.&lt;br /&gt;Persoalannya, skandal ini terjadi di satu lembaga negara yang terletak di kota pusat perhatian dunia. Tentu saja apapun yang terjadi di kota sebesar New York, akan menjadi santapan publik dunia.&lt;br /&gt;Apa yang terjadi di KJRI New York -jika itu benar--bisa jadi merupakan skandal seks terbesar yang melibatkan para pejabat publik di negeri ini. Bisa dibayangkan, satu skandal yang merupakan aib besar dalan kultur bangsa ini melibatkan begitu banyak nama. Artinya, aib itu telah benar-benar mencoreng muka Bangsa Indonesia yang kerap menyebut dirinya sebagai bangsa yang bermartabat.&lt;br /&gt;Penyangkalan dari suatu aib -terlebih lagi jika hal itu melibatkan pejabat publik--memang merupakan mekanisme standar yang bisa terjadi spontan. Hanya saja dalam hal ini ada pihak yang dirugikan, seperti yang dialami Faridah.&lt;br /&gt;Pihak KJRI ataupun Departemen Luar Negeri sudah selayaknya menaruh perhatian dalam porsi yang besar dalam permasalahan ini. Suka atau tidak, isu skandal ini tidak lagi hanya menjadi persoalan nama baik dari seghelintir pejabat maupun Faridah sendiri, lebih dari itu, masalah ini telah menjadi persoalan nama baik bangsa di mata dunia.&lt;br /&gt;Ada hal menarik yang terjadi dari kasus perselingkuhan ini. Selain menuduh Ida (panggilan Faridah) sebagai orang yang tak normal, pihak Deplu yang diwakili KJRI menyebutkan perempuan yang datang ke AS sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) itu memang sejatinya adalah Pekerja Seks Komersial (PSK). Bahkan menurut pejabat KJRI, ada motif pemerasan di balik isu skandal tersebut.&lt;br /&gt;Tentu saja di tengah posisinya sebagi korban, tuduhan yang dilontarkan pejabat KJRI itu semakin membuat posisi Ida terpuruk. Mungkin akan lebih bijaksana jika pihak Deplu benar-benar menuntaskan kasus tersebut tanpa harus menyudutkan Ida yang nota bene berada di posisi yang sangat lemah.&lt;br /&gt;Dengan segala keterbatasannya, dan terlepas dari motivasi apa di belakangnya, apa yang dilakukan Faridah dengan mengeluarkan surat terbuka yang dipaparkan dalam sembilan point keterangan, patut kita hargai.&lt;br /&gt;Bahkan kita patut mengacungi jempol kepada Faridah yang dengan berani dan gamblang menjelaskan semua permasalahan dari awal hingga akhir, sehingga bisa membuka mata para pejabat terkait yang berkompeten untuk menangani masalah tersebut.&lt;br /&gt;Persolannya, apakah penyangkalan yang dilakukan pihak Kementrian Luar Negeri akan menyelamatkan muka bangsa ini ataukah semakin membuat terpuruk bangsa ini.&lt;br /&gt;Apa yang dialami Ida memang menjadi tipikal nasib para TKW kebanyakan. Hidup menjadi sapi perahan yang terus menerus di posisi yang lemah.&lt;br /&gt;Berita yang menjadi Head Line harian ini edisi Selasa (5/10) tersebut semakin memperpanjang daftar cerita duka TKW Indonesia yang tengah mencari nafkah di sejumlah negeri pengharapan. Bagaimana tidak, dalam bulan-bulan terakhir ini hampir semua media massa baik cetak maupun elektronik terus-terusan membeberkan derita para TKW yang justru tengah berharap memperbaiki nasibnya.&lt;br /&gt;Dari mulai TKW yang pulang dalam kondisi nyaris lumpuh akibat siksaan majikan, seperti yang dialami Nirmala Bonat, divonis hukuman seumur hidup seperti Sundarti dan Purwanti serta sederet nama lainnya yang menunggu giliran untuk dijatuhi hukuman, hingga dua TKW yang mengalami penyanderaan di Irak yang hingga saat ini tak jelas identitasnya.&lt;br /&gt;Bisa jadi apa yang dialami Faridah juga akan menjadi rentetan episode buram yang dialami para TKW kita di luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30584984-1870131664692248743?l=kadupakhalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/feeds/1870131664692248743/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30584984&amp;postID=1870131664692248743' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/1870131664692248743'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/1870131664692248743'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/2007/11/sex-lies-and-diplomat.html' title='Sex, Lies and Diplomat'/><author><name>dr bagja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02929520382035450628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/Rzg5QaDmXmI/AAAAAAAAAB8/J1O1YWJd4dE/s72-c/bill.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30584984.post-3932984520776844581</id><published>2007-11-12T03:19:00.000-08:00</published><updated>2007-11-13T21:56:17.583-08:00</updated><title type='text'>Apa hebatnya PON?</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/Rzg3f6DmXlI/AAAAAAAAAB0/l3PjCaTAknU/s1600-h/pon.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5131912796688506450" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/Rzg3f6DmXlI/AAAAAAAAAB0/l3PjCaTAknU/s200/pon.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Seorang teman mempertanyakan langkah Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) yang menggelar Pekan Olahraga Nasional (PON) hanya beberapa hari setelah Olimpiade Athena 2004 ditutup. “Apa tidak salah jadwal PON digelar sekarang. Jarak yang begitu dekat dengan Olympic, hanya akan semakin mengecilkan ajang PON itu sendiri,” cetus teman tersebut.&lt;br /&gt;Degradasi nilai. Itulah yang dikhawatirkan teman tadi. Setelah hampir sebulan penuh disuguhi aksi-aksi spektakuler atlet tingkat dunia serta lahirnya kejutan-kejutan beruntun yang membuat mulut kita menganga, kini kita disuguhi PON yang nota bene tidak bisa dibandingkan dengan ajang akbar di Negeri para dewa tersebut.&lt;br /&gt;Namun bisa jadi, KONI dan PB PON memang sengaja menggelar ajang tersebut nyaris berbarengan. Aroma persaingan yang ditebar atlet mancanegara di Athena, diharapkan bisa menular pada para atlet lokal yang berlaga di Palembang. Dan tentu saja, hal itu akan menjadi motivasi yang bisa melecut adrenalin mereka untuk tetap menggelegak.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kini, PON XVI yang digelar di Palembang pun telah usai. Jika melihat dari jumlah perolehan medali ketika semua kontingen - 30 provinsi di Indonesia--mampu meraihnya, ajang multi event paling bergengsi di negeri ini bisa dikatakan cukup berhasil. Setidaknya, tak ada kontingen yang tidak memiliki kesempatan mewakilkan atletnya naik podium. Hal itu merupakan langkah maju jika dibandingkan dengan event serupa dalam beberapa tahun ke belakang.&lt;br /&gt;Bahkan PON XVI juga menorehkan catatan bersejarah ketika lifter asal Lampung, Sutrisno memecahkan rekor dunia di cabang angkat berat kelas 60 kg, meskipun atas namanya sendiri. Sutrisno berhasil mengangkat beban seberat 725 kg, mengalahkan angkatan sebelumnya ketika dia melakukannya di Dong Hai, Korea Selatan, dua tahun lalu dengan torehan angka 715 kg.&lt;br /&gt;Sederet rekor nasional pun bertumbangan, setidaknya tidak kurang dari 53 rekornas dipecahkan dalam ajang yang untuk ketigakalinya digelar di luar Pulau Jawa setelah Medan tahun 1953 dan Makassar 1957 itu. Selain itu, tak kurang dari 30 rekor PON diperbaharui.&lt;br /&gt;PON XVI juga menorehkan prestasi lainnya. Sederet atlet yang tergabung dalam Program Indonesia Bangkit (PIB) berhasil 'unjuk gigi' sebagai sosok unggulan. Setidaknya 85 atlet dari 11 cabang binaan PIB yang telah berjalan selama hampir enam bulan, mampu meraih medali yang disediakan.&lt;br /&gt;Hal itupun diungkapkan Ketua Bidang dan Pembinaan Prestasi, KONI Pusat, Djoko Pramono. “Hampir semua menunjukkan peningkatan. Misalnya dari bulutangkis, sembilan atlet yang masuk PIB semuanya masuk final, dapat emas dan perak. Sementara dari karate, tujuh atlet PIB semuanya juga dapat medali meski ada beberapa di antaranya bukan emas atau perak,” papar Djoko.&lt;br /&gt;Prestasi lainnya, PON XVI juga memungkinkan Palembang yang selama ini hanya dikenal lewat makanan ringan pempek-nya, bisa bermimpi untuk menjadi salah satu tuan rumah penyelenggaraan pesta olahraga se-Asia Tenggara. Bagaimana tidak, berbagai fasilitas olahraga telah dibangun di bumi Sriwijaya tersebut. Tinggal poles sana-poles sini, ambisi menjadi tuan rumah SEA Games pun tinggal tunggu waktu.&lt;br /&gt;Hanya saja ajang PON Palembang pun menyisakan kemasygulan di hati. Sukar dibayangkan jika event akbar nasional yang telah dipersiapkan sejak beberapa tahun sebelumnya harus diakhiri dengan anti klimaks ketika cabang olahraga paling bergengsi, sepak bola, tidak bisa melahirkan juara.&lt;br /&gt;Persoalannya sepele. Stadion tempat partai final digelar, tidak memiliki fasilitas lampu. Pertandingan final antara Jawa Timur dan Papua yang memaksa perpanjangan waktu setelah hasil imbang 1-1 itupun tidak bisa dilanjutkan karena hari mulai gelap.&lt;br /&gt;Pihak panitia memang sepakat untuk menunda pertandingan hingga keesokan harinya. Namun kenyataannya, dua tim finalis tersebut tidak hadir.&lt;br /&gt;Persoalan tidak berhenti di situ. Baik Papua maupun Jatim meminta mereka menjadi juara bersama cabang sepak bola. Pihak KONI dan panpel sendiri belum memutuskan, apakah mereka akan menetapkan juara bersama yang berarti sejarah baru dalam penyelenggaraan PON ataukah menempuh jalan lainnya.&lt;br /&gt;Apapun keputusan yang diambil, yang jelas kondisi tersebut telah menyisakan sesuatu yang mengganjal di dada.&lt;br /&gt;Belum lagi ajang PON yang seharusnya menjadi sarana pembibitan dan kesempatan bagi atlet-atlet muda untuk memperbanyak 'jam terbang'-nya, malah menjadi adu kekuatan daerah-daerah kaya yang dengan kekuatan dananya yang bisa 'membeli' atlet dari daerah lain.&lt;br /&gt;Tak berlebihan jika kota-kota besar seperti DKI Jakarta kerap keluar sebagai juara umum meninggalkan para pesaing lainnya. DKI merupakan tempat tujuan para atlet untuk menyabung hidup. Belum lagi kekuatan rupiah yang digelontorkan provinsi ibu kota negara itu nyaris tak terbatas. Tentu saja dengan mudah mereka mampu menggaet atlet-atlet potensial dari berbagai daerah dengan iming-iming yang tidak bisa dibilang sederhana.&lt;br /&gt;Pertaruhan gengsi dan reputasi memang merupakan hal yang jamak dalam suatu persaingan, terlebih di ajang PON. Namun ada baiknya pihak KONI maupun PB PON sendiri mengubah paradigma tersebut dengan menjadikan ajang ini sebagai tempat penggemblengan atlet-atlet muda dari berbagai pelosok daerah.&lt;br /&gt;Pembatasan kelompok umur akan memungkinkan untuk menjaring atlet-atlet muda penuh potensi, daripada mempertahankan atlet senior hanya untuk prestasi sesaat dan melupakan pembinaan.&lt;br /&gt;Rasanya atlet-atlet sekaliber Taufik Hidayat, Wynne Prakusya, Angelique Widjaja, Kresna Bayu serta deretan atlet papan atas yang sudah memiliki kaliber dunia, tidak perlu lagi bertarung di ajang ini. Kesempatan sudah selayaknya diberikan pada para bibit-bibit muda, sehingga ajang empat tahunan ini tidak semata-mata menonjolkan gengsi kedaerahan, melainkan kepentingan yang lebih luas, untuk perkembangan olahraga nasional.&lt;br /&gt;Dilema memang akan menghantui para atlet tersebut. Jika mereka menolak, tudingan atlet kacang lupa pada kulitnya pasti akan diarahkan padanya. Namun jika turut bersaing pun tidak banyak manfaat yang bisa diraih para atlet tersebut.&lt;br /&gt;Mungkin saja turunnya atlet-atlet top di ajang PON akan memberikan pelajaran yang berarti bagi atlet lainnya. Namun tampaknya aspek bisnis serta persoalan gengsi lebih mengemuka dalam masalah tersebut. Terlibatnya atlet-atlet papan atas akan menjadikan ajang olahraga empat tahunan itu semain terlihat bergengsi.&lt;br /&gt;Pertanyaannya, apakah arah PON hanya untuk ajang gengsi-gengsian antar daerah yang para atletnya sendiri merupakan hasil bajakan, ataukah pesta olahraga ini akan dijadikan menjadi kawah candradimuka pembibitan atlet-atlet potensial.&lt;br /&gt;Bukan tidak mungkin jika PON difokuskan pada ajang pembibitan usia muda, akan lahir Taufik Hidayat-Taufik Hidayat lainnya, ataupun Angelique Widjaja baru dari ajang tersebut.&lt;br /&gt;Persoalan utama olahraga di negeri ini adalah faktor pembinaan dan pembibitan. Salah satu contohnya adalah ketika tidak adanya penerus Mia Audina setelah era Susi Susanti di cabang bulu tangkis, menjadi persoalan yang tak terjawab hingga saat ini. Bintang-bintang sekelas Angie, Wynne pun seakan hanya lahir dalam beberapa tahun sekali. Tidak ada kontinyuitas yang terjaga di berbagai cabang olahraga di Indonesia.&lt;br /&gt;Lagi-lagi, saya tergoda untuk membandingkan PON dengan Olimpiade. Jika hanya melulu soal gengsi kedaerahan, lalu, apa hebatnya PON?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30584984-3932984520776844581?l=kadupakhalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/feeds/3932984520776844581/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30584984&amp;postID=3932984520776844581' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/3932984520776844581'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/3932984520776844581'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/2007/11/apa-hebatnya-pon.html' title='Apa hebatnya PON?'/><author><name>dr bagja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02929520382035450628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/Rzg3f6DmXlI/AAAAAAAAAB0/l3PjCaTAknU/s72-c/pon.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30584984.post-8319476593672530973</id><published>2007-11-12T03:16:00.000-08:00</published><updated>2007-11-13T21:57:00.886-08:00</updated><title type='text'>Si anak bengal telah dewasa</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/Rzg2VqDmXkI/AAAAAAAAABs/SJXaBLn2f9I/s1600-h/Taufik_tma.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5131911521083219522" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/Rzg2VqDmXkI/AAAAAAAAABs/SJXaBLn2f9I/s200/Taufik_tma.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Cool, tampan, kaya, muda dan terkenal itulah sosok pebulutangkis putra Indonesia, Taufik Hidayat. Jangan heran jika banyak gadis di negeri ini tergila-gila dengan atlet yang memiliki wajah 'bayi' tersebut. Dengan apa yang dimilikinya, tak sulit bagi Taufik untuk memasuki kehidupan sebagai seorang selebritis muda lengkap dengan segala atributnya. Dan seperti layaknya para 'pesohor' lainnya, Taufik yang kebetulan memiliki teman dekat dari kalangan artis, kerap diusik kehidupan pribadinya. Konsekwensi logis yang kerap membuatnya kadang 'uring-uringan'. Hasilnya, ketenaran namanya pun, melebihi prestasi yang diraihnya.&lt;br /&gt;Selain dikenal seorang atlet tampan nan kaya, Taufik juga dikenal sosok pemberontak yang meledak-ledak Sebagai seorang pemain muda, Taufik berani mengkritik keras pengurus PBSI (Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia) secara terbuka. Tak urung lontaran kata-kata 'pedas'-nya, kerap memerahkan telinga para pengurus saat itu.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Taufik berani mengambil keputusan untuk hengkang ke Singapura, ketika keinginannya untuk dilatih pelatih pilihannya, Mulyo Handoyo, tidak dipenuhi PBSI.&lt;br /&gt;Selain itu, Taufik pun dikenal sebagai pemain temperamental. Mungkin hanya Taufik atlet bulu tangkis di Indonesia yang berani menantang penonton untuk berkelahi ketika seorang penonton mengejek penampilannya. Berbagai masalah yang berkaitan dengan sikapnya pun terus bermunculan, dari mulai dikeroyok sopir bis hingga harus berurusan dengan pihak kepolisian setelah terlibat pertengkaran dengan sopir pribadi kerabat Jusuf Kalla. Terakhir, pemain kelahiran Pangalengan Bandung, 23 tahun lalu itu pun kembali menjadi bahan berita ketika dia bersitegang dengan pelatih Joko Suprianto dan meminta kembali dilatih Mulyo Handoyo.&lt;br /&gt;Tapi bisa jadi pula, itulah kekuatan yang dimiliki Taufik. Seperti yang diungkapkan penyerang muda Inggris yang bersinar di ajang Piala Eropa lalu, Wayne Rooney. Penyerang Everton itu mengaku, sikap temperamentalnya merupakan kekuatan yang dimilikinya di lapangan. “Saya tidak akan merubah sifat saya,” tandas Rooney ketika disinggung soal sikap meledak-ledaknya di lapangan.&lt;br /&gt;Soal sikap 'nakal' Taufik, humas KONI, Linda Wahyudi mengatakan; “Taufik adalah pemain berbakat. Seperti orang-orang berbakat pada umumnya yang memiliki sifat unik, kenakalan itulah yang menjadi sifat uniknya.”&lt;br /&gt;Taufik memang sosok yang istimewa untuk dicermati. Sebagai pemain, talenta Taufik pun sudah diendus para pemerhati bulu tangkis nasional sejak dia masih berusia belasan dan mengikuti kejuaraan nasional di Bandung. Berawal dari ajang itu, Taufik pun dianggap layak untuk menghuni pelatnas bulu tangkis di Cipayung.&lt;br /&gt;Ketampanan dan kemampuannya 'menepok bulu angsa' membuat nama Taufik melejit melebihi para seniornya. Seiring dengan ketenarannya, ratusan juta rupiah dari sponsor dan honor sebagai bintang iklan berbagai produk terus mengalir ke kantongnya. Lengkaplah sudah, wajah tampan, kekayaan dan ketenaran menjadi miliknya.&lt;br /&gt;Bahkan beberapa wartawan baik dalam maupun luar negeri lebih senang bertanya soal berapa mobil sport yang dia miliki dari pada mengusik prestasinya di bulu tangkis.&lt;br /&gt;Namun hal itu pulalah yang membuat karier bulutangkisnya lamat-lamat semakin meredup. Entah karena tak kuat menahan beban sebagai pesohor, atau karena sebab lainnya, yang jelas nama Taufik lebih dikenal sebagai sosok atlet 'nakal'.&lt;br /&gt;Saya jadi teringat petenis Rusia, Anna Kournikova. Wajah rupawan dan kemolekan tubuh yang dimiliki petenis cantik ini, membuat dia lebih dikenal di luar lapangan tenis yang merupakan pijakan awalnya untuk mendunia. Di tenis sendiri, Kournikova nyaris tidak pernah meraih satu gelar bergengsi pun.&lt;br /&gt;Seperti halnya Anna, Taufik pun mengalami kondisi yang nyaris serupa. Keberangkatannya ke ajang Olimpiade pun hanya sebagai atlet yang tidak diunggulkan. Tak heran jika banyak orang lebih berharap pada tunggal putra lainnya, Sony Dwi Kuncoro, yang merupakan juniornya di Pelatnas, dibanding menggantungkan harapan pada Taufik sendiri.&lt;br /&gt;Sabtu (21/8) lalu, semuanya berubah. Si 'anak bengal' yang lebih pantas menjadi selebritis ini akhirnya menjawab keraguan ketika berhasil menjaga tradisi emas bulu tangkis di ajang multi event paling bergengsi di planet bumi tersebut. Melalui pertarungan alot --bahkan Taufik sempat tertinggal dari lawannya 0-6--Taufik akhirnya menyudahi perlawanan pemain bulu tangkis asal Korea Selatan, Shon Seung Mo, dua set langsung 15-8, 15-7.&lt;br /&gt;Membanggakan? Tentu saja. Bahkan ada sesuatu yang istimewa dalam sukses yang diraih Taufik kali ini. Selain merupakan emas pertamanya di ajang empat tahunan tersebut, pebulutangkis yang dikenal 'bengal' itu juga turun ke gelanggang dengan atribut pemain non unggulan.&lt;br /&gt;Setelah 12 tahun menunggu, melalui Taufik, Indonesia berhasil mengulang kejayaan Alan Budi Kusuma yang merebut emas tunggal putra bulu tangkis di Olimpiade Barcelona 1992 lalu. Melalui Taufik pulalah Indonesia berhasil mempertahankan tradisi emas bulu tangkis yang telah berjalan selama 12 tahun.&lt;br /&gt;Di luar iming-iming bonus sebesar 1 Milyar rupiah dari KONI, yang jelas penampilan Taufik tampak berbeda dibanding sebelumnya. Gaya Taufik yang kerap meledak-ledak dan temperamental, tidak terlalu menonjol kali ini. Hasilnya, pemain berwajah 'bayi' ini pun mampu membuktikan dirinya pantas untuk dibanggakan.&lt;br /&gt;Ada hal yang berubah dari Taufik, dia terlihat semakin matang dan dewasa secara mental. Di ajang Olimpiade ini, Taufik tampil lebih kalem dan tidak mengumbar emosi seperti penampilan-penampilan sebelumnya. Hal itupun diakuinya. “Mungkin sekarang saya sudah mulai dewasa,” akunya ketika disinggung soal gayanya yang terlihat lebih kalem.&lt;br /&gt;Kedewasaan tampaknya menjadi kata kunci bagi keberhasilan seorang atlet. Masih ingat ketika gelandang tampan Inggris, David Beckham tak mampu membendung emosinya hingga melakukan hal bodoh terhadap pemain Argentina Diego Simeone di ajang Piala Dunia 1998 lalu. Karena kebodohannya, Beckham diganjar kartu merah dan Inggris pun tersingkir.&lt;br /&gt;Media Inggris pun mencecar suami Victoria 'Spice Girls' Adams itu sebagai orang tolol egois yang tidak mementingkan kepentingan tim. Untuk beberapa lama, Beckham pun menjadi 'musuh' publik Inggris.&lt;br /&gt;Namun apa yang terjadi di Piala Dunia 2002, ketika Inggris kembali bertemu Argentina. Beckham yang saat itu sudah mengenakan ban kapten menepis berbagai prediksi media yang memperkirakan akan terjadi perseteruan panas lagi antara dirinya dengan Simeone. Secara tak terduga, Beckham tiba-tiba menghampiri Simeone dan mengulurkan tangan dengan sikap yang 'hangat'. Beckham pun mengaku, kedewasaannya telah menyelamatkan dirinya dari ketololan.&lt;br /&gt;Bagaimana dengan Taufik? Tampaknya hal itu pulalah yang tengah dialami pebulu tangkis tampan itu. Terlepas dari berbagai motivasi apa yang mendorongnya, yang jelas proses kedewasaannya telah mengantarkannya kembali menuju puncak. Tidak hanya untuk dirinya, namun Taufik juga telah memberikan sesuatu untuk negeri dan bangsa ini. Bravo Taufik!&lt;br /&gt;Dhany R Bagja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30584984-8319476593672530973?l=kadupakhalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/feeds/8319476593672530973/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30584984&amp;postID=8319476593672530973' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/8319476593672530973'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/8319476593672530973'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/2007/11/si-anak-bengal-telah-dewasa.html' title='Si anak bengal telah dewasa'/><author><name>dr bagja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02929520382035450628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/Rzg2VqDmXkI/AAAAAAAAABs/SJXaBLn2f9I/s72-c/Taufik_tma.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30584984.post-5977222677676106799</id><published>2007-11-12T03:04:00.000-08:00</published><updated>2007-11-12T03:12:12.197-08:00</updated><title type='text'>PDIPP bla bla bla</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/Rzg0DqDmXjI/AAAAAAAAABk/p_NcueTxLxw/s1600-h/PDI.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5131909012822318642" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/Rzg0DqDmXjI/AAAAAAAAABk/p_NcueTxLxw/s200/PDI.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Kongres Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) telah usai pekan lalu. Tidak seperti yang diduga sebelumnya, jalannya kongres begitu mulus berlangsung. Dan tanpa aral melintang yang berarti, Megawati Soekarnoputri kembali terpilih sebagai orang nomor satu di partai berlambang banteng gemuk tersebut.&lt;br /&gt;Gerakan pembaruan yang diusung sejumlah kader pun tidak menampakkan giginya di ajang lima tahunan itu. Meski sebelumnya sejumlah tokoh yang menukangi pembaruan gencar menyuarakan perubahan untuk menggoyang dominasi putri mantan presiden pertama RI tersebut, namun kenyataannya, kongres yang digelar di Bali sejak 28 hingga 31 Maret lalu itu berjalan dengan antiklimaks.&lt;br /&gt;Gerakan pembaruan sendiri, menurut Sukowaluyo Mintorahardjo yang merupakan salah satu pentolannya, muncul sebagai akibat dari adanya pelecehan yang telah dilakukan Megawati sebagai ketua umum partai terhadap AD/ART. Gagasan formatur tunggal dan hak prerogatif di tangan ketua umum menjadi pangkal persoalan yang telah membuat partai ini terbelah.&lt;br /&gt;Selanjutnya, mereka pun berniat menggalang berbagai upaya untuk menentang keabsahan kongres, termasuk menyiapkan seribu gugatan hukum.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, berbagai manuver yang dilakukan gerakan pembaruan menjelang dan di awal kongres, nyaris tidak berpengaruh sama sekali pada dominasi Mega dan orang-orangnya. Bahkan pada akhirnya, tak ada perdebatan seru di kongres seperti yang dijanjikan. Juga tak ada kongres tandingan sepadan yang sebelumnya merebak kencang.&lt;br /&gt;Lalu, sampai dimana gerakan pembaruan PDIP saat ini?&lt;br /&gt;Senin (4/4) lalu, tokoh-tokoh pembaruan yang dimotori Sophan Sophiaan, Arifin Panigoro, Laksamana Sukardi, Roy BB Janis, Sukowaluyo serta mantan pejabat teras PDIP lainnya, berkumpul di Hotel Sahid Jakarta untuk mendeklarasikan Pimpinan Kolektif Nasional Gerakan Pembaruan PDIP.&lt;br /&gt;Meski para tokoh yang berseberangan dengan Mega itu masih malu-malu untuk menyebut apa yang mereka deklarasikan sebagai PDIP tandingan, namun kenyataannya, dengan membentuk kepengurusan di setiap daerah, sudah jelas ke mana arah yang akan dituju para penggagas perubahan tersebut.&lt;br /&gt;Gerakan Tandingan&lt;br /&gt;Gerakan tandingan di partai berlambang banteng tersebut memiliki catatan yang begitu kental. Sebelum PDI diembeli-embeli huruf 'P' di belakangnya, partai yang merupakan fusi dari beberapa partai berhaluan nasionalis itu termasuk yang paling dinamis dibanding dua pesaingnya di masa orde baru, Golongan Karya dan partai Persatuan Pembangunan.&lt;br /&gt;Dengan mengusung jargon sebagai partai anak muda, PDI yang saat itu dipimpin Soerjadi menjadi salah satu kekuatan yang membuat miris pemerintahan Soeharto. Soerjadi yang dengan cerdik memanfaatkan istilah gaul anak muda, 'metal' yang diplesetkan menjadi singkatan merah total, benar-benar mampu membius jutaan anak muda di negeri ini untuk memerahkan setiap kota dalam setiap kampanyenya.&lt;br /&gt;Dukungan semakin menjadi ketika Soerjadi merangkul keluarga Bung Karno -yang dikarantina secara politis oleh pemerintahan orba- sebagai salah satu vote getter. Sosok Megawati yang sebelumnya hanya ibu rumah tangga biasa pun tiba-tiba berubah menjadi simbol perlawanan terhadap pemerintahan Soeharto.&lt;br /&gt;Dosa terbesar Soerjadi di mata pemerintah adalah telah menggolkan Megawati sebagai ketua umum PDI. Solusinya, Soerjadi pun 'dipaksa' membuat kongres tandingan yang kembali menempatkan dirinya sebagai pucuk pimpinan untuk mengeliminir kekuatan Megawati di mata para konstituennya.&lt;br /&gt;Namun hal tak terduga pun terjadi. Massa pro-Mega yang semakin hari semakin menggelembung bukan persoalan sederhana untuk diatasi. Militansi kelompok yang sebagian besar merupakan kaum marginal, tidak lagi menjadi persoalan partai semata, namun telah menjadi masalah yang mengancam stabilitas di negeri ini.&lt;br /&gt;Bersama tim Pembela Demokrasi Indonesia pimpinan RO Tambunan, Mega dan para pendukungnya pun tak lelah untuk melakukan gugatan ke berbagai pengadilan di negeri ini soal keabsahan kongres PDI ala Soerjadi. Dan puncaknya, peristiwa 27 Juli 1996 yang memakan ratusan korban jiwa pun terjadi.&lt;br /&gt;Memasuki era reformasi, PDI Mega yang lebih besar dari PDI Soerjadi akhirnya diembeli kata Perjuangan sebagai pembeda. Kejutan terus berlanjut ketika PDIP menjelma menjadi partai besar pemenang Pemilu 1999 dan menempatkan Megawati sebagai orang nomor satu di Republik ini.&lt;br /&gt;Sejarah Berulang&lt;br /&gt;Kepopuleran Megawati yang mengusung trah Soekarno tampaknya menjadi asset paling berharga di partai tersebut. Pengidolaan berlebihan -jika tidak mau disebut pengkultusan individu- pun tak terelakkan. Meski Mega-sentris telah banyak dikeluhkan beberapa kader yang berani bicara, seperti Sophan Sophiaan, Eros Djarot dan beberapa orang lainnya hingga membuat mereka lebih memilih di luar lingkaran, namun sosok Megawati tampaknya terlalu kuat untuk digoyang.&lt;br /&gt;Puncaknya, kongres PDIP II di Bali membuat pemetaan antara kelompok pro dan kontra Megawati semakin jelas.&lt;br /&gt;Bagaikan sejarah yang berulang, partai berhaluan nasionalis itupun kembali terpecah. Perpecahan itupun semakin menguatkan pemeo politik usang, 'dalam politik tidak ada teman yang abadi namun hanya ada kepentingan yang abadi.' Faktanya, tokoh-tokoh yang dulu pasang badan membela Megawati, kali ini menjadi lawan yang bisa menjatuhkan.&lt;br /&gt;Gerakan pembaruan yang menjadi kelompok pembangkang pun melakukan hal yang sama dengan PDIP dulu, yaitu melakukan legal action untuk mempersoalkan keabsahan kongres Bali.&lt;br /&gt;Ironisnya, TPDI dengan RO Tambunan-nya yang juga dulu mati-matian membela Megawati kini berada di pihak yang berseberangan dengan mantan presiden RI tersebut.&lt;br /&gt;Pertanyaannya, akankah gerakan pembauran memenangkan berbagai gugatan mereka terhadap keabsahan kongres PDIP II Bali, atau bisa jadi mereka akan membentuk partai tandingan dengan satu lagi embel-embel huruf 'P' untuk kata 'Pembaruan'di belakangnya menjadi PDIPP.&lt;br /&gt;Andai saja PDIPP juga menjadi partai yang besar kelak dan kembali terpecah -mengingat sejarah tandingan yang begitu kental di partai tersebut, maka akan semakin panjang huruf tambahan di belakang nama partai itu menjadi PDIPP... Bla Bla Bla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dhany R Bagja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30584984-5977222677676106799?l=kadupakhalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/feeds/5977222677676106799/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30584984&amp;postID=5977222677676106799' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/5977222677676106799'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/5977222677676106799'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/2007/11/pdipp-bla-bla-bla.html' title='PDIPP bla bla bla'/><author><name>dr bagja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02929520382035450628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/Rzg0DqDmXjI/AAAAAAAAABk/p_NcueTxLxw/s72-c/PDI.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30584984.post-6886701314916581617</id><published>2007-11-12T01:22:00.000-08:00</published><updated>2007-11-13T21:57:55.472-08:00</updated><title type='text'>PSSI, prestasi dan gula</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/RzgbkKDmXhI/AAAAAAAAABU/WrX1DMFOCXE/s1600-h/pssi.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5131882083377372690" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/RzgbkKDmXhI/AAAAAAAAABU/WrX1DMFOCXE/s200/pssi.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Di tengah harapan yang membuncah akan prestasi timnas sepak bola Indonesia, ada kenyataan mengejutkan yang menyeruak dan menggedor kesadaran kita; Tim merah putih mengalahkan Qatar di putaran final Piala Asia.&lt;br /&gt;Meski sukses yang diraih pasukan Ivan Kolev itu baru di babak awal, namun tak pelak kemenangan untuk pertamakalinya di ajang tertinggi persepakbolaan benua Asia ini melahirkan berbagai macam perasaan; gembira, terkejut dan -maaf jika hal ini dianggap terlalu merendahkan- tak percaya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana bisa kita menerima hal itu sebagai kejadian yang biasa-biasa saja, ketika fakta yang ada membeberkan kemenangan merupakan sesuatu yang langka bagi tim sepak bola kita. Terlebih lagi, mengingat Qatar adalah salah satu tim terkuat di Asia. Belum lagi adanya kenyataan pasukan dari negeri Teluk itu dibesut pelatih kelas dunia asal Prancis, Phillipe Troussier, yang sebelumnya sukses menegakkan reputasi persepakbolaan Jepang.&lt;br /&gt;Prestasi persepakbolaan negeri ini memang sudah lama mati suri. Bahkan, ajang Piala Asia yang digelar di daratan Tiongkok pun seakan tidak menarik minat publik sepak bola Indonesia untuk sekedar mengikutinya. Bisa jadi karena masyarakat sepak bola Indonesia sebelumnya dimanja dengan tontonan spektakuler Piala Eropa yang melibatkan bintang-bintang lapangan hijau terbaik di planet bumi ini. Degradasi nilai pun terjadi ketika mata mereka menyaksikan Piala Asia. Namun bisa jadi juga, masyarakat kita terlanjur apatis terhadap perjalanan prestasi tim merah putih.&lt;br /&gt;Jangankan di lingkup yang lebih besar seperti Asia, di Asia Tenggara saja kekuatan sepak bola Indonesia masih jauh di bawah Thailand. Bahkan Indonesia yang dulu disebut-sebut sebagai macan sepak bola Asia Tenggara bersama Thailand, kini harus mengakui kekuatan baru sepak bola seperti Vietnam, Malaysia dan Singapura. Ajang SEA Games, maupun Piala Tiger bisa menjadi salah satu bukti sahih soal miskinnya prestasi pasukan merah putih di tingkat regional.&lt;br /&gt;Kenyataan-kenyataan seperti itu telah membuat publik tidak lagi banyak berharap. Tapi paling tidak kita punya romantisme ketika deretan nama-nama seperti Ramang, Rony Pati, Sutjipto, Iswadi dan beberapa nama lainnya sempat menegakkan reputasi sepak bola Indonesia di persaingan Asia.&lt;br /&gt;Era itu sempat dilanjutkan Bambang Nurdiansyah, Ricky Yakobi, Robby Darwis dan nama lainnya. Setelah itu, persepakbolaan Indonesia seakan enggan bangkit dari tidur panjangnya.&lt;br /&gt;Program-program PSSI seperti PSSI Primavera yang dilanjutkan dengan PSSI Baretti yang mengirimkan sekelompok terbaik anak bangsa di lapangan hijau ke negeri Italia, seakan hanya gaung yang tak jelas bentuknya. Memang lahir nama-nama seperi Kurniawan Dwi Julianto, Bima Sakti, Uston Nawawi, namun hal itu tidak cukup untuk menjadikan tim Indonesia berada di level bergengsi dalam peta persepakbolaan.&lt;br /&gt;Carut marutnya prestasi sepak bola Indonesia tidak terlepas dari cara kerja PSSI sebagai induk organisasi sepak bola itu sendiri. Faktor salah urus serta kurang mampunya PSSI me-manage persepakbolaan tanah air, diyakini menjadi masalah utama centang perenangnya prestasi sepak bola Indonesia.&lt;br /&gt;Jangankan untuk mengurus soal prestasi, mengurus dirinya sendiri (baca: pengurus), induk organisasai sepak bola ini seakan kehabisan akal. Energi para pengurus seakan terkuras hanya untuk menyelesaikan konflik internal yang mengusung berbagai kepentingan pribadi dan golongan.&lt;br /&gt;PSSI merupakan salah satu induk organisasi olahraga yang memiliki sejarah panjang soal perseteruan antar pengurus. Berita-berita soal PSSI kebanyakan bukanlah soal prestasi, tapi keributan antar pengurus yang begitu mendominasi di berbagai media massa. Bahkan ada guyonan, pengurus PSSI lebih terkenal dibanding para pemain sepak bola itu sendiri .&lt;br /&gt;Jika merunut jauh ke belakang, PSSI seakan tak habis-habisnya melahirkan berita perseteruan. Sejak jaman kompetisi Galatama dan Perserikatan hingga kompetisi yang bertajuk Liga Indonesia.&lt;br /&gt;Masih ingat dalam ingatan bagaimana kasus suap yang lebih dikenal dengan istilah 'mafia wasit' merontokkan sendi-sendi sportivitas persepakbolaan kita Kasus yang sempat merebak di tahun 90-an itu menyeret beberapa nama pengurus PSSI di dalamnya. Bahkan beberapa wasit yang memiliki sertifikat FIFA pun akhirnya harus puas di-grounded-kan. Akibatnya, kompetisi-kompetisi internasional baik itu di tingkat Asia maupun dunia tidak lagi mencantumkan nama wasit asal Indonesia di dalamnya. Tak bisa dipungkiri, masalah itu tidak hanya merusak tatanan olahraga kita, tapi juga telah menodai harga diri bangsa.&lt;br /&gt;Belum lagi ajang Liga Indonesia yang kerap memicu kerusuhan antar penonton, atau antar pemain itu sendiri. Sukar dibayangkan jika dari ajang olahraga yang menjunjung tinggi sportivitas lahir kerusuhan yang berdarah-darah. Tapi kenyataannya hal itu memang terjadi di negeri ini.&lt;br /&gt;Konflik di tubuh persepakbolaan Indonesia pun kian mendarah daging. Adanya tindakan para pengurus untuk membawa kepentingan klub dalam kepengurusan, kian merunyamkan organisasi itu. Seperti halnya yang dilakukan salah seorang oknum pengurus yang mengancam wasit untuk memenangkan klubnya. Bahkan ancaman itu tidak hanya dilancarkan secara verbal, namun sudah melibatkan ancaman fisik.&lt;br /&gt;Kedewasaan para pengurus untuk memajukan persepakbolaan dalam lingkup nasional nampaknya masih dikalahkan oleh kepentingan-kepentingan pribadi maupun golongan yang diwakilinya.&lt;br /&gt;Kasus yang teranyar adalah penahanan ketua umum PSSI, Nurdin Halid berkaitan kasus gula impor ilegal. Kasus gula itu tidak hanya melibatkan Nurdin sebagai ketua umum PSSI, tetapi salah satu pengurus teras PSSI lainnya yang merupakan karib Nurdin, M Zein pun menjadi tersangka.&lt;br /&gt;Tak bisa dibayangkan jika suatu organisasi yang membutuhkan penanganan serius kehilangan dua pengurus terasnya yang nota bene merupakan decision maker organisasi tersebut. Mungkin secara keorganisasian tidak adanya ketua umum masih bisa ditangani oleh sekjen, tapi bagaimana soal pendanaan mengingat selama ini masalah pendanaan menjadi hak prerogatif ketua umum. Bahkan bukan rahasia lagi jika pendanaan di PSSI sangat tergantung dari figur ketua umumnya. Hal itu pulalah yang dijanjikan Nurdin saat maju mencalonkan diri sebagai ketua umum yang sebelumnya diduduki Agum Gumelar itu. Masalah dana pulalah yang kerap menjadi kambing hitam dengan miskinnya prestasi sepak bola Indonesia.&lt;br /&gt;Lalu, sosok seperti apa lagi yang dibutuhkan PSSI untuk mengisi kursi kosong ketua umumnya? Yang jelas, figur gila bola dan jor-joran dalam masalah dana seperti layaknya Nurdin Halid, tetap dibutuhkan PSSI. Tapi tentunya, dana yang dibutuhkan PSSI harus benar-benar jelas juntrungannya dan tidak lagi mengatasnamakan pribadi, apalagi terkait kasus gula yang merugikan negara..&lt;br /&gt;Persoalan dana memang menjadi masalah pelik. Hal itupun menjadi kian rumit mengingat PSSI harus mengeluarkan puluhan milyar rupiah untuk peningkatan prestasi termasuk membayar dua pelatih asing, Ivan Venkov Kolev asal Bulgaria dan Peter Withe asal Inggris. Bahkan kabarnya, Withe yang sebelumnya sukses membangun persepakbolaan Thailand, hingga saat ini gajinya belum juga beres.&lt;br /&gt;Timbul pertanyaan, prestasi apa yang diharapkan dengan kondisi seperti itu?&lt;br /&gt;Jangan dulu bicara soal prestasi, tapi setidaknya nikmati saja dulu sukses tim Indonesia di ajang Piala Asia yang mengalahkan Qatar. Paling tidak, tim Indonesia masih bisa memberikan secercah harapan , meski menghadapi tuan rumah RRT, Syamsul Bachri dan kawan-kawan masih diposisikan sebagai tim under dog.&lt;br /&gt;Berharaplah, siapa tahu keajaiban akan kembali terjadi. Berharap pula kemelut yang mendera PSSI dan bos besarnya tidak mempengaruhi penampilan Indonesia dalam pertandingan malam nanti. Semoga !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dhany R Bagja &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30584984-6886701314916581617?l=kadupakhalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/feeds/6886701314916581617/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30584984&amp;postID=6886701314916581617' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/6886701314916581617'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/6886701314916581617'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/2007/11/pssi-prestasi-dan-gula.html' title='PSSI, prestasi dan gula'/><author><name>dr bagja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02929520382035450628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/RzgbkKDmXhI/AAAAAAAAABU/WrX1DMFOCXE/s72-c/pssi.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30584984.post-4355267350584508434</id><published>2007-11-12T01:06:00.000-08:00</published><updated>2007-11-13T21:58:38.259-08:00</updated><title type='text'>Nyoblos</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/RzgaDqDmXgI/AAAAAAAAABM/4OaWL5atht8/s1600-h/nyoblos.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5131880425519996418" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/RzgaDqDmXgI/AAAAAAAAABM/4OaWL5atht8/s200/nyoblos.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Ritual lima tahunan pemilihan umum, baru saja digelar. Meski dalam format yang berbeda -kali ini memilih presiden secara langsung serta melalui dua tahap pencoblosan- namun tetap saja aromanya sama. Ada isu soal money politics, ada isu serangan fajar dan tentu saja isu soal kecurangan penghitungan. Malah terkadang isu kerusuhan pun kerap menghantui dalam setiap pemilu.&lt;br /&gt;Yang menarik, terlepas dari segala kecurangan yang menyertainya, animo (sebagian) masyarakat terhadap ritual ini tetap sama besar atau mungkin lebih dari sebelumnya. Entah karena pemilu kali ini dengan 'rasa baru' atau karena hal lainnya, yang jelas pesta demokrasi yang lebih dikenal dengan istilah nyoblos ini sedikit terasa lebih 'diperhatikan' oleh para konstituen&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan dari Bandung hingga Jakarta, dari jendela kereta yang membawa saya pagi itu (Senin 5 Juli), keramaian hanya terlihat di TPS-TPS. Selebihnya, jalanan tampak lengang. Bahkan ketika jam di dinding kereta baru menunjukkan pukul 06.30, antrean para pemilih di daerah Purwakarta sudah cukup panjang. Hal yang sama juga terjadi di Jakarta. Luar biasa memang 'magnet' yang ditimbulkan oleh kenduri politik yang bertajuk nyoblos ini. Sulit dibayangkan jika hal itu dilakukan para pemilih, terlebih lagi dinihari sebelumnya ada partai puncak Piala Eropa yang tentu saja sangat sayang untuk diabaikan.&lt;br /&gt;Nyoblos juga menjadi satu ajang yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Seperti halnya hari-hari besar keagamaan, hari pemilihan pun menjadi hari istimewa, tentu saja prosesi 'mudik' pun tidak ketinggalan di dalamnya.&lt;br /&gt;Mudik? Anda boleh mempertanyakan hal itu. Tapi faktanya memang demikian. Hampir di setiap terminal bis antar kota di Jakarta maupun di statsiun kereta api, aroma mudik kental merebak hari Sabtu (3/7) lalu. Tidak bisa dipungkiri, musim liburan sekolah memang menjadi salah satu alasan bagi masyarakat untuk menyesaki terminal. Tapi, tidak bisa dipungkiri pula ada sebagian masyarakat yang mudik ke kampung halamannya hanya untuk nyoblos, setelah itu kembali melanjutkan rutinitasnya di ibu kota.&lt;br /&gt;Proses Pemilihan Presiden memang tidak sesederhana pemilihan bintang AFI, ketika kita tinggal duduk manis di depan pesawat televisi sambil menggenggam handphone untuk memilih sang idola dengan mengirim sms seberapa banyak kita suka.&lt;br /&gt;Begitu pentingnya ritual ini bagi mereka, hingga para pemilih rela bersusah payah melakukan perjalanan panjang untuk sekedar nyoblos. Juga sebagian pemilih rela bangun awal untuk menyumbangkan suaranya bagi idola yang diharapkan akan menjadi pemimpinnya. Selain itu, di beberapa daerah, hari pencoblosan berarti juga beras gratis, mi instant gratis bahkan lembaran Soekarno-Hatta yang tentu saja bisa didapat dengan cuma-cuma.&lt;br /&gt;Namun tetap saja ada hal idealis yang diusung para pemilih tersebut. Fenomena itu setidaknya terjadi di kalangan akar rumput yang banyak menggantungkan harapan dari ajang pencoblosan ini.&lt;br /&gt;Harapan. Itulah kata kunci dari segala kerelaan yang diberikan para pemilih bagi pencoblosan kali ini. Bagaimana tidak, satu suara yang diberikan akan menentukan baik dan buruknya negeri ini untuk lima tahun mendatang.&lt;br /&gt;Setelah harapan menjadi barang yang sangat mahal dalam puluhan tahun terakhir, kini rakyat kembali digugah untuk kembali berharap akan suatu perubahan. Harapan akan sesuatu yang bisa membuat mereka kembali tersenyum.&lt;br /&gt;Lima pasangan kandidat memang telah melakukan tugasnya sebagai capres dan cawapres untuk menggelembungkan harapan rakyat. Bagaimana harapan rakyat begitu merebak melihat calon pemimpinnya rela belanja sayuran di pasar yang becek dengan bau amis begitu menyengat. Juga rakyat semakin terbuai ketika menyaksikan calon pemimpinnya makan di warteg dengan lauk yang sangat sederhana. Dan bagaimana rakyat begitu sumringah ketika para calon pemimpinnya memeluk erat dengan tangan telanjang tanpa mempedulikan keringat dan bau apek yang senantiasa meruap dari tubuh-tubuh hitam mereka.&lt;br /&gt;Para kandidat juga telah melaksanakan tugasnya wara-wiri ke sana ke mari menghabiskan dana milyaran rupiah yang entah dari mana asalnya. Tak ketinggalan segala macam program obral janji lainnya juga menjadi santapan umum yang dengan gencar dilancarkan para calon pemimpinnya.&lt;br /&gt;Di luar segala senyum manis yang ditebar para kandidat, rakyat pun harus menelan berbagai borok yang tiba-tiba merebak tanpa henti. Dari mulai catatan hitam para jenderal, hingga fatwa agama yang dihubung-hubungkan dengan kandidat yang akan bertarung.&lt;br /&gt;Saling tuding di antara lima kubu pun tak terelakkan. Kampanye hitam yang tiba-tiba menohok ruang berpikir rakyat, tak urung membuat mereka kembali berpikir ulang soal idola yang akan dipilihnya.&lt;br /&gt;Bahkan di saat 'minggu tenang' pun, kelima pasangan kandidat tampaknya tidak benar-benar bisa tenang. Mereka atau setidaknya tim sukses mereka, masih harus memikirkan distribusi 'cindera mata' yang harus sampai ke tangan pemilih hanya beberapa saat sebelum waktu pencoblosan tiba.&lt;br /&gt;Soal serangan fajar ini pun begitu dominan mewarnai jelang Pemilihan Presiden. Bahkan serangan fajar yang dulu hanya berupa suplai sembako beberapa saat jelang pemilihan, kini menampakkan dalam wajahnya yang baru berupa voting block. Pihak-pihak yang berkepentingan dengan hal itu membuka posko-posko tersembunyi dan meminta bukti kepada pemilih soal pilihan yang telah dilakukannya. Jika pemilih bisa membuktikan dia memilih sesuai pesanan, maka yang bersangkutan akan mendapatkan imbalan yang dijanjikan.&lt;br /&gt;Di luar semua itu, pertanyaannya, dari lima kandidat yang bertarung, apakah benar-benar mampu mengemban harapan rakyat yang ditimpakan ke pundak mereka? Visi dan misi memang secara fasih diutarakan oleh kelima pasangan. Yang menjadi persoalan adalah komitmen dan kejujuran yang dimiliki para calon pemimpin tersebut.&lt;br /&gt;Ada antusiasme yang diusung rakyat dalam Pemilihan Presiden kali ini. Setidaknya, dari lima pasangan kandidat yang ada -siapapun yang akan terpilih nanti--, merupakan pilihan rakyat yang serta merta akan mendapat legitimasi.&lt;br /&gt;Di hari pencoblosan, kerelaan rakyat pun masih dinodai dengan sedikit kerancuan yang dilakukan pihak penyelenggara. Ada protes soal tinta pemilu yang begitu mudah dihapus, belum lagi ancaman penghitungan yang sangat rentan dimanipulasi.&lt;br /&gt;Persoalan lain timbul ketika KPU tiba-tiba menyebar SK dadakan mengenai kesahihan tata cara pencoblosan melalui sms. Hal-hal tak lazim lainnyapun begitu banyak bertebaran dalam Pilpres kali ini.&lt;br /&gt;Lalu untuk apa segala kerelaan rakyat yang diberikan untuk hajatan politik nyoblos ini jika ternyata para elit sendiri seakan tak siap menghadapi ajang yang baru pertamakali digelar di negeri ini.&lt;br /&gt;Rasanya tak adil jika kerelaan yang diberikan justru dibalas dengan segala kebohongan dan trik-trik kotor dalam pemilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dhany R Bagja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30584984-4355267350584508434?l=kadupakhalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/feeds/4355267350584508434/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30584984&amp;postID=4355267350584508434' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/4355267350584508434'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/4355267350584508434'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/2007/11/nyoblos.html' title='Nyoblos'/><author><name>dr bagja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02929520382035450628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/RzgaDqDmXgI/AAAAAAAAABM/4OaWL5atht8/s72-c/nyoblos.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30584984.post-2481905605221380097</id><published>2007-11-12T00:45:00.000-08:00</published><updated>2007-11-13T21:59:15.480-08:00</updated><title type='text'>Black campaign dan diving politik</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/RzgT8qDmXdI/AAAAAAAAAA0/6koUH4G4tH8/s1600-h/ssp.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5131873708191145426" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/RzgT8qDmXdI/AAAAAAAAAA0/6koUH4G4tH8/s200/ssp.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tiba-tiba istilah 'Black Campaign' terasa begitu akrab di telinga. Hampir setiap hari media massa, baik itu cetak maupun elektronik mencekoki kita dengan istilah yang kurang lebih artinya 'kampanye kotor'atau 'kampanye negatif'.&lt;br /&gt;Seperti halnya istilah-istilah berbau bahasa politik lainnya, kata Black Campaign begitu cepat merebak di semua lapisan masyarakat negeri ini. Bagaimana tidak, selain keren abis, istilah itu juga seakan menunjukkan tingkat intelektualitas bagi orang yang menggunakannya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jangan heran jika ujug-ujug anak Anda mengatakan Black Campaign ketika ada teman sekolahnya yang menjelek-jelekkan dia. Jangan heran pula jika istri Anda di rumah mengatakan hal serupa ketika melihat tokoh kesayangannya difitnah dalam suatu cerita telenovela. Pokoknya istilah ini cool banget deh.&lt;br /&gt;Istilah itu sendiri muncul ketika Pemilu Presiden yang merupakan hajatan demokrasi pertama di Indonesia digelar sejak awal Juni lalu.&lt;br /&gt;Namun, secara harfiah, Black Campaign sebenarnya bukan barang baru. Kampanye negatif telah ada di tanah air jauh sebelum negeri ini bernama Indonesia.&lt;br /&gt;Kisah perebutan takhta raja-raja di nusantara pun memakai Black Campaign sebagai salah satu strateginya. Seperti halnya ketika wangsa Syailendra berebut pengaruh dengan wangsa Sanjaya dalam babad tanah Jawa. Selain peperangan terbuka di antara kedua kubu, aksi saling hasut dan saling fitnah yang merupakan bagian dari kampanye negatif pun dilancarkan, meski tentu saja tanpa harus repot-repot dibentuk tim sukses dulu sebelumnya.&lt;br /&gt;Juga bagaimana Sangkuni melakukan kampanye negatif untuk mendiskreditkan keluarga Pandawa sehingga takhta kerajaan menjadi milik Destarata, anak tertua dari keluarga Kurawa.&lt;br /&gt;Bahkan jika kita menarik lagi jauh ke belakang dalam peradaban purba manusia, ketika dua anak nabi Adam, Habil dan Kabil berebut saudara perempuannya yang cantik nan menawan hingga terjadinya pembunuhan manusia pertama di muka bumi. Hal itupun diawali dengan kampanye negatif Kabil yang mencoba menjelek-jelekkan saudaranya untuk mendapatkan pesona dari adik perempuannya yang konon katanya memiliki paras di atas rata-rata.&lt;br /&gt;Cukuplah kita bicara tentang sesuatu yang bersifat 'konon'. Mari kita kembali ke peradaban tentang pemilihan presiden di sebuah negeri indah bernama Indonesia.&lt;br /&gt;Menjelang pemilihan menuju tampuk kepemimpinan paling tinggi di negeri ini, banyak sekali peristiwa kebetulan -lebih tepatnya sengaja dibikin kebetulan-- yang berkaitan dengan citra diri negatif seorang calon muncul ke permukaan.&lt;br /&gt;Tentu saja, meski bertajuk 'kebetulan', namun karena moment yang diambil adalah saat-saat pemilihan Presiden, masyarakat awam pun akan langsung faham bahwa hal itu adalah upaya untuk menjatuhkan salah satu calon yang akan maju dalam persaingan.&lt;br /&gt;Diawali dengan rencana Mayjen Purn Kivlan Zein menerbitkan buku tentang Pam Swakarsa di masa jelang kejatuhan rezim orde baru yang menyeret mantan atasannya, Jenderal Purn Wiranto.&lt;br /&gt;Sudah jelas kubu Wiranto langsung meradang dan menganggap itu merupakan salah satu upaya pihak 'lawan' untuk menjatuhkan citranya di mata para konstituen.&lt;br /&gt;Bahkan sebelumnya, mantan menko Polkam di era Gus Dur yang maju sebagai capres bersama KH Sholahudin Wahid itu sempat juga diterpa isu panas berkaitan dengan pelanggaran HAM di negeri yang saat ini bernama Timor Leste. Wiranto dianggap sebagai orang yang paling bertanggung jawab berkaitan dengan pembantaian masyarakat sipil di Tim-Tim ketika dia menjabat sebagai Panglima ABRI. Tudingan itu sendiri berakhir -atau setidaknya sementara diakhiri-- usai Wiranto dan Presiden Timor Leste, Xanana Gusmao, saling berpelukan di Bali.&lt;br /&gt;Kasus Pam Swakarsa belum juga selesai, kubu Wiranto masih juga diterpa 'badai' dengan munculnya VCD AFI versi Wiranto. VCD 'panas' yang tadinya berisi wajah-wajah imut idola anak muda seperi Veri Affandi, Kia serta Mawar, tiba-tiba berubah menjadi gambar penuh darah tentang kerusuhan Mei yang terjadi 1988 lalu. Tentu saja gambar itu juga mengajak penontonnya untuk menempatkan Wiranto di posisi yang kembali terpojok.&lt;br /&gt;Wiranto bukanlah satu-satunya capres yang harus merasakan pahitnya Black Campaign. Beberapa capres lainnya pun mengalami hal serupa.&lt;br /&gt;Kasus fatwa haram memilih presiden perempuan yang dilontarkan sejumlah kiai, menjadikan capres dari PDIP, Megawati Soekarnoputri sebagai sasaran tembak yang sempurna. Terlepas dari benar atau tidaknya fatwa tersebut secara syariat Islam, namun sosok Mega yang tengah mencoba membangun imej bagi para pemilihnya, jelas dirugikan.&lt;br /&gt;Capres dari partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono yang akrab dipanggil SBY juga sempat diterpa isu anti Islam. Beberapa SMS sempat beredar yang mengatakan Jenderal kelahiran Pacitan itu akan menjadi 'musuh' umat Islam. Bahkan kasus kerusuhan 27 Juli yang kembali diangkat ke permukaan pun turut serta menyeret namanya.&lt;br /&gt;Yang menarik adalah, pengungkapan kasus 27 Juli ternyata bagaikan senapan mesin yang memberondong ke segala arah. Kubu Mega yang berkaitan langsung dengan peristiwa itu, tak pelak dituding sebagai dalang di balik pengangkatan kasus yang melibatkan Gubernur DKI Sutiyoso tersebut. Sasarannya jelas, jenderal-jenderal yang menjadi kompetitor Mega di ajang pilpres.&lt;br /&gt;Namun kenyataannya, pengungkapan kasus itu justru merugikan kubu Mega sendiri. Hal itu dianggap sebagai sesuatu yang tidak populer dan kontra produktif justru di saat Mega harus merebut simpati rakyat. Pihak PDIP pun menuduh ada pihak lain yang sengaja mengangkat kasus tersebut seolah-olah hal itu berasal dari kubu 'moncong putih'.&lt;br /&gt;Hal senada diungkapkan pengamat politik LIPI, Hermawan Sulistyo. “Kalau dikatakan ini dirancang oleh orang-orang dari kubu Mega, yang merancang itu goblok saja. Tidak mungkin, karena yang dirugikan pasti Mega. Publik mudah percaya, seolah-olah itu akal-akalan Mega,” tandas Hermawan saat itu.&lt;br /&gt;Jika kubu Mega menolak mentah-mentah hal itu sebagai bagian dari program kampanyenya, dan andai itu benar, bisa saja ada pihak lain yang ingin mengambil keuntungan dari kasus tersebut yang melakukannya. Atau bahkan, bukan tidak mungkin kasus tersebut diangkat oleh pihak yang sengaja mengorbankan diri sendiri agar publik balik bersimpati terhadapnya dan mendapat dukungan karena merupakan sosok yang dizalimi.&lt;br /&gt;Saya jadi teringat istilah diving dalam sepak bola. Meski dalam arti sebenarnya, diving berarti meluncur atau menyelam, namun di lapangan hijau, diving berarti sengaja menjatuhkan diri (di kotak penalti lawan) untuk mengambil keuntungan.&lt;br /&gt;Di ajang Piala Eropa --yang saat ini tengah menyita perhatian sebagian besar rakyat Indonesia-- memang belum ada kasus diving yang mencolok. Tapi Anda mungkin masih ingat bagaimana bintang sepak bola Jerman, Juergen Klinsmann yang melakukan aksi teatrikal di wilayah terlarang Belanda pada Piala dunia 1990. Klinsmann pun dikenal sebagai pemain dengan aksi teatrikal yang menjijikan.&lt;br /&gt;Namun aksi diving bukannya tanpa resiko. Contoh paling tepat adalah ketika Francesco Totti menjatuhkan diri di kotak penalti lawan saat menghadapi Korea Selatan di ajang Piala Dunia 2002 lalu. Bukannya keuntungan yang didapat pemain berjuluk 'Pangeran dari Roma' itu, malah wasit menganjarnya dengan kartu kuning kedua yang membuatnya harus meninggalkan lapangan.&lt;br /&gt;Menjatuhkan (baca menganiaya) diri sendiri untuk selanjutnya mengambil keuntungan tanpaknya menjadi salah satu cara dalam mempengaruhi opini publik. Output dari aksi diving yang dilakukan para politisi kita tentu saja kurang lebih sama dengan apa yang diharapkan oleh Klinsmann maupun Totti, sama-sama mengambil keuntungan.&lt;br /&gt;Sah-sah saja apa yang dilakukan setiap kubu untuk menyukseskan jago-jagonya ke kursi RI 1. Dunia politik kita memang sudah lama tercemar oleh cara-cara kotor hingga melahirkan istilah-istilah keren yang memasyarakat. Ada money politic-lah, ada Character Assassination- lah hingga yang terbaru Black Campaign.&lt;br /&gt;Pertanyaannya, apakah dunia politik kita akan terus dibanjiri oleh istilah-istilah baru yang (hanya) berbau negatif?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dhany Rachmat Bagja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan Harian Merdeka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30584984-2481905605221380097?l=kadupakhalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/feeds/2481905605221380097/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30584984&amp;postID=2481905605221380097' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/2481905605221380097'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/2481905605221380097'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/2007/11/black-campaign-dan-diving-politik.html' title='Black campaign dan diving politik'/><author><name>dr bagja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02929520382035450628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/RzgT8qDmXdI/AAAAAAAAAA0/6koUH4G4tH8/s72-c/ssp.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30584984.post-9221708070557825716</id><published>2007-11-12T00:31:00.000-08:00</published><updated>2007-11-12T00:38:59.737-08:00</updated><title type='text'>Menanti capres siap kalah</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/RzgP5aDmXcI/AAAAAAAAAAs/3A-O8YngbdU/s1600-h/soekarno.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5131869254310059458" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/RzgP5aDmXcI/AAAAAAAAAAs/3A-O8YngbdU/s200/soekarno.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt; 'Defeat is school in which &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;truth always grow strong'&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;-Henry Ward Beecher-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Delapan hari sudah kampanye calon presiden (capres) bergulir. Tidak seperti kampanye partai yang hingar bingar memekakkan telinga, kampanye capres lebih terasa 'adem' jika tidak mau dikatakan biasa-biasa saja. Bahkan bisa jadi masyarakat pinggiran tidak 'ngeh' jika saat ini tengah berlangsung pertarungan berebut pengaruh antarelite untuk menuju ke kursi RI-1.&lt;br /&gt;Meski diramaikan dengan perang janji serta iming-iming materi, jika boleh jujur, kampanye capres masih kalah seru dengan persiapan menjelang Piala Eropa yang akan digelar di Portugal, pertengahan Juni ini. Itu bisa dibuktikan dengan banyaknya orang yang lebih memilih mengenakan atribut timnas peserta Euro 2004 dibanding atribut para capres yang tengah bertarung.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi aturan KPU yang membatasi para capres untuk tidak terlalu jor-joran melibatkan massa, menjadi salah satu penyebab sepinya kampanye capres yang baru pertamakalinya digelar di Indonesia. Kemungkinan lainnya, kampanye capres memang 'barang baru' yang butuh sosialisasi. Setelah sekian puluh tahun merasakan pesta demokrasi yang itu-itu juga, kampanye capres menjadi hal yang kurang merakyat terutama di kalangan 'akar rumput'.&lt;br /&gt;Namun tidak serta merta sepinya kampanye capres menjadikan sarana pesta demokrasi itu steril dari berbagai gejolak yang mungkin terjadi. Sekadar untuk tidak membuat kita terlena, potensi konflik yang sangat besar masih senantiasa membayangi pemilihan capres.&lt;br /&gt;Faktanya, ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Jimly Ashidiq sampai harus 'memaksa' para capres menandatangani prasasti perdamaian di hari pertama kampanye dan sama-sama berikrar untuk legowo. “Seorang Capres harus siap menang dan siap kalah,” tandas Jimly dalam acara yang digelar di monumen nasional, Selasa (1/6) lalu itu.&lt;br /&gt;Meski pemilu partai yang demikian hingar-bingarnya bisa berjalan tertib dan aman, namun tidak menjadi jaminan pemilu capres akan berlangsung serupa.&lt;br /&gt;Baiknya kita berkaca pada negeri tetangga Filipina yang disebut-sebut sebagai salah satu lokomotif demokrasi. Negeri tetangga itu selalu digambarkan sebagai negara demokrasi yang paling maju di kawasan Asia Tenggara dengan mengambil contoh saat-saat kejatuhan rezim Ferdinand Marcos, ketika ribuan bahkan mungkin jutaan rakyat turun ke jalan tanpa terjadinya kekerasan. Bahkan disebut-sebut tak sebutir kerikil pun yang terlempar dari kerumunan massa ke arah pihak keamanan yang melakukan penjagaan. Luar biasa jika itu memang benar terjadi. Dan lebih luar biasa lagi jika kita bandingkan dengan masa-masa awal reformasi menjelang kejatuhan rezim Soeharto. Ketika ribuan nyawa melayang percuma, perkosaan, kekerasan serta pembakaran yang begitu marak, membuat negeri ini menjadi 'centang perenang' di awal Mei 1998 lalu.&lt;br /&gt;Akan tetapi kenyataan di Filipina tidak selalu 'indah' seperti yang kerap diungkapkan. Pemilu capres Filipina yang waktunya nyaris berbarengan dengan pemilu capres di Indonesia, ternyata tidak terlepas dari konflik-konflik horizontal antara pendukung calon presiden Gloria Macapagal Arroyo--yang nyaris dipastikan kembali berkuasa--dengan pesaingnya Fernando Goe Jr. Bahkan, sedikitnya 100-an lebih nyawa melayang dalam konflik tersebut. Bentrokan massa tak terhindarkan karena masing-masing merasa berhak menggolkan jagoannya.&lt;br /&gt;Apa yang terjadi di Filipina tampaknya menjadi titik lontar KPU dan MK untuk sedikit 'membatasi' gerak para capres agar tidak terlalu meluaskan wilayah konflik yang bisa saja terjadi. Pemilu capres memang sangat berbeda dengan pemilu partai yang digelar sebelumnya. Massa suatu partai yang dalam kampanye rela berpanas-panas dan berjejal-jejal mendukung partainya, tidak serta merta akan memilih calon yang dijagokan partainya.&lt;br /&gt;Contoh untuk itu begitu banyak terjadi belakangan ini. Bagaimana para kiai NU yang hampir sebagian besar merupakan massa Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) harus saling berperang fatwa dan mengobral dalil di antara mereka hanya untuk mendukung jagonya.&lt;br /&gt;Konflik fisik memang belum terjadi, namun satu hal yang pasti adalah, perpecahan telah merebak di antara para pemuka agama yang notabene memiliki jamaah pendukung yang besar tersebut. Kubu para kiai yang terbelah itu dipicu dengan munculnya dua 'dedengkot' NU di dua pihak yang berbeda. KH Hasyim Muzadi yang merupakan ketua umum NU dan menjadi cawapres Megawati Soekarnoputri di satu pihak, serta Salahuddin Wahid, salah satu ketua NU dan menjadi cawapres Wiranto, di pihak lainnya.&lt;br /&gt;Sudah jelas, hanya dengan mata telanjang pun potensi konflik dalam kasus tersebut memiliki bobot yang sangat berarti jika tidak mau dikatakan berada dalam kondisi 'bahaya'.&lt;br /&gt;Contoh lainnya adalah sikap-sikap nyleneh pengurus partai daerah yang 'memberontak' terhadap keputusan pusat. Apa sebabnya banyak sekali pembelotan di ajang pemilu capres? Bisa jadi kedekatan secara personal lebih kental dibanding keterikatan secara organisasi. Hal itu mendapat contoh yang baik dari Mudrick SM Sangidoe, anggota Majelis Pakar PPP Jawa Tengah yang membelot ke kubu Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla, tanpa mempedulikan 'bos besar'-nya Hamzah Haz yang juga maju sebagai capres.&lt;br /&gt;“Pilihan presiden adalah urusan hati nurani, sangat berbeda dengan saat pemilihan legislator.Tidak jadi masalah kalau karena langkah ini DPP PPP kemudian marah dan mengambil langkah yang drastis untuk saya,” tandas Moedrick saat itu.&lt;br /&gt;Karena 'urusan hati' itulah makanya potensi konflik dari pemilu capres lebih besar daripada pemilu legislatif. Masalah hati setidaknya melibatkan hubungan emosional yang kuat. Kondisi ini bisa jadi diperparah dengan kenyataan lima capres yang maju memiliki massa yang sangat fanatik. Artinya, hanya dengan 'komando' dari seorang pemuka masyarakat maupun agama, kerusuhan berdarah-darah yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya bisa saja terjadi.&lt;br /&gt;Jika kita menarik mundur ke belakang, bagaimana para pemuka agama yang mendukung rezim tertentu menghalalkan darah pesaing politiknya. Akibatnya, ribuan jamaah yang mengartikan secara telanjang fatwa tersebut berlomba-lomba untuk melaksanakan apa yang disebut 'jalan kebaikan' bagi mereka.&lt;br /&gt;Lalu, apa yang akan terjadi dengan pemilu capres yang tahap pertamanya digelar 5 juli mendatang dan dilanjutkan dengan tahap kedua pada tanggal 20 September?&lt;br /&gt;Dari segi hitung-hitungan politik, tahap kedualah yang paling rawan menimbulkan gejolak. Karena tahap tersebut merupakan fase ketika seseorang sudah mulai merasa di atas angin dan sudah menjejakkan satu kakinya di kursi kekuasaan. Bukankah ada ungkapan yang mengatakan, 'kekalahan yang terus-menerus dialami tidak lebih menyakitkan daripada saat-saat Anda nyaris menang'.&lt;br /&gt;Tampaknya hanya kebesaran hati dari tiap calon yang bisa menentukan apa yang akan menimpa bangsa ini. Terlepas dari siapa pemenangnya, yang paling penting adalah bangsa ini merindukan para calon yang kalah bisa membuka mata hati dengan lebih jernih. Semoga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Dhany R Bagja&lt;br /&gt;Wartawan Merdeka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30584984-9221708070557825716?l=kadupakhalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/feeds/9221708070557825716/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30584984&amp;postID=9221708070557825716' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/9221708070557825716'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/9221708070557825716'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/2007/11/menanti-capres-siap-kalah.html' title='Menanti capres siap kalah'/><author><name>dr bagja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02929520382035450628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/RzgP5aDmXcI/AAAAAAAAAAs/3A-O8YngbdU/s72-c/soekarno.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30584984.post-586105014425112014</id><published>2007-07-13T00:48:00.000-07:00</published><updated>2007-09-21T00:45:22.305-07:00</updated><title type='text'>Dari Old Lady Hingga Negeri Kumpeni</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/Rpcu6OHW17I/AAAAAAAAAAU/xqvLOx5eq7E/s1600-h/spain1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5086585881894508466" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/Rpcu6OHW17I/AAAAAAAAAAU/xqvLOx5eq7E/s320/spain1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tepat pukul 14.30 WIB, pesawat yang membawa saya dan rombongan menuju Singapura lepas landas. Ah, lega rasanya, akhirnya saya berangkat juga ke Spanyol, setelah sekian lama melakukan berbagai persiapan dan sempat khawatir soal visa yang sedikit terlambat diurus.&lt;br /&gt;Saya berangkat bersama empat peserta pemenang tiket final Predator vs F50 dan seorang perwakilan dari adidas Indonesia. Tapi, rekan dari adidas hanya mengantarkan kami hingga Singapura, untuk selanjutnya menjadi tanggung jawab perwakilan adidas dari negeri Singa itu.&lt;br /&gt; &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perjalanan Panjang Dimulai&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Dari Singapura rombongan dipisah. Para peserta berangkat ke Madrid dengan pesawat Lufthansa dan transit di Frankfurt, sedangkan saya dan beberapa rekan media lainnya yang berasal dari Singapura menggunakan pesawat KLM melalui Amsterdam.&lt;br /&gt;Uffs, benar-benar perjalanan yang melelahkan. Setelah 13 jam menembus awan, akhirnya kami sampai di bandara Schiphol Amsterdam pada pukul 13.00 waktu setempat. Belum hilang rasanya lelah ini, setelah satu setengah jam menunggu, kami pun melanjutkan perjalanan terbang ke Madrid yang memakan waktu hampir dua jam.&lt;br /&gt;Akhirnya kami tiba di Madrid. Tapi, oh tidak, ternyata saya dan rombongan masih harus melanjutkan penerbangan ke kota Alicante selama satu jam setengah.&lt;br /&gt;Selesai? Simpan dulu pertanyaan itu. Karena dari Alicante, saya dan rekan media lainnya masih harus melanjutkan perjalanan darat ke kota La Manga selama hampir dua jam.&lt;br /&gt;Entah seperti apa rupa kami ketika tiba di hotel Les Delfines – yang disediakan khusus untuk media - dengan bentuk piramid yang sangat eksotis. Yes, hal pertama yang ingin saya lakukan adalah membiarkan badan saya berlama-lama di bawah guyuran shower, setelah hampir 24 jam melakukan perjalanan panjang yang melelahkan ini. Hmm, nikmat rasanya.&lt;br /&gt;La Manga adalah sebuah kota pantai dengan kontur tanah yang berbukit-bukit di provinsi Murcia. Setelah beristirahat beberapa jam, saya mencoba berjalan menyusuri sudut kota yang seperti tak berpenghuni itu. Musim panas yang menyengat kulit, membuat siang di kota wisata itu menjadi lebih panjang dibanding waktu malam. Bahkan pukul 20.30 waktu setempat, bayangan saya masih bisa terlihat dengan jelas. Ah, beruntung saya tidak berada di sini ketika bulan Ramadhan, bisa dibayangkan, saya akan setengah mati menunggu waktu berbuka puasa di tempat seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tempat Menginap The Old Lady&lt;/strong&gt; &lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/RpcvDOHW18I/AAAAAAAAAAc/i2ZfGAJVYR0/s1600-h/spain2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5086586036513331138" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/RpcvDOHW18I/AAAAAAAAAAc/i2ZfGAJVYR0/s320/spain2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hotel tempat saya menginap juga ditempati Old Lady [julukan untuk Juventus]. Wow, satu hotel bersama Juventus? Oh no no, maksud saya dalam arti sebenarnya. Banyak para wanita tua berkumpul dan kongkow-kongkow di tempat tersebut.&lt;br /&gt;Pada pukul 21.00 waktu setempat, saya mendengar suara mendengung bagaikan gerombolan lebah dari arah lobi. Ketika saya melongokkan kepala ke bawah, ternyata puluhan pasangan usia lanjut telah menempati semua meja sambil bergosip dan bermain kartu.&lt;br /&gt;Saya jadi bertanya-tanya, apakah La Manga semacam kota pensiunan? Hampir selama saya berada di kota itu, yang saya temui hanyalah pasangan-pasangan usia lanjut. Beruntung di hari terakhir, saya akhirnya bertemu seorang gadis muda yang langsung saya minta untuk berpose. Bagaimanapun juga, di sini dia bagaikan makhluk langka bagi saya.&lt;br /&gt;Empat hari di La Manga, tiba juga waktunya untuk pulang. Kota yang panas ini telah cukup membakar kulit saya yang memang sudah hitam menjadi semakin legam. Tapi tak apalah, apa yang saya dapatkan di sini telah sebanding dengan pengorbanan yang saya alami.&lt;br /&gt;Bagaimana tidak, saya bisa bertemu para bintang sepakbola dunia di acara yang bertajuk The Finale Predator FC vs F50 FC itu. Saya juga bisa menyaksikan bagaimana adidas mengemas hajatan besar mereka dengan penuh profesional. Dan yang paling menakjubkan adalah, bagaimana adidas menyiapkan lapangan pertandingan untuk final Predator vs F50 di sebuah tebing curam di pinggiran pantai La Manga. Ah, sungguh hal yang tak bisa saya temui tiap hari.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Terdampar di Amsterdam&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/RpcvT-HW19I/AAAAAAAAAAk/HDrq8ZrDu0M/s1600-h/spain3.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5086586324276139986" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/RpcvT-HW19I/AAAAAAAAAAk/HDrq8ZrDu0M/s320/spain3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Perjalanan panjang kembali terulang. Satu setengah jam ke Alicante, dua jam ke Madrid dan dari Madrid ke Amsterdam. Tapi, pesawat yang akan membawa saya dan rombongan ke Amsterdam tak kunjung datang di landas pacu, hingga kekhawatiran itupun terbukti. Penerbangan kami ditunda dua jam dan kami harus menunggu lebih lama lagi di bandara Barajas, Madrid. Muka-muka penumpang yang ditekuk di hadapan saya membuat penantian ini terasa lebih lama.&lt;br /&gt;Keterlambatan itu menimbulkan efek domino. Kami jadi terlambat mengejar penerbangan ke Singapura, dan hal itu membuat saya dan rombongan ‘dipaksa’ menginap di Amsterdam satu malam.&lt;br /&gt;Capek, kesal, ingin marah, dan segala macam perasaan berkecamuk di dada. Saya mencoba protes, karena hal itu membuat tiket saya dari Singapura ke Indonesia terancam hangus. Saya meminta pertanggungjawaban pihak KLM, karena hal itu terjadi atas ulah mereka.&lt;br /&gt;“Itu bukan urusan kami. Urusan kami adalah membawa Anda dari Madrid ke Singapura. Soal tiket, Anda berhubungan langsung dengan mereka,” kata si meneer dari KLM tak kalah galaknya.Ufffs, jangan-jangan orang ini keturunan kumpeni yang dulu mengejar-ngejar si Pitung, pikir saya dengan hati dongkol.&lt;br /&gt;Tapi hikmahnya, saya akhirnya memiliki kesempatan untuk menikmati suasana kota Amsterdam. Bertemu beberapa orang Indonesia yang memang banyak di sana, hingga jalan-jalan ke wilayah paling diminati di Amsterdam: Red Light Area!&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Akhirnya Pulang, Pulang, dan Pulang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pukul setengah lima sore waktu setempat, kami akhirnya meninggalkan Amsterdam. Ke Singapura? Seharusnya, tapi para meneer di KLM itu ‘berbaik hati’ dengan memberi kami jalan-jalan gratis untuk ke Singapura melalui Seoul, Korea Selatan. Di Seoul saya dan rombongan masih harus menunggu empat jam penerbangan ke Singapura. Saya jadi ingin tahu, apa yang ada di dalam kepala para meneer KLM itu, huh!&lt;br /&gt;Semua keterlambatan itu membuat saya harus kembali mengulur rasa rindu pada tanah air. Saya harus menginap satu malam lagi di Singapura karena tertinggal penerbangan terakhir ke Jakarta. Terimakasih untuk adidas Indonesia yang telah mengurus semua ini.&lt;br /&gt;Selasa, 12 Juni pagi akhirnya saya tiba juga di Indonesia dari jadwal seharusnya Minggu malam. Artinya telat dua hari. Uffhhh... slamet, slamet.[drb]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30584984-586105014425112014?l=kadupakhalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/feeds/586105014425112014/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30584984&amp;postID=586105014425112014' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/586105014425112014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/586105014425112014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/2007/07/dari-old-lady-hingga-negeri-kumpeni.html' title='Dari Old Lady Hingga Negeri Kumpeni'/><author><name>dr bagja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02929520382035450628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/Rpcu6OHW17I/AAAAAAAAAAU/xqvLOx5eq7E/s72-c/spain1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30584984.post-163029665287388689</id><published>2007-06-18T22:48:00.000-07:00</published><updated>2007-09-23T03:18:28.949-07:00</updated><title type='text'>Sampaikan Salam Saya</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/RndvFxJMpkI/AAAAAAAAAAM/Hkx_SuCld4w/s1600-h/gw2.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5077649249765467714" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/RndvFxJMpkI/AAAAAAAAAAM/Hkx_SuCld4w/s320/gw2.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Final Piala Carling 2007. Dua seteru kental di ajang Liga Inggris Arsenal vs Chelsea bertarung di stadion Millenium Cardiff. Atmosfir emosionil yang kental merebak, membuat tensi pertandingan antarkedua tim sangat tinggi. Kericuhan antarpemain dua klub Raksasa Inggris itupun tak bisa dihindari.&lt;br /&gt;Ketika beberapa pemain Arsenal dan Chelsea terlibat perang mulut dan nyaris baku hantam, tiba-tiba sosok tinggi kurus bermata tajam menerjang kerumunan. Entah apa yang akan dilakukannya, namun satu hal yang pasti, wasit mengganjar kartu merah pada pemain jangkung berambut gimbal itu.&lt;br /&gt;Ya, sosok itu bernama Emmanuel Adebayor. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sosok –yang sejak insiden di Piala Carling itu- memberikan gambaran dalam benak saya sebagi pemain beringas dan temperamental. Jujur saja, buat saya, dia bukan salah satu pemain yang harus saya kagumi karena tingkah lakunya di lapangan.&lt;br /&gt;Namun semua itu menjadi sirna ketika saya bertemu muka langsung dengan bintang kelahiran, Kodjoviakope, Togolese itu di ajang The Finale Predator vs F50, yang digelar Adidas awal Juni lalu, di La Manga, Spanyol. Adebayor ternyata sosok hangat yang ramah dan –satu hal penting- dia sangat menghargai orang lain.&lt;br /&gt;Usai sesi wawancara dengan para wartawan dari mancanegara, penyerang andalan Arsenal itu luput dari kejaran para kuli tinta lainnya. Dari kejauhan, saya melihat dia berjalan dengan seorang pengantarnya menuju kendaraan pulang.&lt;br /&gt;Sedikit berspekulasi saya mengejarnya: “Hai Emmanuel,” sapa saya ragu-ragu.&lt;br /&gt;Dia langsung balik badan dan berkata: “Hai, apa kabar?” jawabnya sambil mengulurkan tangannya. Ufffs…ini benar-benar kejutan buat saya. Seorang bintang setenar Adebayor mengulurkan tangannya lebih dulu pada saya.&lt;br /&gt;Di tengah kekagetan saya, tiba-tiba dia berkata: “Anda dari mana?”&lt;br /&gt;Saya kembali tergagap-gagap karena seharusnya saya yang melancarkan pertanyaan padanya. Namun setelah beberapa saat, saya mulai bisa menguasai keadaan.&lt;br /&gt;“Saya dari Indonesia. Apakah Anda pernah mendengar Indonesia?” kata saya.&lt;br /&gt;“Indonesia? Yeah yeah,” jawabnya sambil menganguk-anggukkan kepala. Saya tahu, dia hanya mencoba bersikap sopan untuk sekedar tidak mengatakan tidak.&lt;br /&gt;“Anda sangat popular di negeri saya. Banyak anak-anak kecil yang ingin seperti Anda.”&lt;br /&gt;“Wow terima kasih, sampaikan salam saya pada mereka,” katanya.&lt;br /&gt;“Bagaimana Anda bisa menjadi pemain dunia? Dan apa yang dilakukan para pemain Afrika lainnya untuk mencapai hal itu?” tanya saya.&lt;br /&gt;“Ya, semua orang memiliki keinginan itu. Kami harus bekerja keras untuk melakukannya. Dan saya yakin, banyak pemain muda di seluruh dunia melakukan hal yang sama. Namun yang terpenting adalah kesempatan. Anda jangan membuang kesempatan sekecil apapun yang bisa Anda gunakan,” jawabnya.&lt;br /&gt;“Apakah semua ini hanya masalah kesempatan?”&lt;br /&gt;“Oh tidak juga. Banyak pemain muda memiliki kesempatan, tapi mereka tidak bisa memanfaatkannya. Saya kira, para pemain Afrika saat ini, selain memiliki kekuatan fisik dan skill, mereka juga memiliki kekuatan mental yang bagus. Faktor mental itulah yang membuat kami bisa bersaing dengan pemain dunia lainnya,” katanya.&lt;br /&gt;Adebayor pun bercerita bagaimana sulitnya dia menembus kompetisi di Eropa hingga akhirnya dia menjadi bagian penting The Gunners saat ini. Kekuatan mental, menurutnya, sangat dibutuhkan untuk menghadapi persaingan, baik di tim maupun saat menghadapi lawan.“Anda harus memiliki mental yang benar-benar kuat. Persaingan di level ini sangat keras. Jadi Anda harus membiasakan diri dengan semua itu,” tambahnya.&lt;br /&gt;Di tengah keasyikan saya berbincang-bincang dengan kapten tim nasional Togo di Piala Dunia Jerman 2006 itu, pengantarnya memberi isyarat bahwa Adebayor harus segera pergi meninggalkan tempat itu. Saya pun buru-buru meminta waktu untuk pertanyaan terakhir.&lt;br /&gt;“Saya dengar Anda bermasalah dengan tim nasional Anda. Apakah Anda masih bersedia membela negeri Anda di Piala Afrika nanti?” tanya saya.&lt;br /&gt;Mimik muka Adebayor berubah serius, diapun berkata dengan sedikit tekanan dalam kalimatnya. “Saya orang Togo, lahir di Togo dan besar di Togo. Saya sangat bangga menjadi orang Togo. Mengapa saya tidak bersedia membela negeri saya. Tak ada alasan untuk menolak hal itu,” jawabnya tegas.&lt;br /&gt;Sang pengawal pun buru-buru menggiring Adebayor ke mobilnya. Sayapun mengulurkan tangan sambil berkata: “OK, terimakasih Emmanuel,” kata saya.&lt;br /&gt;“Ya, sama-sama,” kata dia sambil membalas uluran tangan saya dan tersenyum ramah.&lt;br /&gt;Ah, dia memang memiliki mental yang bagus untuk menjadi seorang bintang dunia. Andai dia lahir di Jakarta atau dimanapun di Indonesia ini. Setidaknya itulah angan saya. [drb] &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30584984-163029665287388689?l=kadupakhalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/feeds/163029665287388689/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30584984&amp;postID=163029665287388689' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/163029665287388689'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/163029665287388689'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/2007/06/sampaikan-salam-saya.html' title='Sampaikan Salam Saya'/><author><name>dr bagja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02929520382035450628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_aXG5-Mu5QVA/RndvFxJMpkI/AAAAAAAAAAM/Hkx_SuCld4w/s72-c/gw2.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30584984.post-115856951964829587</id><published>2006-09-18T01:50:00.000-07:00</published><updated>2007-09-21T00:53:01.739-07:00</updated><title type='text'>“aku rindu kopi susu buatanmu…”</title><content type='html'>Pagi ini kamu bangun begitu enggan. Tak seperti hari-hari biasanya, ketika kamu bangun pagi-pagi sekali, mengambil air wudhlu, membangunkan aku dengan usapan pelan, dan mengingatkan aku untuk selalu menjadi imam. Ketika aku dengan malas kembali ke tempat tidur dan menarik selimutku hingga sebatas leher untuk mengusir hawa dingin pagi yang menurutmu menyegarkan, kamu sudah mulai menyibukkan diri di dapur, menyiapkan sarapan untuk anak-anak kita, memasak air untuk menyeduh kopi susu kesukaanku dan tak lupa membuka semua jendela rumah untuk mempersilahkan semua kesegaran pagi bertamu di rumah kita.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini kamu bangun begitu enggan. Suara lemahmu membangunkan aku dengan perlahan. “Bangun sayang, subuh telah menjelang,” ucapmu lirih. Akupun bangun dengan keengganan seperti kemarin, kemarin dulu dan hari-hari sebelumnya. Kamu tetap berada di tempat tidur, dan sepertinya sulit untuk sekedar menggerakkan tubuhmu yang telah sembilan tahun aku gauli. Tapi kamu tetap memaksakan diri untuk bangkit dan berusaha duduk ajeg, seperti ingin menegaskan bahwa kamu baik-baik saja. Namun rasa sakit di bagian punggung kananmu yang menjalar hingga ke tulang belikat dan bagian perut, lebih berkuasa dari keinginanmu untuk berpura-pura melupakan kenyerian. Radang otot, begitu dokter tetangga kita memberikan diagnosa buatmu.&lt;br /&gt;“Jangan memaksakan diri sayang. Tidurlah, biar aku yang melakukan semua tugasmu hari ini,” ucapku dengan muka yang tidak meyakinkan, seakan berharap keajaiban segera datang dan aku terlepas dari semua kewajiban.&lt;br /&gt;“Tidak, jangan, biar aku saja,” jawabmu sambil berusaha bangkit sekuat tenaga. Tapi sekali lagi rasa sakit teramat sangat menyergapmu dan membuatmu kembali terhempas ke tempat tidur yang telah menjadi saksi keintiman kita selama ini.&lt;br /&gt;Kutatap mukamu lekat-lekat. Gurat-gurat kesakitan tampak jelas tergambar di wajahmu, wajah yang telah memberiku kebahagiaan, wajah yang telah memberi anak kita kedamaian, wajah yang telah membuatku merasa sempurna sebagai seorang suami. Bibirmu terkatup rapat dengan mata yang terpejam erat, segaris sungai kecil mengalir dari sudut kedua matamu, berkelok-kelok mengikuti bentuk wajahmu dan sedikit tersendat di tonjolan sempurna tulang pipimu yang senantiasa menggambarkan keanggunanmu.&lt;br /&gt;Kubelai rambutmu dengan perlahan, dan kubisikkan mantra hebat di telinga kananmu yang seketika menciptakan garis senyum di bibirmu yang masih terkatup rapat menahan nyeri. “Aku cinta padamu!”&lt;br /&gt;Kubiarkan kamu didekap selimut jingga kesukaanmu, dan kucoba melakukan apa yang selama ini kamu lakukan untukku dan anak-anakku. Omlet sosis, kentang goreng dan segelas cokelat susu hangat telah siap untuk si sulung sebelum pergi sekolah. Ufh…segelas kopi susu, ya segelas kopi susu tanpa ampas yang biasa menemaniku melahap lembaran koran pagi, menjadi satu-satunya tugasmu yang belum aku kerjakan. Namun keraguan mendekapku. Mulutku dan tenggorokanku tiba tiba berbisik lirih: “jangan memaksakan diri, aku pun belum tentu ingin meminumnya.” Namun tanganku tetap memaksa, “tak apa, aku bisa melakukan apa yang biasa dilakukan istrimu,” kata kedua tanganku berusaha meyakinkan aku. “Aku sudah terbiasa dengan kopi susu istrimu. Apakah kamu tidak ingat ketika kita minum kopi susu di kantormu, dengan serta merta aku meludahkannya. Karena aku hanya bisa meminum kopi susu buatan istrimu,” kata mulut dan tenggorokanku lagi.&lt;br /&gt;Sial, rupanya mulut dan tenggorakanku saja tidak percaya pada kedua tanganku. Aku pun mulai memberi isyarat kepada kedua tanganku untuk tidak memaksakan diri. Kutengok dirimu dari celah pintu dengan perlahan, kamu tertidur dengan suara nafas halus keluar dari kedua lubang hidungmu. “Oh sayangku, sembuhlah, aku rindu kopi susu buatanmu…” * drb&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30584984-115856951964829587?l=kadupakhalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/feeds/115856951964829587/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30584984&amp;postID=115856951964829587' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/115856951964829587'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/115856951964829587'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/2006/09/aku-rindu-kopi-susu-buatanmu.html' title='“aku rindu kopi susu buatanmu…”'/><author><name>dr bagja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02929520382035450628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30584984.post-115831320836180705</id><published>2006-09-15T02:32:00.000-07:00</published><updated>2007-09-21T00:51:03.878-07:00</updated><title type='text'>Just Writing!!!</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Just Writing!!!&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Sebagai seorang yang berkutat dengan bidang tulis menulis sejak 1996 lalu, saya termasuk orang yang agak (lebih tepatnya lagi, terlalu) malas untuk sekedar mencoretkan satu dua kalimat di blog ini, bahkan saya pun tak punya catatan harian manual sekalipun sejak dulu. Mungkin bagi sebagian orang ini hal yang aneh. Meminjam istilah anak-anak Extravaganza: “wartawan yang aneh”. Tapi bukankah dunia ini memang aneh?!&lt;br /&gt;Bicara soal aneh, keanehan demi keanehan bukanlah hal yang nisbi di dunia ini, tapi sebuah keniscayaan. Dunia…? Oh tidak, jangan dulu bicara dalam skala dunia, berapapun waktu yang Anda luangkan untuk mendaftar keanehan di dunia ini, takkan cukup untuk menginventarisir-nya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Well, mungkin lebih baik kita persempit bicara tentang keanehan di Indonesia saja. Ini juga mungkin masih terlalu luas, kita persempit lagi menjadi keanehan di Jakarta (kota yang saya tinggali dalam 10 tahun terakhir) saja. Masih terlalu luas, mari kita persempit dengan keanehan yang saya alami saja. Hmm…ini juga masih terlalu panjang, bayangkan saya harus mengurut berbagai kejadian aneh dari sejak saya mulai bisa mengingat hingga apa yang saya ingat hari ini. Oh…kalau begitu kita persempit lagi dengan hanya mengingat keanehan dalam setahun terakhir yang saya alami, an sicht!!! Tak ada lagi kompromi!!!&lt;br /&gt;Eit…nanti dulu, sederet pertanyaan kembali timbul. Apakah ada keanehan dalam setahun terakhir yang saya ingat? Kalaupun ada, apakah keanehan itu layak untuk ditulis di blog ini? Kalupun layak ditulis di blog ini, apakah itu akan membawa manfaat bagi orang yang membacanya? Kalaupun membawa manfaat bagi orang yang membacanya, apakah itu harus diberikan secara gratis? Kalupun harus diberikan secara gratis, apakah saya termasuk orang yang cukup mampu hingga memberi dengan cuma-cuma? Kalaupun saya memang dianggap cukup mampu hingga memberi dengan cuma-cuma, apakah ini tidak akan menimbulkan kecemburuan sosial? Kalaupun tidak akan menimbulkan kecemburuan sosial, apakah …(ah masa sih orang tidak akan cemburu, apa sudah sebegitu dewasanya pola pikir masyarakat di negeri ini?) Lho kok jadi ada bahasan baru, bicara tentang aneh dan keanehan saja belum selesai, ini malah ada lagi hal tentang kecemburuan…???&lt;br /&gt;Tapi apa sih cemburu (ini juga merupakan hal yang menggelitik bukan? Dalam konteks asmara (biasanya yang disebut cinta monyet –kenapa harus monyet? Wah ada persoalan lagi nih, coba kenapa harus monyet…? Ups..cukup dulu tentang monyet, mari kita bahas dulu tentang cemburu. Tapi beberapa bagian di otak saya masih tetap ngotot mempertanyakan: “mengapa harus monyet?” “Kita sudahi dulu soal monyet, kita bahas dulu tentang kecemburuan!” kata sebagian lagi elemen di otak saya. “Hey jangan sok pintar, soal aneh dan keanehan saja masih nanggung, belum selesai dibahas, kampret!!!!” teriak beberapa bagian lagi di sudut otak saya.&lt;br /&gt;Okeh surokeh…, mari kita peta-kan apa yang menjadi persoalan yang kadung saya angkat di tulisan ini. Masalahnya, beberapa bagian di otak saya yang biasanya kompak, kini mulai menyalurkan aspirasinya sendiri-sendiri sesuai kebutuhan dan kepentingan mereka tentunya. Huh, Demokratis!!! Ini gara-gara reformasi yang terlalu mendewakan demokrasi, hingga otak saya pun selalu menuntut untuk ber-demokrasi. Bahkan satu otak yang tinggal dalam batok kepala yang samapun tak bisa bersikap satu suara dengan dalih berlindung di kata D E M O K R A S I ! Kadang-kadang kata yang menjadi ajimat suci di zaman orde baru itu kini terdengar sangat memuakkan, ya… sangat memuakkan, sekali lagi…tulis itu gede-gede…M E M U A K K A N dengan tanda seru tiga biji ! ! !&lt;br /&gt;Sudahlah, inilah resiko, mari kita kembali ke persoalan awal, memetakkan faksi-faksi yang ada di otak saya.:&lt;br /&gt;Otak yang pro membahas aneh dan keanehan kita sebut faksi A&lt;br /&gt;Otak yang pro membahas cemburu kita sebut faksi B&lt;br /&gt;Otak yang pro membahas soal monyet kita sebut faksi C&lt;br /&gt;Karena faksi A merupakan faksi yang pertama melempar isu soal aneh dan keanehan, sepertinya mereka pantas untuk mendapat perhatian lebih awal, selanjutnya berdasarkan urutan baru kita membahas soal cemburu sesuai aspirasi faksi B, dan the last but not least (kuno banget ya) baru kita bicara bahasan yang diusung faksi C, tentang monyet.&lt;br /&gt;Oke, mari kita bicara tentang aneh dan keanehan… “Hey apa anehnya aneh dan keanehan? Bukankah dunia ini adalah kumpulan keanehan, kita bicara tentang cemburu saja,” faksi B mulai melancarkan interupsi. “Cemburu, ha ha ha itu hanya bagi orang-orang yang cengeng, sok melankolis, sok ber-asmara, sok imut deh, hari gini masih ngomongin cemburu ne……!” serobot faksi C. “Lantas, apa yang kau jagokan kalau bicara soal monyet, monyet lu…!” balas faksi B. “Ini semua terjadi karena sistem yang salah. Demokrasi tidak seperti ini, demokrasi tetap mengenal aturan, jadi saya kira ini merupakan kesalahan yang telah mengakar dari Anda sebagai pembuat kebijakan yang final. Masak mengatur hal seperti ini saja tidak mampu, huh…!” telunjuk faksi A tiba-tiba mengarah tepat ke dahi saya (jangan protes, anggap saja otak itu punya tangan, kaki, kepala yang lengkap seperti kita).&lt;br /&gt;Karena saya merasa disalahkan, dan secara tidak sadar faksi A mengingatkan saya sebagai satu-satunya pembuat kebijakan, pembuat keputusan dan pihak yang paling berkuasa dari semua faksi itu, jadi saya memutuskan….SAYA AKHIRI TULISAN SAYA SAMPAI DI SINI. SAYA TIDAK PEDULI JIKA SEMUANYA MENJADI SERBA TANGGUNG DAN MENGGANTUNG, SAYA TIDAK PEDULI SEMUA FAKSI MELANCARKAN PROTES TERHADAP SAYA. SEBAGAI MANUSIA, SAYA TIDAK BISA MENERIMA PENGHINAAN YANG DILAKUKAN KETIGA FAKSI DI OTAK SAYA ITU. Brakkkkk….., huh emang gue pikirin….* (drb)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30584984-115831320836180705?l=kadupakhalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/feeds/115831320836180705/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30584984&amp;postID=115831320836180705' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/115831320836180705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/115831320836180705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/2006/09/just-writing.html' title='Just Writing!!!'/><author><name>dr bagja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02929520382035450628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30584984.post-115199783556503996</id><published>2006-07-04T00:20:00.000-07:00</published><updated>2007-09-21T00:50:03.910-07:00</updated><title type='text'>Dua permata hidup gue</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5311/3283/1600/amoy.10.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5311/3283/320/amoy.10.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ini nyang pake baju amoy anak gue yang pertama, namanya Dara Yuri Andita. Umurnya Juni lalu 8 taun (lahir 5 Juni 1998), tapi udah mo naek kelas empat. Maklum, bokap n nyokapnya ngebet banget nyekolahin dia pas umur 5 taun (biar ngirit ceritanya). Tapi Alhamdulillah, si teteh (panggilan sayangnya) bisa ngikutin, nilai-nilainya juga bagus tuh...gak ada yang di bawah delapan, tau...ngikut siapa...ngikut tetangga kali....he he he.&lt;br /&gt;Nah yang jagoan ini namanya Badai Yudha Andita, lahir 4 Februari 2004. Nama panggialnnya Uday -tapi asal jangan keji kayak Uday anaknya wak Saddam Hussein ya day- abah n ambu doain Uday jadi anak pinter n sholeh, bandel dikit gak pa-pa lah, namanya juga anak cowok. Cuma hati-hati, tangan si Uday ini kebalikan dari tangan Raja Midas, apapun yang dia pegang, pasti rusak he he he, dasar si jalu..., tapi its okay lah, namanya juga jagoan.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dua bocah ini lah yang selalu menumbuhkan semangat dalam hidup gue. Mereka seperti tonik yang selalu memancing adrenalin untuk terus bergolak, dan gue punya cukup tenaga untuk menghajar kehidupan. Ayo beyantem bah...ciattttt...hiat...dezigh.....dezigh....(celoteh si Uday sambil naik di punggung gue yang masih diliputi kantuk berat, maklum malemnya abis DL coy). Tapi itulah pelajaran dari si Uday yang gue dapetin tiap pagi. Dia selalu mengingatkan, setiap hari adalah pertempuran bagi kami kaum lelaki. Seperti kata orang bijak, "Hidup bukanlah kemenangan tapi peperangan".&lt;br /&gt;Kalo si Teteh, ini anak cewek bangget dech..., dia sangat perasa, dia selalu ngomong dengan hati -gak kebayang ya anak seumur ini. Setiap dia telpon kalo gue lagi di kantor, pertama yang dia tanyakan..."Abah..udah makan blom?" Waduh...serrr...rasanya dunia ini milik gue dah. Tapi kita tak bisa terlalu banyak berharap, kalo dia lagi datang BT-nya, dia pun merajuk seperti anak-anak seumurnya. Cuma yang bikin gue pengen ikut nangis, kalo dia lagi BT, dia pasti masuk ke kamar dan terisak-isak sendiri. (duh...kok kayak sinetron si teh, nangis trereak aja napa, Abah n Ambu juga gak bakal marah kok, Teteh kan masih layak untuk menangis, lha orang-orang tua juga masih seneng nagis tereak-tereak kok.)&lt;br /&gt;Tapi yang jelas, tak ada apapun yang bisa menggantikan kebanggan sebagai seorang ayah. Bayangin aja, gue yang dulu paling rudet kalo ada anak-anak, kok bisa ya sayang bangget sekarang. Kalo gak ada mereka, duh gimana ya. Okay Teteh n Uday, abah n ambu selalu berdoa untuk kalian, semoga kalian bisa mengalahkan kehidupan. Amien.......&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30584984-115199783556503996?l=kadupakhalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/feeds/115199783556503996/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30584984&amp;postID=115199783556503996' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/115199783556503996'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/115199783556503996'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/2006/07/dua-permata-hidup-gue_04.html' title='Dua permata hidup gue'/><author><name>dr bagja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02929520382035450628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30584984.post-115192343816241769</id><published>2006-07-03T03:37:00.000-07:00</published><updated>2007-09-21T00:48:33.841-07:00</updated><title type='text'>Jerman vs Belanda : Kencan Kebencian</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5311/3283/1600/rijkaard-voller.0.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5311/3283/320/rijkaard-voller.0.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Suka atau tidak, sepakbola kerap melahirkan berbagai definisi. Filosofi tentang sepakbola pun terkadang jauh melewati hanya sebatas olahraga. Sepakbola bukanlah ruang kosong tanpa sekat yang hanya berisi sportivitas. Namun lebih dari itu, berbagai definisi bisa ditafsirkan sesuai selera masing-masing. Sah-sah saja jika ada yang menganggap sepakbola adalah agama baru, jutaan penganutnya menjadikan sepakbola sebagai falsafah hidup mereka. Sepakbola adalah ideologi, sepakbola adalah pembebasan dari segala keterkungkungan, sepakbola adalah seni seperti yang dianut para pemain Brasil. Sepakbola bisa jadi juga soal martabat bangsa seperti ketika Argentina harus berhadapan dengan Inggris. Namun bagi dua negeri bertetangga, Jerman dan Belanda, sepakbola berarti perang.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan kedua negeri bagaikan ‘kencan kebencian’. Begitu banyak nafsu, begitu banyak amarah, begitu banyak dendam yang meruap di sekelilingnya. Tak dipungkiri, pertemuan Jerman vs Belanda jadi salah satu partai terbesar di dunia. Perseteruan mereka sekelas dengan Brasil vs Argentina ataupun Argentina vs Inggris yang sarat dengan emosi dan melebar lebih luas dari hanya sekedar olahraga.&lt;br /&gt;Perseteruan di antara mereka seolah jadi warisan yang diturunkan dari generasi ke generasi. Tentu saja sebagai dua raksasa yang memiliki kultur sepakbola sangat kental, Jerman dan Belanda tidak khawatir perang di antara mereka akan segera usai. Tal satupun dari mereka telah mempersiapkan ‘bendera putih’, karena prajurit-prajurit muda terus lahir untuk tetap memelihara peperangan. Kedua negeri tak pernah kehabisan para pemain bertalenta dan berkelas dunia. Belanda melahirkan legenda sekelas Johan Cruyff, Johan Neeskens, Dennis Bergkamp, Ruud Gullit, Marco van Basten, Frank Rijkaard, Clarence Seedorf, Edgards Davids hingga Ruud Van Nistelrooy. Di Jerman kita mengenal Franz Beckenbauer, Karl Heinz Rummennige, Lothar Matthaus, Jurgen Klinsmann, Oliver Bierhoff, hingga Michael Ballack. Sejak era Cruyff dan Beckenbauer, hingga era termodern Nistelrooy dan Ballack, panji-panji peperangan selalu tegak berdiri. Reputasi, gengsi, dan prestasi jadi hal yang wajib dibela dan dipertahankan. Zonder tawar menawar lagi, hanya ada perang an sich!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uber Alles VS Total Football&lt;br /&gt;Piala Dunia tahun 1974 jadi momen paling bersejarah bagi Belanda dan Jerman. Bukan hanya pertemuan biasa, tapi ini jadi kali pertama keduanya berhadapan sejak berakhirnya Perang Dunia II. Dan, bukan juga pertandingan biasa, tapi keduanya berhadapan di final Piala Dunia yang menjadi representasi supremasi paling bergengsi di bumi ini. Tak berlebihan meski kedua negeri sempat bertemu sebelumnya, namun tahun 1974 adalah era yang ditandai dengan tinta emas, era yang jadi awal perseteruan panjang kedua negeri di lapangan hijau, era yang bermandikan keringat para prajurit perang lapangan hijau dalam membela gengsi masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jerman yang baru saja jadi kampiun Eropa dua tahun sebelumnya, memproklamirkan diri sebagai sang Uber Alles. Tim Panzer berangkat dengan kepercayaan diri penuh. Selain tampil sebagai tuan rumah, Jerman yang dikomandani sang kaisar, Franz Beckenbauer tengah mengusung ambisi, mengawinkan dua gelar sekaligus: Eropa dan dunia. Propaganda sebagai sang Uber Alles sangat pekat terasa. Di lain pihak, Belanda menyentak dunia dengan gaya Total Football-nya yang diperkenalkan Rinus Michels. Dengan materi tim berinti superstar Cruyff, Neeskens, Wim Jansen, Rob Rensenbrink, dan Van De Kerkhoff bersaudara, mereka menampilkan sistem bermain bola yang berbeda, atraktif, dan mengedepankan sisi penyerangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiprah Belanda sebenarnya sudah dimulai jauh hari sebelumnya. Meski di Piala Dunia 1930 yang digelar di Uruguay pasukan oranye absen – sama seperti yang dilakukan negeri-negeri Eropa pada umumnya - Belanda ambil bagian di Piala Dunia Italia 1934. Namun kiprah mereka di ajang paling bergengsi itu sangat pendek ketika terlempar di babak awal usai dikalahkan Swiss 3-2. Hal serupa dialami saat di Perancis 1938 ketika mereka juga harus pulang awal setelah dikalahkan Cekoslowakia 3-0. Usai Perang Dunia II, Belanda memilih tidak berpartisipasi di Piala Dunia 1950 dan 1954, sementara tahun 1958 hingga 1970, pasukan oranye seakan tidur panjang karena tak pernah lolos dari babak kualifikasi. Baru di tahun 1974, King Cruyff dan kawan-kawan jadi sorotan seantero jagat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sorotan dunia membuat Belanda sedikit arogan. Permainan Total Football yang diperagakan Cruyff dan kawan-kawan dengan apik, nyaris tidak memberi kesempatan bagi para pemain Jerman untuk menyentuh bola. Bahkan Belanda terlalu percaya diri ketika mereka mampu unggul di menit pertama lewat tendangan penalti Nesskens. Dengan sinis kapten Beckenbauer menghampiri wasit Inggris yang memimpin pertandingan saat itu, Jack Taylor. “Tak perlu disangsikan lagi, kamu adalah orang Inggris…” Namun stadion Munich pun akhirnya bisa berpesta ketika Jerman berhasil menyamakan kedudukan juga melalui titik penalti yang dilakukan Paul Breitner sebelum akhirnya Gerd Muller memastikan kemenangan The Panzer hanya satu menit menjelang jeda. Setelah itu, semuanya seperti serba salah bagi tim Belanda. “Ketika kami mendapatkan hadiah penalti, itu pasti benar-benar penalti. Sebelum pertandingan kami melihat mereka sepertinya penuh dengan kebencian dan sangat meremehkan. Sepertinya mereka berkata: ‘Hey, berapa gol yang ingin kami sarangkan ke gawangmu.’ Aku mencoba melihat mata mereka, tapi tidak pernah bisa, sepertinya kami sangat kecil di mata mereka,” tambah penyerang Jerman Bernd Holzenbein.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Inilah contoh sempurna dari kesombongan Belanda. Kami terlalu fokus untuk mempermalukan Jerman…seharusnya kamu tidak pernah berpikir bisa mengalahkan mereka,” papar Johnny Rep, penyerang Belanda kala itu.&lt;br /&gt;Pertemuan saat itu memang sarat dengan emosi. Para pemain Belanda tidak hanya bertujuan untuk mengalahkan Jerman, tapi juga mengandaskan kejumawaan mereka di kandanganya sendiri berkaitan dengan kiprah Jerman di Perang Dunia II. Ini berkaitan erat dengan dendam para pemain Belanda yang benar-benar membenci orang Jerman. “Aku tidak berpikir kemenangan 1-0 cukup bagiku, kami hanya ingin menghancurkan mereka. Aku tidak suka dengan mereka. Ini karena Perang Dunia II. Mereka membunuh 80% keluargaku. Ayahku, saudara perempuanku, dua saudara laki-lakiku. Setiap kali aku bertemu Jerman, aku merasa marah,” sembur gelandang Belanda Wim van Hanegem kala itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebencian Merebak&lt;br /&gt;Sejak saat itu, pers pun ikut memanasi perseteruan dua raksasa sepakbola Eropa tersebut. Pertemuan selanjutnya di putaran pertama Piala Dunia Argentina 1978, Jerman vs Belanda hanya berakhir 2-2. Namun suasana panas tak terhindarkan. Insiden yang terjadi saat itu ketika pemain belakang Belanda Ruud Krol mengganjal dengan keras Dieter Muller. “Tekanan yang ada sangat luar biasa. Pers terlalu membesar-besarkan kami sebagai musuh bebuyutan. Padahal kami tahu, kami semua siap dan sangat menunggu pertemuan ini. Kami tetap berusaha fokus. Aku pikir ini sangat memalukan mereka mencampuradukkan sepakbola dengan apa yang telah mereka alami di Perang Dunia II,” papar Rummenniege.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua seteru kembali bertemu di ajang Piala Eropa 1980. Di sinilah kebencian para pemain Belanda semakin merebak dan menemukan sasarannya. Pertandingan tidak lagi sekedar sepakbola. Pertandingan yang dimenangkan Jerman 3-2 melalui hattrick Klaus Allofs itu, jadi sesuatu yang menyedihkan dalam sejarah sepakbola. Insiden saling pukul antara Toni Schumacher dan Huub Stevens serta Rene van de Kerkhof yang memukul mata Bernd Schuster hingga membiru, mewarnai pertandingan. “Lawan di hadapanku tidak pernah berhenti menendangku dan meludahiku. Dia selalu memanggilku bangsat!” aku penyerang Jerman, Horst Hrubesh. Sementara gelandang Jerman, Karl Heinz Forster mengaku, “Van de Kerkhof memanggilku ‘babi’. Sebelum pertandingan kami tahu, ini akan menjadi penuh tekanan. Tapi kami berusaha untuk menang, karena kemenangan sangat penting untuk tetap membuat kami bangga. Buat mereka, mengalahkannya adalah hal yang terbaik. Mereka sangat membenci melebihi kami.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di semifinal Piala Eropa 1988, Belanda berhasil membalas dendam ketika mengandaskan Panzer 1-2 dalam pertandingan yang digelar di Hamburg. Dua gol Belanda dicetak masing-masing oleh Ronald Koeman dari tik penalti serta Marco van Basten. Sebelumnya tuan rumah sempat unggul lebih dulu melalui tendangan penalti Lothar Matthaus. Seperti pertemuan sebelumnya, pertandingan ini pun sarat dengan emosi dan sangat ekstrim. Masing-masing tim mendapat hadiah penalti sebelum akhirnya Van Basten mengandaskan Jerman hanya satu menit sebelum pertandingan usai. Kemenangan inipun dirayakan besar-besaran penduduk negeri Belanda. Hampir seluruh penduduk negeri kincir angin itu turun ke jalan dan pesta ada di mana-mana. Pesta spontan ini disebut-sebut yang terbesar di Belanda sejak pesta kebebasan Allies di tahun 1954. Pesta kemenangan itupun dinodai tindakan Ronald Koeman usai pertandingan, ketika setelah bertukar kaus dengan gelandang Jerman Olaf Thon, dia membersihkan bagian pantatnya dengan kaus itu di hadapan sekitar 60 ribu pendukung Jerman dan kamera TV yang menyorotnya. Tak ada satupun orang Jerman yang bisa melupakan tindakan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tahun 1988 tidak bisa menghapus kenangan kami tentang 1974,” papar Koeman. Sakit hati kami masih membekas. Sebelum pertandingan, Rinus Michels yang menjadi pelatih pada tahun 1974 mengatakan kepada kami, kekalahan mereka harus memotivasi kami. Aku mengerti apa yang aku lakukan setelah pertandingan, itu hanya tindakan impulsif, tindakan bodoh yang akan kau sesali. Tapi untukku, hal itu telah kulupakan. Aku juga tak pernah bertemu lagi dengan Thon setelah pertandingan itu, aku tidak pernah punya kesempatan untuk meminta maaf.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Thon sendiri tampaknya berusaha dengan bijak melihat insiden itu. “Aku tidak akan mengatakan itu menyakitkan, tapi tensi di antara kedua tim memang sangat panas. Aku tidak pernah melupakan insiden Koeman ketika dia memprovokasi para pendukung kami. Aku tidak pernah bermasalah dengan dia. Aku pikir dia merasa menyesal sekarang. Bagiku, hal itu juga sudah ditutup. Insiden semacam itu bisa saja terjadi ketika kamu diliputi emosi, seperti ketika Belanda mengalahkan kami. Aku memaafkan Koeman, meski dia tidak pernah meminta maaf secara resmi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar semua itu, kemenangan di 1988 benar-benar jadi penuntasan dendam bagi para Hollanders. Penjaga gawang Belanda, Hans van Breukelen mengatakan, kemenangan itu dipersembahkan bagai generasi sebelumnya yang merasakan kepahitan di tahun 1974. “Aku gembira bisa memberi sesuatu pada generasi yang lebih tua.” Hal serupa diungkapkan bintang Belanda Ruud Gullit. “Kami membuat generasi sebelum kami senang, mereka terlihat emosional, menangis. Aku tidak pernah menduga hal ini akan sepenting itu bagi mereka.” Para pendukung Belanda pun membentangkan banner untuk menyambut para turis Jerman yang bertuliskan: “Anda sekarang memasuki negeri juara Eropa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerusuhan antarsupporter nyaris terjadi ketika Jerman sempat unggul lebih dulu melalui gol Karl Heinz Riedle dalam pertandingan babak kualifikasi Piala Dunia yang digelar di Rotterdam Belanda tahun 1989. Para pendukung Jerman yang berada di jalan-jalan nyaris terancam. Terima kasih kepada Marco van Basten yang mampu menyamakan kedudukan melalui titik penalti, hanya tiga menit sebelum petandingan usai. Hal itu cukup untuk meredakan kemarahan para pendukung tuan rumah yang nyaris membuncah. Sedangkan dalam petandingan sebelumnya yang digelar di Jerman, keduanya hanya bermain imbang 0-0 dan pertandingan nyaris membosankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tensi kembali memanas di Piala Dunia Italia 1990. Pertandingan putaran dua yang dimenangkan Jerman 2-1, jadi pertandingan memalukan yang dicatat sejarah. Suasana sebelum pertandingan sudah memanas ketika pendukung kedua tim saling meneriakkan yel-yel masing-masing. Pertandingan pun berjalan sangat panas, di menit pertama, Adri van Tiggelen sudah melukai Pierre Littbarski. Puncaknya, Rudi Voller harus mencium tanah setelah berduel dengan Frank Rijkaard yang membuat pemain kriwil itu diganjar kartu kuning. Rijkaard yang terlihat marah meludahi rambut Voller. Voller pun menunjukkan hal itu kepada wasit dan Rijkaard malah menarik rambut Voller. Ketika pertandingan dilanjutkan, penyerang Jerman itu kembali memprovokasi kiper van Breukelen, Rijkaard kembali bereaksi menarik telinga Voller dan meludah, kali ini sambil memukul leher penyerang Jerman itu. Keduanya nyaris terlibat baku pukul sebelum akhirnya wasit mengusir dua bintang papan atas itu. Insiden terus berlanjut. Ketika keduanya menuju kamar ganti, Rijkaard kembali meludahi Voller dan mencekik lehernya. Menurut media, keduanya sempat terlibat adu pukul. Namun Jerman tetap bisa tertawa dengan kemenangan itu, hanya saja usai insiden itu Voller dihukum untuk satu pertandingan dan Rijkaard untuk tiga kali pertandingan. Sunguh memalukan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu sepenuhnya kesalahanku dan tak bisa dibenarkan. Aku selalu menghormati Rudi Voller. Tapi aku menjadi emosi ketika mendapat kartu merah. Aku telah berbicara dengan dia setelah pertandingan dan meminta maaf. Aku gembira dia memaafkan aku. Aku tidak membencinya sekarang. Kami pun selalu berpose yang lucu bersama di depan kamera setelah insiden itu,” aku Rijkaard.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Voller mengatakan, “Setiap orang pasti ingin membela mati-matian timnya, tapi perlakukan itu tidak bisa diterima. Untung saja aku tidak pernah lagi mendengar insiden itu kembali diungkit-ungkit. Aku berteman dengan Frank sekarang, meskipun itu sedikit membutuhkan waktu… Kami sama-sama bermain di Liga Italia dan kami tidak pernah memiliki masalah. Kami sebenarnya selalu bersahabat dengan lawan-lawan kami. Kami membicarakan tentang insiden itu setelahnya. Frank berkata padaku, dia sedang menghadapi masalah besar saat itu, dia tengah menghadapi perceraian, dia tidak jadi Frank Rijkaard seperti biasanya. Saat ini aku bisa katakan, dia orang yang luar biasa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peperangan Prajurit Muda&lt;br /&gt;Perseteruan memasuki era modern. Tak ada lagi Rudi Voller tak ada lagi Frank Rijkaard, semuanya telah tergantikan dengan talenta-talenta yang terus mengalir seakan tiada henti dari kedua negeri. Memasuki persaingan Piala Dunia 2006 yang kembali digelar di Jerman, peperangan menjadi milik para prajurit muda yang mencoba meneruskan tradisi perseteruan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika merunut sejarah panjang ke belakang, Jerman memang masih layak untuk memproklamirkan sebagai sang Uber Alles. Rekor yang ditorehkan tim Panzer tersebut adalah tiga kali menjadi juara Eropa [1972, 1980, 1996] dan tiga kali menjadi juara Dunia [1954, 1974, 1990]. Sementara Belanda, dengan segala kebesarannya, hanya sekali juara di turnamen besar, yaitu Piala Eropa 1988. Hal inilah yang membuat pasukan oranye ini kerap disebut, tim terbaik di dunia yang tak pernah juara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja di bawah kendali pelatih debutan Jurgen Klinsmann, Jerman yang selalu dilabeli tim spesialisasi turnamen besar, tampaknya harus meniti tangga terjal untuk sekedar mendapat kepercayaan publiknya sendiri. Performa tim yang dianggap tidak mampu mengusung kebesaran Jerman, menjadi bahan kritikan yang tak henti-hentinya. Bahkan keberanian Klinsmann untuk menurunkan para pemain muda yang minim pengalaman pun jadi sorotan. Dari sederet nama yang jadi punggawa tim Jerman, hanya Michael Ballack yang disebut-sebut layak. Klinsmann pun dengan berani menggusur ikon persepakbolaan Jerman, kipper Oliver Kahn untuk digantikan Jens Lehmann. Hal yang terus jadi polemik di negeri Bavaria tersebut. So, apakah Jerman hanya akan berharap pada Ballack seorang. Sebenarnya Klinsmann memiliki talenta-talenta muda yang juga bisa diandalkan, seperti Miroslave Klose, Philips Lahm, Lukas Podolski yang kerap tampil atraktif dalam setiap penampilannya. Tapi kalau mau jujur, memang baru Ballack yang bisa membuat para pendukungnya nyaman untuk menikmati pertandingan tanpa rasa cemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal serupa juga dialami Belanda. Para pemain muda jadi andalan Marco Van Basten yang juga jadi pelatih debutan di timnas oranye. Van Basten dengan berani tidak mengindahkan nama-nama seperti Clarence Seedorf dan Edgard Davids yang kerap jadi pilihan utama para pendahulunya. Mantan bintang AC Milan tahun ‘80-an ini lebih suka membawa darah-darah segar yang diharapkan mampu menembus kebuntuan Belanda di Piala Dunia. Nama-nama seperti Dirk Kuijt, Hedwiges Maduro, Ryan Babel, plus para pemain yang mulai familiar seperti Arjen Robben, Wesley Sneijder, dan Rafael van der Vaart jadi punggawa inti Belanda. Namun dibanding Jerman, Van Basten masih memiliki dukungan para pemain senior berpengalaman seperti Ruud van Nistelrooy, Van der Sar, Phillip Cocu, atau Mark van Bommel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan lainnya, di bawah Van Basten Belanda mampu tampil impresif. Dalam setiap ajang uji coba dan babak kualifikasi tak sekalipun timnas Belanda mengalami kekalahan. Tim besutan Van Basten disebut-sebut mewarisi kejayaan tim Piala Eropa 1988. Namun memori 1974 pun jangan dilupakan, ketika saat itu Belanda memiliki segalanya tapi hancur di tangan tim Jerman yang jadi tuan rumah. Akankah sejarah 32 tahun berulang, ataukah Belanda mampu menuntaskan ambisinya kini? Mungkin hanya Nistelrooy dan Ballack yang akan menjawabnya jika kedua raksasa ini bertemu. Semoga. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BOX&lt;br /&gt;Sejarah Pertemuan Jerman vs Belanda Sejak Piala Dunia 1974&lt;br /&gt;Piala Dunia 1974&lt;br /&gt;Munich, Jerman Barat [final]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jerman Barat vs Belanda [2-1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gol Belanda: Johan Neeskens [penalti] 1’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gol Jerman: Paul Breitner [penalti] 26’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerd Muller 44’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Piala Dunia 1978&lt;br /&gt;Cordoba, Argentina [putaran pertama]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jerman Barat vs Belanda [2-2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gol Jerman: Rudi Abramczik 3’, Dieter Müller 70’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gol Belanda: Arie Haan 70’, René van de Kerkhof 84’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gol Jerman: Paul Breitner [penalti] ‘26&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerd Muller ‘44&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Piala Eropa 1980&lt;br /&gt;Napoli, Italia [putaran pertama]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jerman Barat vs Belanda [3-2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gol Jerman: Klaus Allofs 20’, 60’, 66’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gol Belanda: Willy van de Kerkhof 80’, 86’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Piala Eropa 1988&lt;br /&gt;Hamburg, Jerman Barat [semifinal]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jerman Barat vs Belanda [1-2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gol Jerman: Lothar Matthaus [penalti] 55’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gol Belanda: Ronald Koeman [penalti] 74’, Marco Van Basten 89’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualifikasi Piala Dunia 1988&lt;br /&gt;Munich, Jerman Barat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jerman Barat vs Belanda [0-0]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualifikasi Piala Dunia 1989&lt;br /&gt;Rotterdam, Belanda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belanda vs Jerman Barat [1-1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gol Jerman: Karl Heinz Riedle 68’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gol Belanda: Marco Van Basten [penalti] 87’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Piala Dunia 1990&lt;br /&gt;Milan, Italia [putaran kedua]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jerman Barat vs Belanda [2-1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gol Jerman: Jurgen Klinsmann 51’, Andreas Brehme 85’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gol Belanda: Ronald Koeman [penalti] 89’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kartu merah: Rudi Voller [Jerman] dan Frank Rijkaard [Belanda]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Piala Eropa 1992&lt;br /&gt;Goteborg, Swedia [putaran pertama]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belanda vs Jerman [3-1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gol Belanda: Frank Rijkaard 4’, Rob Witschge 15’, Dennis Bergkamp 72’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gol Jerman: Jurgen Klinsmann&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Piala Eropa 2004&lt;br /&gt;Porto, Portugal [penyisihan grup]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belanda vs Jerman [1-1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gol Jerman: Torsten Frings 30’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gol Belanda: Ruud Van Nistelrooy 81’&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30584984-115192343816241769?l=kadupakhalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/feeds/115192343816241769/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30584984&amp;postID=115192343816241769' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/115192343816241769'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30584984/posts/default/115192343816241769'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kadupakhalu.blogspot.com/2006/07/jerman-vs-belanda-kencan-kebencian.html' title='Jerman vs Belanda : Kencan Kebencian'/><author><name>dr bagja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02929520382035450628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
